Minggu, 27 Maret 2016

KARANGAN IV



TERPASUNG RINDU YANG SAMA”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Dalam pesembunyian aku coba bercerita pada angin tentang reruntuhan kisah pertemuanku dengan Tilka, cinta yang kuartikan sempit, bahwa cinta hanya arogansi kebersamaan. Teori tentang kebahagiaan adalah kebersaaam disetiap waktu . namun, itu tak dapat kurasa.
Tilka dan aku menjalin hubungan jarak jauh, hingga kami terpasung pada rindu yang sama. Aku yang seorang mahasiswa, mencintai gadis belia berusia 18 tahun. Aku sedang berkendara diatas roda dua . terhempas deras angina perjalanan, mencoba mengingat dan mencerna dalamnya cinta dan perjuangan jarak. Aku memutar gas motorku dengan penuh semangat rindu kepada kekasihku yang tak kutemui sudah beberapa bulan. Rinduku menggunung dan baru bisa terlampiaskan saat libur semester.
Laju terlalu laju kendaraan ini, menerbangkanku keruang khayal yang bervariasi, pada yang logis dan tidak logis, pada yang bermoral dan tidak bermoral.
Selama 2 tahun, kami sering melampiaskan kerinduan kami pada sinyal kerinduan yang melayang di udara. Percakapan candaan yang menumpuk kerinduan,dan mengunyah kehampaan jiwa. Kadang rasa cemburu muncul kepada kawan bahkan saudara tak sekandungan Tilka. Mungkin karna ikatan batin yang membuat kami tetap bertahan dan mencoba mempercayai keteguhan cinta yang telah kami rakit dan bangun bersama.
Hari ini, rinduku menggebu kembali. Sampai di rumah, penat dan letihku tak kuperduli. Aku hanya memberi salam dan melempar tasku ke dalam rumah. Kemudian kutarik gas motorku menyusuri jalan basah setelah hujan. Aku rindu, iya aku sangat rindu dengan Tilka yang mencintaiku. Kecantikan dan keluguannya membuatku berfikir bahwa dia adalah persembahan terbaik Tuhan untukku. Lentik jemari, aroma badan , gigi putih dan bulu mata. Ia, bulu mata yang selalu kurindukan.
Akumenjemput Tilka di sekolahnya. Bukan di rumahnya, aku belum memiliki keberanian untuk berkenalan dengan orang tuanya. Senyum itu, menyambutku dengan mesrah. Menenangkan letihku, mengalihkan nestapaku menjadi senyum bahagia. Letih hanya ilusi saat bersama dengannya. Tak sanggup kutahan rasa yang tak bisa kuabaikan ini. Ingin kupeluk, namun terlalu ramai manusia menatapku.
Perlahan aku membonceng Tilka berkeliling sebelum kuantarkan ia pulang kerumahnya. Berbeda ketika aku berkendara sendiri, rasanya aku tak ingin sampai pada tujuan. Terlalu mesrah waktu itu, terlalu indah hingga kalian akan jatuh cinta pada waktu yang berhenti.
          “berapa lama kak hafiz disini ?”
          “mungkin dua minggu, kita punya cukup waktu untuk sering bertemu”
“tidak bisa, aku takut dengan orang tuaku. Masa libur seperti ini, aku kekurangan alasan untuk keluar dan bertemu”
“kekurangan bukan berarti tak ada kan ?”
Jangan alihkan keindahan ini padaku Tuhan. Aku benar-benar mencintainya. Di akhir mingguku bersama tilka. Aku melepasnya dengan kecupan mesrah di kening, pipi dan bibirnya. Mesrah dan seperti tak ingin kuhentikan kecupan ini. Namun kami harus menerima kenyataan berpisah sementara ini. Aku bergerak menjauh meninggalkan jarak menyisahkan rindu. Sedih dan bahagia terangkai satu di dalam hati.
Kembali pada kenyataan, bercinta melalui jaringan seluler. Aku melestarikan rindu yang kutanam di dalam hatiku. Sebelum datang Hilmi dalam kehidupanku. Dia sosok yang kukagumi karna kepintarannya di kelas. Aku kagum dari setiap pemikirannya. Inilah yang terberat dari long distance relationship. Aku berusaha tak beranjak pada kedalam cinta, tapi perlahan aku terangkat kepermukaan.
Komunikasiku dengan Tilka kini menjadi tak karuan, kami lebih sering bertikai dari pada bercinta. Mungkin karna aku selalu membandingkan kelebihan Hilmi dengan kekurangan Tilka, tanpa membandingkan kelebihan Tilka dengan kekurangan Hilmi. Aku merasa tidak adil, tapi aku sendiri bingung dengan perasaanku.
Kucoba bercerita kepada Hilmi tentang rahasia kekagumanku padanya. Ia tersenyumseolah aku sedang bercanda. Dia tidak menanggapi serius. Tapi aku yakin dia memikirkan ucapanku, terbukti ketika dia mulai ingin berbasa basi dengnku.tidak seperti dulu, kami hanya mengobrol tentang kuliah dan hal-hal membosankan lainnya. Aku berusaha jujur dan mengatakan bahwa aku memiliki kekasih tetapi aku juga mengaguminya.
Ia tak menjawabku hari itu. 3 hari aku didiamkan bagai orang asing di kelas. Ingin kusapa, aku ragu dia akan merespon. Hingga saat makan setelah kuliah siang yang terik, aku duduk dengan kawan akrabku, membincangkan erotisme kota besar. Hilmi menghampiri lalu mengajakku berbicara bedua. Setelah terduduk, taka da yang memulai pembicaraan. Terasa kaku aku dan dia. Pergelangan tanganku kuletakkan diatas bangku tanpa begerak.
          “cinta itu butuh perjuangan hafiz, cinta juga butuh pengorbanan”
          “maksudnya ?”
“jujur aku juga mengagumimu dalam diam, tapi aku tidak ingin merusak hubunganmu. Tapi jika kau memang serius padaku ? tinggalkan dia dan datang padaku”. (kemudian Hilmi berlalu)
Aku berfikir dan mengumpulkan dari teman. Fikiranku berkecamuk, bodohnya aku. Cintaku kepada Tilka begitu besar, tetapi kekagumanku dan rasa inginku untuk memiliki Hilmi juga tidak dapat kubendung. Hingga kuputuskan untuk berbohong, kukatakan dengan yakin pada Hilmi bahwa aku telah meninggalkan Tilka. Sedang Tilka kuberi pemahaman bahwa komunikasi kami harus dibatasi sebab aku harus sedikit focus pada kuliahku, untuk memperbaiki nilaiku. Cinta Tilka meluluhkan egonya. Aku tahu ini salah.
Sepandai-pandainya Tupai melopat, ia tidak akn pernah menjadi Kodok. Akhirnya Tilka tau dari kenalannya yang sekampus denganku. Saat melihat aku berboncengan dengan Hilmi. Coba kujelaskan bahwa dia hanya teman. Tapi Tilka mengancam dan memaksaku untuk mengatakan kebenaran perselingkuhan ini. Namun Hilmi tidak mengetahui semua ini. Tilka lalu memaksaku kembali dan menemuinya.
Jum’at sore aku terpaksa kembali dan menemui Tilka. Menjemputnya dan berjalan yang entah kemana Tilka membawaku. Rupanya aku dibahwahnya kerumah temannya. Di sana hanya ada kami bertiga, Tilka mulai menangis dan memakiku. Aku mencoba menjelaskan, temannya yang tidak ingin ikut campur meninggalkan kami berdua di rumah itu. Aku memang mencintai Tilka sepenuh hati.
Hingga Tilka menguji kesetiaanku. Ia menarikku kedalam kamar, dan mengajakku becinta dengannya. Entah karna saking cintanya ia padaku, ia begitu takut kehilanganku. Coba kutolak dan mengingatkannya tentang resiko semua ini. Namun suasana terlalu mendukung, hanya monyet bodoh yang lari ketika diberi pisang. Kejadian bodoh itupun terjadi.
Tilka hamil, namun kisah percintaanku dengan Hilmi belum berakhir juga. Kuajak Hilmi untuk lari dan meninggalkan tanggung jawabku. Setelah kuceritakan semua kesalahanku. Hillmi begitu kecewa denganku. Ia berkata bahwa tak ingin lagi melihatku, ia sangat membenciku dan menyaranku untuk mengubur perasaaanku dalam-dalam padanya.
Akhirnya, kutarik kesimpulan untuk bertanggung jawab atas kesalahanku pada Tilka, yang kemudian membawaku pada penderitaan hidup akibat pernikahan muda.
“selesai”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar