Senin, 30 Mei 2016

karangan VI



RAHASIA RINDU
Cepen karangan : Sunan (Soenardin Al-iman)
Ini adalah kisah nyata, dan senyata-nyatanya kisah, kisah tetaplah kisah. Aku menceritakan tentang aku dalam kenyataan kisah yang siap kau simaki. Aku berlari  mengibaskan kain penutup badanku, terbang dihempas angin semerbak subuh. Aku mencoba menahan hembusan angin  yang hendak  manarik untaian benang pelindung wajahku. Sembari terus berzikir dan mengingat Tuhan aku berlari sampai subuh berpamitan padaku.
Kusimpul nafasku agar menyatu dan tenang, mencoba memelangkan langkahku menuju tepi. Aku memanggil dengan bisik, berbisik kemudian hening, kemudian berbisik lagi mencoba mengusir hening sampai jauh. Kudekati tepi tempat berdirinya, lalu berbisik lagi kemudian hening lagi. Lalu dia berteriak seolah ingin menerkamku, bibirku memelatih Saat wajahnya memawar. Tak kuasa telingaku mendengar hingga mataku melara menetaskan air lampiasan duka.
Bersyahadat dan berzikir dalam hati, meski menangis aku merayu kepada Tuhan agar mengampuni dosaku, aku takut ini sebab dosaku, ini hukumanku di dunia, lalu bagaimana perihnya hukuman dunia kekal kelak. Tapi itu didalam hatiku, di lisan yang terucap adalah memohon pengampunan dari dia yang berdiri ditepi yang wajahnya memawar ingin menerkamku dengan makian sederhana namun perih.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Menerimanya dalam hati namun menolaknya dalam nyata. Aku tak berani berkata jujur kepada manusia bahwa aku telah menjadikannya kekasih. Aku takut buruk dimata mereka. Aku takut jubahku dikaitkan dengan akhlakku. Tapi apa hubugan antara akhlak dan jubah ? jubah adalah kewajiban diagamaku, sementara akhlak itu adalah kedirian manusia yang dipilihnya. Jika akhlakku baik aku bertemu Ridwan namun jika akhlakku buruk aku bertemu malik.
Aku mencoba menjelaskan ini pada dia, namun ia menolak alasan. Ia ingin pengakuan, tapi aku tak bisa. Aku takut, aku malu, aku sungkan pada manusia.
            “sulitkah permintaanku padamu ?”
            “(tak menjawab, aku tetap tertunduk dan menangis sembari berzikir dalam hati)”
Lalu ia mendekatiku, meraih tanganku namun kutepis dan menjauh, aku tak ingin disentuh lelaki, aku takut dosa, dia faham itu. dia ingin menatapku, namun kubuang pandanganku jauh dari tepi menuju ketengah tempat bergenang air yang banyak.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Namun ini kehendak hatiku, semakin kutolak semakin tak terbendung, aku menangis dalam do’a dan zikirku namun aku tak berhenti salah. Akhirnya dia pergi dan meninggalkan salam yang pilu padaku. Aku tersungkur ketanah menangis seperti wanita lemah yang jatuh tak betahta.
Kemana aku harus mengadu lagi, mengadu pada Tuhan yang telah kukhianati ? aku malu. Mengadu pada manusia ? aku juga malu. Aku bagai tebuang dan terasing dinegri antahberantah. Lalu aku mengadili Tuhan dengan sejuta pertanyaa, mengapa ia mempertemukan jika ingin memisahkan, mengapa ia menciptakan jika tidak dibolehkan, aku memaksudkan cinta. Mengapa ada cinta lawan jenis jika itu dilarang. Lalu datang padaku sosok bercahaya yang melayang, aku takut tapi penasaran. Dia bersayap dan tersenyum padaku. Ia mengahapus air mataku, mengangkat daguku menyentuh tanganku dan membangkitkanku dari terduduk.
Aku berharap dia malaikat jibril, tapi aku bukan nabi. Dan aku perempuan. Ia menjelaskan padaku perkara cinta kepada lawan jenis, bahwa itu boleh saja namun Allah maha pencemburu. Maka tak boleh cintaku kepada manusia melebihi cinta kepada Allah. Lalu ia melayang mengilang dalam terang meninggalakan tenang dalam hatiku. Aku tak bersedih lagi dan aku mencoba mencerna arti kata sederhana itu.
Esoknya, aku menemui dia yang bediri ditepi sehari lalu. Dengan niat yang tekat dan sudah bulat serta dengan sholat istikharah yang khusuk semalam berangkai dengan tahajjud semalam suntuk. Kembali ketepi aku berbisik dan hening sepeti sehari lalu, namun tak berapa lama ia menoleh dan tersentak. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tak lagi ada jubah, hanya pakaian muslim sederhana dengan jilbab sederhana.
Entah ia terpana atau tertikam sampai tak dapat berkata. Aku melepas cadarku menunjukkan wajah padanya. Dan berkata bahwa aku mencintainya, dan berjanji akan memberitahukan rahasia ini kepada manusia ramai. Tapi dengan satu syarat, dia harus menikahiku sekarang. Dihadapan orang tuaku dan orang tuanya. Lalu aku memasang kembali cadarku meninggalkannya seperti yang ia lakukan kepadaku. Namun ia tak tertunduk dan menangis sepertiku, namun ia mengikuti langkahku.
Ia berbisik memanggil namaku, aku hanya tersenyum. Ia berbisik kembali lalu hening saat ia berhenti melangkah dan berkata dengan ragu bahwa ia telah dijodohkan dengan sepupu dua kali dari ayahnya. Aku tersentak dijantung, lalu bebalik, aku diam dan tertunduk lalu menangis lagi. Menghakiminya, menanyainya, mengapa ia meminta pengakuan jika ia telah dijodohkan ?
Dia menjelaskan bahwa, perjodohan itu terjadi kemarin. Ia menemuiku untuk memabawaku sebagai sanggahan. Namun semua tak berjalan sesuai dengan rencana. Sebab aku tak meyakinkannya. Kini semua harus kutelan pahit sepahit-pahitnya. Inilah mengapa cinta kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta kepada Allah, sebab cinta pada manusia ada kecewa sementara cinta kepada Allah ada hikmah.
Kini aku menjauh tak menoleh lagi kepadanya, seandai mati tanpa menikah tidak berdosa, aku takkan menikah. Kini aku menikah hanya dengan niat beribadah. Karna itulah hakikat cinta kepada Allah, semua harus bernilai ibadah.
Biarkanlah kisah ini menjadi rahasia yang suatu saat akan kurindukan. wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar