Selasa, 27 Desember 2016

Canda mata



“CANDA MATA”
PENULIS : SOENARDIN AL-IMAN
Ada yang merangkulku mesrah pagi ini, terasa hangat jemari lembut itu, menyentuh badanku dengan lembut. Menjelajahi dadaku yang penuh resah, mengangkat daguku memaksaku berpaling padanya dan meniti senyum sejengkal dari senyumnya. Aku menatapnya dalam seolah aku mampu membaca fikirnya, bahwa ia tak bisa pergi, ia ingin tinggal disini menutup hari disaat sore menjadi gelap dan temaram.
Tapi aku tak bisa, ia akan mneyiksaku jika kubiarkan tinggal, ia akan mencabikku dengan kejam, membuatku terluka dalam. Bukannya aku tega, tapi ia akan lebih tega dari aku, dia lebih tak berperikemanusiaan daripada aku.
Dia tak berwujud nyata memang, namun ia dapat menikamku dengan kejam tepat dijantungku, “rindu” yah, dia memang hanya sekedar rindu yang menggelayutiku sepanjang pagi, bahkan mungkin sepanjag nafasku semenjak aku mengenal perempuan yang mengenalkan aku pada-nya (pada rindu).
Perempuan yang entah datangnya dari mana, entah apa yang ia bawakan untukku sehingga aku menantinya. Sebenarnya ini rumit, tapi akan kujelaskan sedikit lebih mudah. Maryam adalah perempuan yang kukagumi selama ini, tapi waktu tak pernah bersahabat denganku. Sebab aku tak pernah datang diwaktu yang tepat, mungkin waktu tak merestui atau mungkin takdir ingi bercerita lain.
Mar, aku tahu hatinya, aku kenal gelagaknya, ia memendam rindu yag sama terhadapku. Tapi aku tak bisa memaksa diri, aku tak ingin merusak apa yang sudah indah, apa yang memang sepatutnya tidak aku usik. Rumah cinta mar yang ia bangun dari kesedihan masa lalunya, dari lelaki yang pernah menghianatinya kini perlahan mengindah bersama lelaki yag kini mendampinginya. Sebab itulah tak sudi aku merusakkan apa yang sudah kuanggap benar itu, meski aku harus tersiksa batin menahan rindu yang memelukku setiap pagi.
Hari ini, aku menatapnya tajam di perjalanan, hanya senyum sebatas diam yang terpapar diantara kami. Tapi tahukah kalian, ada canda mata yang sedang kami rangkai dalam dialog diam itu. Dimana seluruh tubuhku seolah ikut berkata bahwa aku ingin merangkul senyummu, memasukkannya kedalam toples lalu kubawaa pulang. Kemudian akan kubawa kelaboratorium agar aku tau apa kandungan yang membuat senyummu menyamankan pandangan.
Oh mar, biarkan cerita ini menjadi sebatas cerita. Apapun harapan mu, dan apapun harapanku mari kita berharap agar Tuhan berharap sama dengan kita.

Selasa, 08 November 2016

Kehilangang sajak


Kehilangan sajak
Oleh :BangSunan

Aku ingin menulis puisi.
Beri aku sebatang pena dan fatis untuk menulis
Aku ragu ini akan merambat menggetarkan denyutmu
Aku bimbang menimbang fonemik yang mer-ubah-ubah mimik
Kukais sarkais luapan emosi diurat kening yang meluap
Sampai meretak ujung pena aku mengganas  mengoyak kertas
Menggigit kuku aku menyudut disudut samping lemariku
Sirnah sudah kepekaan, keharmonian, keromantisan
Bak terdampar diruang hampa, aku tergenang tak lagi dikenang.

Minggu, 06 November 2016

Sebuah puisi, sebuah cerita


Sebuah puisi, sebuah cerita !
Oleh : Bang Sunan

Lekas membekas seberkas ingatan
Gelas meretas membias tangisan

Sudah, lupakan saja, konon itu hanya cerita
Sedihlah sesekali, asal jangan berkali-kali.

Pulas tergilas, sekilas lupakan
Segelas terperas, mengeras pujian.

Cukup sudah menjadi tabu, konon jika itu benar derita.
Akan mendapat hikmah tepat dari penjaga jagat.

Jumat, 04 November 2016

Tangkai Rangkaian Puisi

Irama sirkandia

Puisi inspirasi : calon Dokter Eva F.Syarif
Perangkai kata : #Bang Sunan

Mari menulis ritme irama sirkandia setiap harimu

Lalu lalang orang hilang dan datang menghadapmu

Berbelas gelas memelas diatas meja melingkarmu

Sepotong hatimu kosong tak terisi menjadi ruang hampa

Kau memanggil niat untuk menutup itu ruang hampa

Namun waktu belum mengizinkan kata menuai makna

sebelum aku yang memang engkau tunggu datang mengisinya.

Senin, 30 Mei 2016

karangan VI



RAHASIA RINDU
Cepen karangan : Sunan (Soenardin Al-iman)
Ini adalah kisah nyata, dan senyata-nyatanya kisah, kisah tetaplah kisah. Aku menceritakan tentang aku dalam kenyataan kisah yang siap kau simaki. Aku berlari  mengibaskan kain penutup badanku, terbang dihempas angin semerbak subuh. Aku mencoba menahan hembusan angin  yang hendak  manarik untaian benang pelindung wajahku. Sembari terus berzikir dan mengingat Tuhan aku berlari sampai subuh berpamitan padaku.
Kusimpul nafasku agar menyatu dan tenang, mencoba memelangkan langkahku menuju tepi. Aku memanggil dengan bisik, berbisik kemudian hening, kemudian berbisik lagi mencoba mengusir hening sampai jauh. Kudekati tepi tempat berdirinya, lalu berbisik lagi kemudian hening lagi. Lalu dia berteriak seolah ingin menerkamku, bibirku memelatih Saat wajahnya memawar. Tak kuasa telingaku mendengar hingga mataku melara menetaskan air lampiasan duka.
Bersyahadat dan berzikir dalam hati, meski menangis aku merayu kepada Tuhan agar mengampuni dosaku, aku takut ini sebab dosaku, ini hukumanku di dunia, lalu bagaimana perihnya hukuman dunia kekal kelak. Tapi itu didalam hatiku, di lisan yang terucap adalah memohon pengampunan dari dia yang berdiri ditepi yang wajahnya memawar ingin menerkamku dengan makian sederhana namun perih.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Menerimanya dalam hati namun menolaknya dalam nyata. Aku tak berani berkata jujur kepada manusia bahwa aku telah menjadikannya kekasih. Aku takut buruk dimata mereka. Aku takut jubahku dikaitkan dengan akhlakku. Tapi apa hubugan antara akhlak dan jubah ? jubah adalah kewajiban diagamaku, sementara akhlak itu adalah kedirian manusia yang dipilihnya. Jika akhlakku baik aku bertemu Ridwan namun jika akhlakku buruk aku bertemu malik.
Aku mencoba menjelaskan ini pada dia, namun ia menolak alasan. Ia ingin pengakuan, tapi aku tak bisa. Aku takut, aku malu, aku sungkan pada manusia.
            “sulitkah permintaanku padamu ?”
            “(tak menjawab, aku tetap tertunduk dan menangis sembari berzikir dalam hati)”
Lalu ia mendekatiku, meraih tanganku namun kutepis dan menjauh, aku tak ingin disentuh lelaki, aku takut dosa, dia faham itu. dia ingin menatapku, namun kubuang pandanganku jauh dari tepi menuju ketengah tempat bergenang air yang banyak.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Namun ini kehendak hatiku, semakin kutolak semakin tak terbendung, aku menangis dalam do’a dan zikirku namun aku tak berhenti salah. Akhirnya dia pergi dan meninggalkan salam yang pilu padaku. Aku tersungkur ketanah menangis seperti wanita lemah yang jatuh tak betahta.
Kemana aku harus mengadu lagi, mengadu pada Tuhan yang telah kukhianati ? aku malu. Mengadu pada manusia ? aku juga malu. Aku bagai tebuang dan terasing dinegri antahberantah. Lalu aku mengadili Tuhan dengan sejuta pertanyaa, mengapa ia mempertemukan jika ingin memisahkan, mengapa ia menciptakan jika tidak dibolehkan, aku memaksudkan cinta. Mengapa ada cinta lawan jenis jika itu dilarang. Lalu datang padaku sosok bercahaya yang melayang, aku takut tapi penasaran. Dia bersayap dan tersenyum padaku. Ia mengahapus air mataku, mengangkat daguku menyentuh tanganku dan membangkitkanku dari terduduk.
Aku berharap dia malaikat jibril, tapi aku bukan nabi. Dan aku perempuan. Ia menjelaskan padaku perkara cinta kepada lawan jenis, bahwa itu boleh saja namun Allah maha pencemburu. Maka tak boleh cintaku kepada manusia melebihi cinta kepada Allah. Lalu ia melayang mengilang dalam terang meninggalakan tenang dalam hatiku. Aku tak bersedih lagi dan aku mencoba mencerna arti kata sederhana itu.
Esoknya, aku menemui dia yang bediri ditepi sehari lalu. Dengan niat yang tekat dan sudah bulat serta dengan sholat istikharah yang khusuk semalam berangkai dengan tahajjud semalam suntuk. Kembali ketepi aku berbisik dan hening sepeti sehari lalu, namun tak berapa lama ia menoleh dan tersentak. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tak lagi ada jubah, hanya pakaian muslim sederhana dengan jilbab sederhana.
Entah ia terpana atau tertikam sampai tak dapat berkata. Aku melepas cadarku menunjukkan wajah padanya. Dan berkata bahwa aku mencintainya, dan berjanji akan memberitahukan rahasia ini kepada manusia ramai. Tapi dengan satu syarat, dia harus menikahiku sekarang. Dihadapan orang tuaku dan orang tuanya. Lalu aku memasang kembali cadarku meninggalkannya seperti yang ia lakukan kepadaku. Namun ia tak tertunduk dan menangis sepertiku, namun ia mengikuti langkahku.
Ia berbisik memanggil namaku, aku hanya tersenyum. Ia berbisik kembali lalu hening saat ia berhenti melangkah dan berkata dengan ragu bahwa ia telah dijodohkan dengan sepupu dua kali dari ayahnya. Aku tersentak dijantung, lalu bebalik, aku diam dan tertunduk lalu menangis lagi. Menghakiminya, menanyainya, mengapa ia meminta pengakuan jika ia telah dijodohkan ?
Dia menjelaskan bahwa, perjodohan itu terjadi kemarin. Ia menemuiku untuk memabawaku sebagai sanggahan. Namun semua tak berjalan sesuai dengan rencana. Sebab aku tak meyakinkannya. Kini semua harus kutelan pahit sepahit-pahitnya. Inilah mengapa cinta kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta kepada Allah, sebab cinta pada manusia ada kecewa sementara cinta kepada Allah ada hikmah.
Kini aku menjauh tak menoleh lagi kepadanya, seandai mati tanpa menikah tidak berdosa, aku takkan menikah. Kini aku menikah hanya dengan niat beribadah. Karna itulah hakikat cinta kepada Allah, semua harus bernilai ibadah.
Biarkanlah kisah ini menjadi rahasia yang suatu saat akan kurindukan. wassalam

Sabtu, 02 April 2016

KARANGAN V



“YANG MAHA PERINDU”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Di pembaringan terasa melayang raga ini, terayung aku dalam kantukku.Kulihat ada wajah yang menatapku, mengajakku bercanda. Aku tak faham apa yang ia katakan, tapi aku tahu ia sedang bersenda gurau denganku. Ia tersenyum menenangkanku, membuatku semakin terkantuk. Kedua tanganku menggenggam dengan keras, sejajar dengan kepalaku.Aku menguap saat wajah itu menyentuh wajahku dengan lembut.Seperti ada yang basah di pipiku, nampaknya itu jatuh dari pelupuk mata lelaki yang menciumku ini.
Dia adalah ayahku, yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya.Aku merasa sangat bersalah telah membuatnya kehilangan cintanya, cinta yang kurenggut darinya. Aku tahu, tak dapat kugantikan posisi ibuku disisinya, tapi katanya, aku bisa menjadi pelipur lara ketika ia mengingat kembali kekasihnya yang kusebut ibu.
Aku terlahir sebagai yatim, aku bukan pembunuh ibuku jika itu yang kau hakimkan padaku.Kandungan ibuku belum cukup kuat kala ingin melahirkanku.hingga mereka, orang yang sangat kusayangi sepakat untuk memilih aku yang hidup, lebih tepatnya ibuku yang merengek untuk menyelamatkanku. Meski aku hanya pernah dilihat oleh ibu melalui mesin USG, tapi ia begitu mencintaiku dan mendambakanku. Andai ibu sedikit bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk merakitku, bukan disaat janin yang dimilikinya belum cukup kuat.
Ibuku sayang, kutitipkan do’a terbaik untukmu.Aku mencintaimu, terima kasih telah membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu terenggut pergi menjauh.Dan mencintaiku dari kejauhan. Ayah sangat mencintaiku, dia selalu menemaniku saat aku terbangun dan menjerit dipenghujung malam, entah karena pantatku basah. Atau karna aku melihat sesuatu yang belum kufahami.
Ayahku yang memegang cinta sucinya untuk ibuku, tak pernah ia memalingkan cintanya dari ibuku, sampai suatu ketika saat seorang perempuan cantik mendatangiku, aku seperti mengenalnya, mungkin aku pernah melihatnya. Ia, saat aku dalam kandungan dialah orang yang mencoba untuk merenggut ayah dari ibuku, dia istri ayahku. Mereka menemukan kami dalam persembunyian ini.Ia terharu menatapku, aku tidak membencinya, aku tahu dia yang telah berjasa mengangkat keluargaku dari keterpurukan. Aini nama tante itu, ayah memperkenalkan nya sebagai mamah aini, tapi aku tak ingin memanggilnya begitu, ibuku hanya tilka dan ayahku hanya hafiz.
Tante ainilah yang merawatku, memandikanku setiap hari.Mesnyusuiku meski hanya melalui dot.Ada cinta yang dalam kulihat dari mata itu, entah itu sebuah cinta palsu, tapi rasanya sangat tulus.Ia yang mengurusi ayah ketika ayah ingin bekerja.
            “kak hafiz, anakmu sangat tampan. Alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya”
            “apakah kau membenci anakku ?”
“tidak kak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jujur. Aku tahu tak dapat menggantikan Tilka sebagai ibunya, tapi aku akan berusaha”
“terima kasih aini, karna kau telah menjadi malaikat penyelamat dalam keluargaku. Tapi maafkan aku. Aku tak dapat memberimu anak, aku takut Tilka cemburu disana, aku telah berjanji, untuk memegang teguh cintanya> itu janjiku sebelum ia mengembuskan nafas terkahirnya”
“ia aku faham kak, yang penting jangan jauhkan aku darimu lagi dan dari anakmu yang sudah kusayangi ini”
Aku terharu mendengar percakapan kedua orang yang menyayangiku itu, aku semakin merindukan ibuku, ibuku yang tak pernah kusentuh sejak aku lahir, tak pernah kerasa bagaimana puting susuhnya seperti bayi yang lain. Aku merasa tersedak rindu, dan aku tahu aku dan ayahku telah terpasung pada rindu yang sama, aku berharap kepada yang maha perindu agar mempertemukan kami disurga kelak. Aamin.
Hari demi hari berlalu, rasa cinta tante aini semakin besar kepadaku, aku tahu ia tersiksa. Saat ayah sedang bekerja, ia datang mengahmpiriku dan bercerita tentang keluh kesahnya, ia juga ingn memiliki bayi yang sepertiku. Namun, ia berharap memiliki bayi yang cantik seperti dirinya. Berderai air mata ia memulai sajak tentang harapannya kepada Tuhan, agar ayahku menghianati janjinya kepada ibu.
Semenjak  ibu meninggal, tante aini dan ayah tak pernah tidur bersama.Meski mereka masih resmi sebagai sepasang suami istri, aku tidak mengerti bagaimana cinta itu bisa membuat ayahku melakukan semua ini.Aku ingin sekuat ayahku, memegang teguh janji yang telah kubuat.Masih dalam deraian air mata, tante aini coba menceritakan bagaimana pencariannya.
Tante aini bercerita padaku, saat aku menghisap jempolku dengan lugu.Ia mengatakan, dalam pencariannya ia menjadi kurus, tak ingin makan. Ia berharap agar Tuhan segera mempertemukannya dengan ayahku. Aku iba mendengar kisah itu.Bahkan tante aini telah dilamat beberapa laki-laki yang katanya mencintainya dan lebih mapan.Tapi seteguh cinta ayah pada ibu, cintanya pada ayahku juga tak tergoyahkan.
Dalam derita pencarian, tante aini mencoba menghubungi semua kenalan ayah, namun tak satu arahpun ia temukan. Hingga saat ia bertemu dengan sinta, mantan teman ayah yang pernah ayah temui disupermarket. Ia merasa senang dan mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk menemukan ayahku. Menemukan cintanya, ia membuat tidurnya nyenyak dan makannya enak. Aku ingin segera tumbuh besar dan menemukan wanita yang bisa mencintaiku seteguh dan sekuat tante aini.Aku kagum padanya.
“anakku dayu, aku tidak pernah membenci ibumu, emmang aku yang salah karna mencintai ayahmu yang telah menjadi milik Tilka ibumu, tapi aku tak dapat membunuh cinta, ia teruz tumbuh bak rumput liar yang tidak memerlukan pupuk, mungkin ini kuasa Tuhan dan jawaban atas do’a ku untuk bertemu dengan kak hafiz ayahmu yang sangat kucinta”
Aku hanya dapat menjawab kata-kata itu dengan gelagak tawa sambil terus menggigit jemariku dengan gusi yang masih memerah.
Malam ini aku terjaga, karna seharian aku hanya tertidur setelah mendengar cerita tante aini.Aku merasa bersalah membuat ayahku ikut terjaga. Aku tahu ia sangat lelah, seharian ia bekerja untuk menafkahiku, mencukupkan giziku, ia ingin melihatku cepat tumbuh besar.
Malam ini, ayah mencoba mengajakku bercanda, agar aku lelah dan segera tertidur. Sembari ia bercerita tentang kecintaanya pada yang maha perindu. Ayah mendidikku dengan ilmu agama, ia berharap agar aku tidak menduplikat nasibnya yang tragis ini. Ia berharap aku bisa lebih dekat pada yang maha perindu. Ayahku yang kini berbeda dengan ayahku saat aku masih didalam kandungan, cobaan yang bertubi-tubi membuat ia semakin dekat denga yang maha perindu.
Antara terjaga dan terbangun, kerap kudengar do’a harmonis diiringi isak tangis ayahku. Permohonan cinta dan kerinduannya akan ibuku. Berharap Tuhan menghidupkan ibuku kembali dan mempertemukan kami bertiga, yang kuaminkan dengan tangisan menjerit tak tertahankan.Aku menangis lagi malam itu, aku menyusahkan lagi ayahku.
Dalam gendongan ayah, rasanya ingin kuluapkan semua rindu ini.Kepada yang maha perindu, jangan berikan kisah ini pada orang lain, ingatkan mereka deritaku.Aku tak ingin ada lagi wanita yang pergi sebelum berpamitan pada benihnya.Ingatkan mereka dengan larangan dosa dan nistanya zina.Agar tak ada lagi derita yang sepertiku.
Selamat pagi kebahagiaan, kucoba untuk menerima tante aini sebagai ibu titipan yang maha perindu untukku.Rasanya ingin kusadarkan ayahku, untuk merelakan janjinya kepada ibu.Tapi biarlah mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kami.
Aku mulai belajar berbicara, belajar menyebutkan abjad demi abjad.Kata pertama yang berani kuucapkan adalah mamamaama, meski aku dalam gendongan tante aini atau kini aku menyebutnya mama aini, tapi kata itu sejujurnya untuk ibu kandungku Tilka.Seperti air yang tak dapat tersayat, seperti itupulah cintaku pada ibuku.
Ayahku yang kusayang, berdo’alah senantiasa kepada yang maha perindu, agar rindu ayah dapat sampai pada ibu.Dan beritahukan pada ibu dalam do’amu bahwa aku telah terlahir dengan cinta dan kasih sayang yang cukup darimu.
“selesai”

Minggu, 27 Maret 2016

KARANGAN IV



TERPASUNG RINDU YANG SAMA”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Dalam pesembunyian aku coba bercerita pada angin tentang reruntuhan kisah pertemuanku dengan Tilka, cinta yang kuartikan sempit, bahwa cinta hanya arogansi kebersamaan. Teori tentang kebahagiaan adalah kebersaaam disetiap waktu . namun, itu tak dapat kurasa.
Tilka dan aku menjalin hubungan jarak jauh, hingga kami terpasung pada rindu yang sama. Aku yang seorang mahasiswa, mencintai gadis belia berusia 18 tahun. Aku sedang berkendara diatas roda dua . terhempas deras angina perjalanan, mencoba mengingat dan mencerna dalamnya cinta dan perjuangan jarak. Aku memutar gas motorku dengan penuh semangat rindu kepada kekasihku yang tak kutemui sudah beberapa bulan. Rinduku menggunung dan baru bisa terlampiaskan saat libur semester.
Laju terlalu laju kendaraan ini, menerbangkanku keruang khayal yang bervariasi, pada yang logis dan tidak logis, pada yang bermoral dan tidak bermoral.
Selama 2 tahun, kami sering melampiaskan kerinduan kami pada sinyal kerinduan yang melayang di udara. Percakapan candaan yang menumpuk kerinduan,dan mengunyah kehampaan jiwa. Kadang rasa cemburu muncul kepada kawan bahkan saudara tak sekandungan Tilka. Mungkin karna ikatan batin yang membuat kami tetap bertahan dan mencoba mempercayai keteguhan cinta yang telah kami rakit dan bangun bersama.
Hari ini, rinduku menggebu kembali. Sampai di rumah, penat dan letihku tak kuperduli. Aku hanya memberi salam dan melempar tasku ke dalam rumah. Kemudian kutarik gas motorku menyusuri jalan basah setelah hujan. Aku rindu, iya aku sangat rindu dengan Tilka yang mencintaiku. Kecantikan dan keluguannya membuatku berfikir bahwa dia adalah persembahan terbaik Tuhan untukku. Lentik jemari, aroma badan , gigi putih dan bulu mata. Ia, bulu mata yang selalu kurindukan.
Akumenjemput Tilka di sekolahnya. Bukan di rumahnya, aku belum memiliki keberanian untuk berkenalan dengan orang tuanya. Senyum itu, menyambutku dengan mesrah. Menenangkan letihku, mengalihkan nestapaku menjadi senyum bahagia. Letih hanya ilusi saat bersama dengannya. Tak sanggup kutahan rasa yang tak bisa kuabaikan ini. Ingin kupeluk, namun terlalu ramai manusia menatapku.
Perlahan aku membonceng Tilka berkeliling sebelum kuantarkan ia pulang kerumahnya. Berbeda ketika aku berkendara sendiri, rasanya aku tak ingin sampai pada tujuan. Terlalu mesrah waktu itu, terlalu indah hingga kalian akan jatuh cinta pada waktu yang berhenti.
          “berapa lama kak hafiz disini ?”
          “mungkin dua minggu, kita punya cukup waktu untuk sering bertemu”
“tidak bisa, aku takut dengan orang tuaku. Masa libur seperti ini, aku kekurangan alasan untuk keluar dan bertemu”
“kekurangan bukan berarti tak ada kan ?”
Jangan alihkan keindahan ini padaku Tuhan. Aku benar-benar mencintainya. Di akhir mingguku bersama tilka. Aku melepasnya dengan kecupan mesrah di kening, pipi dan bibirnya. Mesrah dan seperti tak ingin kuhentikan kecupan ini. Namun kami harus menerima kenyataan berpisah sementara ini. Aku bergerak menjauh meninggalkan jarak menyisahkan rindu. Sedih dan bahagia terangkai satu di dalam hati.
Kembali pada kenyataan, bercinta melalui jaringan seluler. Aku melestarikan rindu yang kutanam di dalam hatiku. Sebelum datang Hilmi dalam kehidupanku. Dia sosok yang kukagumi karna kepintarannya di kelas. Aku kagum dari setiap pemikirannya. Inilah yang terberat dari long distance relationship. Aku berusaha tak beranjak pada kedalam cinta, tapi perlahan aku terangkat kepermukaan.
Komunikasiku dengan Tilka kini menjadi tak karuan, kami lebih sering bertikai dari pada bercinta. Mungkin karna aku selalu membandingkan kelebihan Hilmi dengan kekurangan Tilka, tanpa membandingkan kelebihan Tilka dengan kekurangan Hilmi. Aku merasa tidak adil, tapi aku sendiri bingung dengan perasaanku.
Kucoba bercerita kepada Hilmi tentang rahasia kekagumanku padanya. Ia tersenyumseolah aku sedang bercanda. Dia tidak menanggapi serius. Tapi aku yakin dia memikirkan ucapanku, terbukti ketika dia mulai ingin berbasa basi dengnku.tidak seperti dulu, kami hanya mengobrol tentang kuliah dan hal-hal membosankan lainnya. Aku berusaha jujur dan mengatakan bahwa aku memiliki kekasih tetapi aku juga mengaguminya.
Ia tak menjawabku hari itu. 3 hari aku didiamkan bagai orang asing di kelas. Ingin kusapa, aku ragu dia akan merespon. Hingga saat makan setelah kuliah siang yang terik, aku duduk dengan kawan akrabku, membincangkan erotisme kota besar. Hilmi menghampiri lalu mengajakku berbicara bedua. Setelah terduduk, taka da yang memulai pembicaraan. Terasa kaku aku dan dia. Pergelangan tanganku kuletakkan diatas bangku tanpa begerak.
          “cinta itu butuh perjuangan hafiz, cinta juga butuh pengorbanan”
          “maksudnya ?”
“jujur aku juga mengagumimu dalam diam, tapi aku tidak ingin merusak hubunganmu. Tapi jika kau memang serius padaku ? tinggalkan dia dan datang padaku”. (kemudian Hilmi berlalu)
Aku berfikir dan mengumpulkan dari teman. Fikiranku berkecamuk, bodohnya aku. Cintaku kepada Tilka begitu besar, tetapi kekagumanku dan rasa inginku untuk memiliki Hilmi juga tidak dapat kubendung. Hingga kuputuskan untuk berbohong, kukatakan dengan yakin pada Hilmi bahwa aku telah meninggalkan Tilka. Sedang Tilka kuberi pemahaman bahwa komunikasi kami harus dibatasi sebab aku harus sedikit focus pada kuliahku, untuk memperbaiki nilaiku. Cinta Tilka meluluhkan egonya. Aku tahu ini salah.
Sepandai-pandainya Tupai melopat, ia tidak akn pernah menjadi Kodok. Akhirnya Tilka tau dari kenalannya yang sekampus denganku. Saat melihat aku berboncengan dengan Hilmi. Coba kujelaskan bahwa dia hanya teman. Tapi Tilka mengancam dan memaksaku untuk mengatakan kebenaran perselingkuhan ini. Namun Hilmi tidak mengetahui semua ini. Tilka lalu memaksaku kembali dan menemuinya.
Jum’at sore aku terpaksa kembali dan menemui Tilka. Menjemputnya dan berjalan yang entah kemana Tilka membawaku. Rupanya aku dibahwahnya kerumah temannya. Di sana hanya ada kami bertiga, Tilka mulai menangis dan memakiku. Aku mencoba menjelaskan, temannya yang tidak ingin ikut campur meninggalkan kami berdua di rumah itu. Aku memang mencintai Tilka sepenuh hati.
Hingga Tilka menguji kesetiaanku. Ia menarikku kedalam kamar, dan mengajakku becinta dengannya. Entah karna saking cintanya ia padaku, ia begitu takut kehilanganku. Coba kutolak dan mengingatkannya tentang resiko semua ini. Namun suasana terlalu mendukung, hanya monyet bodoh yang lari ketika diberi pisang. Kejadian bodoh itupun terjadi.
Tilka hamil, namun kisah percintaanku dengan Hilmi belum berakhir juga. Kuajak Hilmi untuk lari dan meninggalkan tanggung jawabku. Setelah kuceritakan semua kesalahanku. Hillmi begitu kecewa denganku. Ia berkata bahwa tak ingin lagi melihatku, ia sangat membenciku dan menyaranku untuk mengubur perasaaanku dalam-dalam padanya.
Akhirnya, kutarik kesimpulan untuk bertanggung jawab atas kesalahanku pada Tilka, yang kemudian membawaku pada penderitaan hidup akibat pernikahan muda.
“selesai”