Sabtu, 05 Maret 2016

karangan II



BIBIT DI RAHIM “MALANG”
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-Iman

Aku berdiri rapuh meletakkan telunjukku di kantung mata. Menghalangi air mata yang menetes berderai. Tangan kananku yang seputih susu domba yang diternakkan pamanku, membelai lembut kain yang menutup pusarku, ia pusarku yang kini membesar tak kusadari dari hari kehari.
Kini aku mengingat Tuhan, aku tidak membenci Tuhan karna memberiku takdir mengerikan ini, tapi aku membenci diriku dan kemalanganku. Saat aku berselimut lelaki yang menenangkanku setiap ia bertutur, juga lelaki yang menipuku dengan wajah manis serta ceramah menafiknya padaku, yang telah membuang mukaku dan berlayar meninggalkan kesedihanku bersama benihnya yang kubenci.
Mengapa perempuan yang hamil ? mengapa bukan lelaki, padahal kami merasakan perasan nyaman yang sama saat percumbuan. Tapi, dunia itu sepertinya bepihak kepada lelaki, perempuan harus menderita karna mereka yang hamil bukan lelaki. Aku juga ingin menjadi bejat, menikmati malam lalu menghilang.
Oh, aku lupa memperkenalkan namaku, namaku adalah “malang”. Aku terlahir dari dua orang petani sukses di sebuah desa kecil penghasil padi unggul. Kisah tragis ini beranjak saat aku berstatus mahasiswa disebuah perguruan tinggi keperawatan di kota Makassar.
Kota Makassar yang ramai, berisik dan macet inilah aku dipertemukan dengan sosok lelaki tegap dengan potongan rambut khas perwira. Aku mengenalnya lewat undangan pertemanan di akun kebanggaan kaum muda.
Kami mulai perkenalan,mulai saling terbuka, saling mengingatkan tentang perintah Tuhan yang membuatku kagum padanya. Namanya “Zalim”, dia adalah seorang perwira muda yang sangat tampan dan alim.
Percakapan di akun pada tanggal 17 0ktober 2014.
Zalim    : “assalamualaikum”
Malang  : “waalaikumsalam”
Zalim    : “apa kabar malang, apa kamu sudah sholat ?”
Malang  : “belum, aku sedang sibuk menulis askepku”
Zalim    : “sempatkanlah dulu untuk sholat”
Malang  : “iya Zalim, terima kasih”
Setiap kata yang dia ucapkan membuatku semakin kagum dari hari-kehari. Kami mulai sering menikmati lampu kota di jembatan layang. Entah sekedar menggosip merk mobil mewah atau membandingkan penderitaan anak kecil penjual Koran dengan deritaku sebagai anak kos.
Hingga hubungan kami diresmikan oleh sebuah café yang sepi pengunjung. Ia mulai mengutarakan perasaannya melalui sajak yang membuaiku dan membuatku tergeletak diruang khayal. Kata yang memang kutunggu untuk terucap dari bibir yang dihiasi rambut halus ditepi atasnya. Kata yang kutunggu dari sejak pertama aku mengenalnya akhirnya sekarang terucap dengan harum dihadapanku.
Siapa yang tidak tergoda oleh pangkat dan wajah tampan serta banyak lagi kelebihannya dibanding lelaki lain yang pernah kukenal. Malam berganti malam, minggu dan bulan berjalan lancar tak terhambat. Malam ini adalah malam yang menandai, hubungan kami telah berjalan setahun. Seperti malam, minggu dan bulan yang berlalu, kami beranjak keluar menikamti malam. Seperti biasa kami menghabiskan malam dengan bercanda di atas jembatan layang yang ramai dengan suara tarikan gas yang bervariasi dari para pemilik kendaraan.
Zalim    : “malang, jika kita berjodoh nanti ! aku ingin bisa berjalan-jalan menikmati suasana kota dengan mobil mewah keluaran terbaru seperti itu” (menunjuk mobil mungil yang harganya cocok untuk orang berkantong tebal)
Malang  : “ia salim, aku akan mengikut apa kemauanmu. Aku sangat mencintaimu Zalim, tolong tetaplah denganku, dan aku berharap kita berjodoh”
Zalim    : “malang, aku ini lelaki berkomitmen, aku takkan meninggalkanmu. Aku sudah bersumpah atas nama ketulusanku, aku akan menikahimu”
Malang  : “aku pegang janjimu itu Zalim, aku kan memberikan seluruh hidupku padamu, sebab aku cinta dan bertumpu pada ketulusan yang engkau katakan itu”
Zalim    : ”ia malang, aku berjanji sebelum roh ku berpamit kepada ragaku, takkan aku meninggalkanmu yang telah kusimpan terlalu rapi disini” (menunjuk bagian tubuh yang diidentikkan sebagai tempat tinggal perasaan manusia)

Detik, menit, jam bergantian ditunjuk oleh jarum jam di pergelangan tangan kananku. Kami tak sadar bahwa kota telah menjadi sepi, manusia sibuk itu telah kembali keperaduan mereka, menikmati dekapan malam dan selimut dikediaman mereka masing-masing. Kami tak beranjak, kami terbuai obrolan tak jelas bersama cahaya temaram tv besar disamping kami, yang dipajang untuk memamerkan iklan produk terkenal. Saat kami tersadar, aku terlupa bahwa aku telah pindah ke kosan yang aturannya lebih ketat, sehingga aku tak bisa lagi masuk jika terlamabat pulang, akhirnya salim menawariku untuk menginap di kediamannya malam itu.
Dikediaman zalim yang terletak disebuah perumahan ramai penduduk, aku merasa sungkan, malu dan takut untuk menggerakkan kaki kananku masuk dari pintu kayu yang berukiran khas jepara, nampak dari luar barang-barang dan perabot mewah menghiasi rumah itu. Iya, ini kali pertama aku datang kerumah zalim. Setelah masuk aku disuguhkan minuman dingin dari lemari es milik zalim. Dan aku terkejut saat ia menjelaskan bahwa ayahnya yang sedang ada tugas keluar kota. Sehingga isi rumah itu kali ini hanya kami berdua.
Buaian malam, menggodaku, membisikku, mencoba meneggelamkanku dalam fikiran yang carut marut. Zalim mulai mendekatiku seolah imannya kini hilang dikepalanya. “Apa yang kan terjadi tuhan, aku sangat takut” zalim mulai menggenggam tanganku, meski kuingatkan ia teruz saja tidak perduli, akhirnya aku teriak dan mengagetkan zalim. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, dentingan jam di dinding pun hanya bisa berbisik dan gemetar merasakan cekaman suasana akibat teriakanku. Tiba-tiba zalim berkata.
Zalim    : “maafkan aku malang, aku khilaf”
Malang  : “maaf zalim, aku bukan tidak mencintaimu, aku akan memberikan semua ini saat waktunya telah tepat, tapi bukan sekarang, aku datang terlalu jauh dan membawah harapan orang tuaku. Aku tidak ingin mengahancurkan hati mereka. Aku mohon mengerti aku”
Zalim    : “ia malang, sekali lagi maafkan aku. Aku takkan mengulang tindakan khilafku malam ini”
Malang  : “ia zalim, nampaknya lebih baik aku tidak bermalam disini malam ini, tolong antarkan aku kerumah paman aku”
Zalim    : “tapi ini sudah terlalu larut malang, bermalamlah dulu disini, aku janji takkan melakukan hal yang tak baik padamu”
Malang  : “tidak zalim, lebih baik kau antarkan aku kerumah pamanku. Tempatnya tidak jauh dari sini”
Zalim    : “baik malang, aku ambilkan kamu jaket dan helm dulu, aku takut engkau kedinginan dan masuk angin”
Malang  : “ia zalim, terima kasih”
Aku masih termangu dan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan hampir terjadi, saat motor zalim melaju membelah kesunyian kota tengah malam itu. Aku tau zalim kecewa, aku tau ia tak terima tapi aku tau rasa cintanya lebih besar dan meluluhkan nafsunya yang sempat bergejolak tadi. Terima kasih zalim, telah menjadi pendamping yang didambakan semua wanita, yang menjaga bukan menjagal keperawanan.
Sesampai di rumah pamanku, dengan sedikt ragu bercampur cemas tentang jawaban apa yang harus kuberi jika pamanku bertanya tentang lelaki yang membawaku, dan kemana aku telah dibawa lelaki itu tadi. Dengan jariku yang mungil mulus dan putih ini kuketuk pintu rumah pamanku. Beberapa detik terdengar langkah kaki cepat mendekati pintu dari dalam. Suara ringkik pintu rumah yang terbuka membuatku sedikit bergetar.
Paman  : “malang ? kok kamu datang malam begini, kamu dari mana ? siapa lelaki yang bersamamu itu ?
Semua pertanyaan yang kutakutkan akhirnya benar terucap, dan aku telah siap dengan jawaban palsuku.
Malang  : “ini zalim paman, dia teman kampusku. Tadi kami kerja tugas bersama dirumah nina (nama teman kampusku) tapi karna kemalaman, kos ku yang baru aturannya ketat sekali paman jadi saya tidak bisa masuk, jadi aku meminta tolong kepada zalim agar mengantarku kerumah paman”
Paman  : “emm, kalau begitu masuklah, menginaplah disini dulu malam ini”.
Malang  : “iya paman, terima kasih”
Zalim    : “kalau begitu saya pamit dulu om”
Paman dan malang        : “iya hati2”

Zalim pun mulai menjauh yang Nampak hanya punggung dan plat motor zalim yang masih berwarna putih. Aku dan pamankupun masuk ke dalam rumah. Rumah yang cukup luas dan besar. Pamanku yang seorang kapten kapal kebetulan sedang tidak berlayar. Aku disuruhnya tidur dikamar tamu yang letaknya di bagian depan rumah itu. Namun nampaknya rumah ini sangat sepi.
Malang  : “tante anita mana om ?” (tante anita adalah istri paman budi, iya nama pamanku adalah abdul budi santoso)
Paman  : “tantemu itu sedang pergi kerumah keponakannya yang ingin menikah, om sudah ditinggal hampir seminggu. Maklum itu keponakan kesayangannya yang menikah”
Malang  : “ohh iya paman, aku tidur dulu. Aku lelah sudah kerja tugas seharian”
Paman  : “ia pergila tidur”

Aku mulai memejamkan mataku, rasanya sulit untuk menghilangkan fikiran tentang apa yang terjadi dirumah zalim tadi. Setengah jam berlalu aku masih terjaga oleh malam yang syahdu. Aku gelisah, aku berputar seperti belut diatas ranjang itu, kusut sudah seprei ranjang itu kubuat. Tiba-tiba sunyi, tiba-tiba tenang. Aku rasa ada langkah kaki yang mendekati kamarku. Sedikit menahan nafas untuk memperjelas apa yang kudengar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lembut hampir tak bersuara. Sosok tinggih tegap tiba-tiba muncul dari sana. Lalu kunyalakan lampu tidur dikamar itu. Rupanya pamanku.
Malang  : “ada apa paman ? mengapa paman masuk kesini ?”
Paman  : “aku tak bisa tidur malang, aku kefikiran tantemu teruz, ia sudah meninggalkan om hampir seminggu, padahal paman baru pulang dari berlayar”.
Malang  : “telfon saja paman”
Paman  : “sudah, tapi katanya dua hari lagi baru pulang. Malang mau tidak tidur dengan paman malam ini. paman kesepian”
Tiba-tiba paman mendekatiku dengan cepat, memegang tanganku. Aku yang cemas dengan fikiran tentang zalim kini menjadi lebih kacau dengan tindakan tiba-tiba pamanku. Aku ingin berteriak tapi pamanku semakin menggila ia mencekik leherku dan berkata ingin membunuhku jika tak mengikuti perintahnya. Ia bukan zalim, ia tidak menyayangiku, ia bukan orang yang perduli dengan masa depanku. Kini waktu telah membunuhku, aku rasa menyesal telah meninggalkan zalim. Aku merasa hancur tidak berbentuk. Mengapa kemalangan ini menimpaku, mengapa orang tuaku memberiku nama malang ? aku mulai bingung aku mulai hancur detik demi detik. Pamanku yang kusangka akan menjagaku malam ini justru merusakkan harapan hidupku. Kehilangan keperawanan seperti kehilangan nyawa. Mengapa aku, mengapa aku ? pertanyaan itu yang teruz becumbu difikiranku.
Bejat betul kehidupan, lelaki yang sering meceramahiku tentang ganasnya kota besar justru yang menghancurkanku. aKu mengingat ibuku, ayahku, adikku yang telah kehancurkan harapannya, lebih tepatnya dihancurkan oleh pamanku yang bejat. Ia mengancam akan membunuhku jika memberitahukan kejadian malam itu.
Waktu berlalu, malam demi malam kuhabiskan dengan derain air mata. Sebulan lebih waktu kuhabiskan meratapi kehancuranku, aku tak pernah menemui zalim semenjak itu. Ia mengira aku marah sebab perlakuannya malam itu, tapi sebenarnya aku takut memberitahukannya tentang kemalanganku ini. Zalim kekasihku andai engkau tahu betapa aku mencintaimu. Kini pamanku yang mancabik hidupku itu telah pindah kenegeri seberang ia berlayar bersama keluarganya. Meninggalkan aku yang terpuruk. Aku baru menyadari bahwa aku belum kedatangan tamu semenjak malam itu dan ini sudah lewat dari jadwal semestinya. Tak berani aku ceritakn kepada teman, kepada zalim terlebih kepada orang tua dan saudaraku. Rasanya ingin aku cabut nyawaku dan mengubur badanku bersama benih yang kubenci ini.
Dua bulan sudah aku menutup diri, bersembunyi dari keramaian. Mencoba mencari alternative membunuh benih dari pria sialan ini. akhirnya, Aku memberanikan diri untuk menemui zalim, kami bertemu dijembatan layang pada malam kamis 25 desember 2014. Dengan sedikit gugup mulai kuceritakan satu demi satu kepedihanku, kedukaanku, kehancuran yang tidak kukehendaki. Jelas zalim marah, dan ia serasa ingin membunuh pamanku, ia tidak menyalahkanku, ia tidak mencaciku, ia mencoba mengerti aku. Aku merasa dia seperti malaikat yang sangat tangguh terhadap perasaanya. Aku tau ia marah, aku tau ia kecewa, tapi entah mengapa ia ingin menerimaku. Ia ingin meminangku. Ia ingin mengakui benih ini sebagai benihnya, entah itu cinta atau logika terbalik atau kebodohannya. Pertanyaan yang muncul diakal ku bertubi-tubi membuatku semakin sulit untuk bernafas dan menentukan arah.
Percakapan malam itu membuatku berfikir keras, memunculkan harapan baru untukku. Akupun menyetujui keinginan zalim, dan orang tuaku yang tidak pernah tau tentang kemalanganku siap menerima zalim sebagai pendamping hidupku hingga masa tua datang mengeriputkan wajahku.
Seminggu sebelum pernikahan, zalim berangkat untuk mengecek lokasi pernikahan kami, yang rencana akan kami adakan di sebuah hotel. Namun, mungkin namaku dan nasibku memang sesuai salim tertikam dan mati ditempat saat mencoba untuk menyelamatkan seorang ibu yang kecopeetan didepan bank. Zalim yang seorang perwira berusaha untuk menolong namun kemalangan justru menimpanya. Aku terpukul, aku tertusuk masuk kedalam tanah, rasanya jantungku remuk. Aku berteriak mendengar kabar buruk itu. Suaraku menggema, menggetarkan seisi rumah. Mama dimana Tuhan ? mamah apa tuhan benci padaku ? apa aku sehina ini apa aku senista ini. Aku tahu lelaki baik untuk wanita yang baik. Tapi ini bukan inginku maaaaa.
Mama    : “apa yang kau bicarakan malang, nyebut ini semua cobaan”
Malang  : “aku tak sanggup lagi dicoba ma, aku tak sanggup” (sambil berlari aku mengambil sebilah bambu yang harusnya digunakan untuk menghiasi pesta pernikahanku dengan zalim, dan menikam perutku tiga kali yang memancarkan dara yang sangat banyak, kemudian menahan nafasku berharap tuhan segera mengambil nyawaku)
Aku tidak sedang berusaha untuk membuat kisah cinta seromantis romeo dan Juliet, aku hanya tidak sanggup menghadapi dunia yang jahat padaku.
“TAMAT”

3 komentar: