Minggu, 27 Maret 2016

KARANGAN IV



TERPASUNG RINDU YANG SAMA”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Dalam pesembunyian aku coba bercerita pada angin tentang reruntuhan kisah pertemuanku dengan Tilka, cinta yang kuartikan sempit, bahwa cinta hanya arogansi kebersamaan. Teori tentang kebahagiaan adalah kebersaaam disetiap waktu . namun, itu tak dapat kurasa.
Tilka dan aku menjalin hubungan jarak jauh, hingga kami terpasung pada rindu yang sama. Aku yang seorang mahasiswa, mencintai gadis belia berusia 18 tahun. Aku sedang berkendara diatas roda dua . terhempas deras angina perjalanan, mencoba mengingat dan mencerna dalamnya cinta dan perjuangan jarak. Aku memutar gas motorku dengan penuh semangat rindu kepada kekasihku yang tak kutemui sudah beberapa bulan. Rinduku menggunung dan baru bisa terlampiaskan saat libur semester.
Laju terlalu laju kendaraan ini, menerbangkanku keruang khayal yang bervariasi, pada yang logis dan tidak logis, pada yang bermoral dan tidak bermoral.
Selama 2 tahun, kami sering melampiaskan kerinduan kami pada sinyal kerinduan yang melayang di udara. Percakapan candaan yang menumpuk kerinduan,dan mengunyah kehampaan jiwa. Kadang rasa cemburu muncul kepada kawan bahkan saudara tak sekandungan Tilka. Mungkin karna ikatan batin yang membuat kami tetap bertahan dan mencoba mempercayai keteguhan cinta yang telah kami rakit dan bangun bersama.
Hari ini, rinduku menggebu kembali. Sampai di rumah, penat dan letihku tak kuperduli. Aku hanya memberi salam dan melempar tasku ke dalam rumah. Kemudian kutarik gas motorku menyusuri jalan basah setelah hujan. Aku rindu, iya aku sangat rindu dengan Tilka yang mencintaiku. Kecantikan dan keluguannya membuatku berfikir bahwa dia adalah persembahan terbaik Tuhan untukku. Lentik jemari, aroma badan , gigi putih dan bulu mata. Ia, bulu mata yang selalu kurindukan.
Akumenjemput Tilka di sekolahnya. Bukan di rumahnya, aku belum memiliki keberanian untuk berkenalan dengan orang tuanya. Senyum itu, menyambutku dengan mesrah. Menenangkan letihku, mengalihkan nestapaku menjadi senyum bahagia. Letih hanya ilusi saat bersama dengannya. Tak sanggup kutahan rasa yang tak bisa kuabaikan ini. Ingin kupeluk, namun terlalu ramai manusia menatapku.
Perlahan aku membonceng Tilka berkeliling sebelum kuantarkan ia pulang kerumahnya. Berbeda ketika aku berkendara sendiri, rasanya aku tak ingin sampai pada tujuan. Terlalu mesrah waktu itu, terlalu indah hingga kalian akan jatuh cinta pada waktu yang berhenti.
          “berapa lama kak hafiz disini ?”
          “mungkin dua minggu, kita punya cukup waktu untuk sering bertemu”
“tidak bisa, aku takut dengan orang tuaku. Masa libur seperti ini, aku kekurangan alasan untuk keluar dan bertemu”
“kekurangan bukan berarti tak ada kan ?”
Jangan alihkan keindahan ini padaku Tuhan. Aku benar-benar mencintainya. Di akhir mingguku bersama tilka. Aku melepasnya dengan kecupan mesrah di kening, pipi dan bibirnya. Mesrah dan seperti tak ingin kuhentikan kecupan ini. Namun kami harus menerima kenyataan berpisah sementara ini. Aku bergerak menjauh meninggalkan jarak menyisahkan rindu. Sedih dan bahagia terangkai satu di dalam hati.
Kembali pada kenyataan, bercinta melalui jaringan seluler. Aku melestarikan rindu yang kutanam di dalam hatiku. Sebelum datang Hilmi dalam kehidupanku. Dia sosok yang kukagumi karna kepintarannya di kelas. Aku kagum dari setiap pemikirannya. Inilah yang terberat dari long distance relationship. Aku berusaha tak beranjak pada kedalam cinta, tapi perlahan aku terangkat kepermukaan.
Komunikasiku dengan Tilka kini menjadi tak karuan, kami lebih sering bertikai dari pada bercinta. Mungkin karna aku selalu membandingkan kelebihan Hilmi dengan kekurangan Tilka, tanpa membandingkan kelebihan Tilka dengan kekurangan Hilmi. Aku merasa tidak adil, tapi aku sendiri bingung dengan perasaanku.
Kucoba bercerita kepada Hilmi tentang rahasia kekagumanku padanya. Ia tersenyumseolah aku sedang bercanda. Dia tidak menanggapi serius. Tapi aku yakin dia memikirkan ucapanku, terbukti ketika dia mulai ingin berbasa basi dengnku.tidak seperti dulu, kami hanya mengobrol tentang kuliah dan hal-hal membosankan lainnya. Aku berusaha jujur dan mengatakan bahwa aku memiliki kekasih tetapi aku juga mengaguminya.
Ia tak menjawabku hari itu. 3 hari aku didiamkan bagai orang asing di kelas. Ingin kusapa, aku ragu dia akan merespon. Hingga saat makan setelah kuliah siang yang terik, aku duduk dengan kawan akrabku, membincangkan erotisme kota besar. Hilmi menghampiri lalu mengajakku berbicara bedua. Setelah terduduk, taka da yang memulai pembicaraan. Terasa kaku aku dan dia. Pergelangan tanganku kuletakkan diatas bangku tanpa begerak.
          “cinta itu butuh perjuangan hafiz, cinta juga butuh pengorbanan”
          “maksudnya ?”
“jujur aku juga mengagumimu dalam diam, tapi aku tidak ingin merusak hubunganmu. Tapi jika kau memang serius padaku ? tinggalkan dia dan datang padaku”. (kemudian Hilmi berlalu)
Aku berfikir dan mengumpulkan dari teman. Fikiranku berkecamuk, bodohnya aku. Cintaku kepada Tilka begitu besar, tetapi kekagumanku dan rasa inginku untuk memiliki Hilmi juga tidak dapat kubendung. Hingga kuputuskan untuk berbohong, kukatakan dengan yakin pada Hilmi bahwa aku telah meninggalkan Tilka. Sedang Tilka kuberi pemahaman bahwa komunikasi kami harus dibatasi sebab aku harus sedikit focus pada kuliahku, untuk memperbaiki nilaiku. Cinta Tilka meluluhkan egonya. Aku tahu ini salah.
Sepandai-pandainya Tupai melopat, ia tidak akn pernah menjadi Kodok. Akhirnya Tilka tau dari kenalannya yang sekampus denganku. Saat melihat aku berboncengan dengan Hilmi. Coba kujelaskan bahwa dia hanya teman. Tapi Tilka mengancam dan memaksaku untuk mengatakan kebenaran perselingkuhan ini. Namun Hilmi tidak mengetahui semua ini. Tilka lalu memaksaku kembali dan menemuinya.
Jum’at sore aku terpaksa kembali dan menemui Tilka. Menjemputnya dan berjalan yang entah kemana Tilka membawaku. Rupanya aku dibahwahnya kerumah temannya. Di sana hanya ada kami bertiga, Tilka mulai menangis dan memakiku. Aku mencoba menjelaskan, temannya yang tidak ingin ikut campur meninggalkan kami berdua di rumah itu. Aku memang mencintai Tilka sepenuh hati.
Hingga Tilka menguji kesetiaanku. Ia menarikku kedalam kamar, dan mengajakku becinta dengannya. Entah karna saking cintanya ia padaku, ia begitu takut kehilanganku. Coba kutolak dan mengingatkannya tentang resiko semua ini. Namun suasana terlalu mendukung, hanya monyet bodoh yang lari ketika diberi pisang. Kejadian bodoh itupun terjadi.
Tilka hamil, namun kisah percintaanku dengan Hilmi belum berakhir juga. Kuajak Hilmi untuk lari dan meninggalkan tanggung jawabku. Setelah kuceritakan semua kesalahanku. Hillmi begitu kecewa denganku. Ia berkata bahwa tak ingin lagi melihatku, ia sangat membenciku dan menyaranku untuk mengubur perasaaanku dalam-dalam padanya.
Akhirnya, kutarik kesimpulan untuk bertanggung jawab atas kesalahanku pada Tilka, yang kemudian membawaku pada penderitaan hidup akibat pernikahan muda.
“selesai”





Sabtu, 26 Maret 2016

KARANGAN III

AKU TERSEDAK RINDU
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-iman


Bergetar gelas di genggamanku, rasanya tak sanggup kucumbukan bibirku dan bibir gelas pagi ini. Sejuk terlalu rindu nampaknya denganku, hingga mendekapku begitu erat. Di sebuah rumah persegi tempatku mengusik malam dan menggilai bulan. Aku ingin menyapamu dengan ucapan selamat untuk pagi yang berhasil datang tepat waktu lagi hari ini. Terasa ada pelukan hangat dari arah punggungku, kusadari itu adalah wanitaku, duniaku dan hidupku. Tilka adalah istri yang setia menemaniku mengusir malam dan menyambut pagi tapi juga membuatku selalu rindu dengan malam.
“kak Hafiz mau makan apa hari ini ?” (ia itulah namaku, nama pemberian ibuku, kebanggaanku)
“aku akan makan apa saja yang penting istriku tersayang yang memasakkan” (sambil mengcup  kening istriku aku menggandengnya menuju dapur)
Bak raja dan permaisuri, rumah ini penuh dengan fasilitas nan canggih, semua serba ada. Maklum saja mertuaku adalah seorang kaya raya. Mungkin jodohlah yang terlalu baik, mempertemukanku dengan Tilka. Tapi jujur memang akulah yang memang mendekati yirah, karna harta ? ia, awalnya memang karna harta, tapi setelahnya karna cinta.
Rencana dan bencana terlalu akrab, hingga susah untuk dipisahkan,  hari yang terlalu cerah ini akan kami habiskan ditempat belanja. Kami berjalan bergandengan bak pemmuda yang sedang dimabuk asmara, sambil berjalan dan  bercanda tentang kehidupan yang lucu kami semalam. Di salah satu toko pakaian wanita, Tilka memilih dan memilah barang yang bagus dan bermerek. Inilah pengorbanan terbesar lelaki bila menemani wanitanya berbelanja, rasanya sehari tak cukup bila ingin memenuhi hasrat belanja perempuan.
Aku memilih untuk  menunggu sambil  memainkan gadgetku di sebuah tempat makan yang ada di dalam mall ini.
            “mau pesan apa mas ?”
Aku menengadah dan memandang pelayan itu, tersedak dadaku rasanya, kaku bibirku tak mampu berucap. Rasanya aku, ingin menghilang segera dari tempat itu.
            “kak Hafiz” (pelayan itu menyebut namaku dengan ejaan sempurnah)
Suasana menjadi tak karuan, terlebih saat gerimis dimatanya mulai membasahi pipinya. Aku beranjak pergi tanpa berkata sedikit pun. Aku tergesah meninggalkan tempat itu, carut marut langkah kakiku rasanya gerimispun menghampiri mataku, tapi kutepis segera dengan telunjukku. Kemudian aku menjemput Tilka dan mangjaknya segera pulang, ia bingung tapi tetap menuruti inginku. Dengan alasan aku lupa mengunci pintu rumah aku memaksa tilka untuk segera pulang.
Aku melanjutkan tangisku didalm wc, ingatan memaksaku berderai tak terkendali. Aku merasa berdosa, aku merasa sangat hina. Kutilik ingatan masa laluku saat derita kemiskinan masih bersamaku, Tilka dulu tak secantik ini, tak seharum dan semewah ini. Gajiku sebagai seorang pegawai supermarket tidak seberapa, Tilka masih belia kala itu, aku tersandung kasus masa muda yang memaksaku untuk memudahi pernikahan. Tempatku dulu juga persegi hanya lebih kecil dan pengap, kini tempat persegiku punya banyak kamar, bukan hanya satu.
Lupakan itu, dan mari merajuk kembali ceritaku. Kehidupan terlalu keras kulalui masa itu. Tiga bulan rasanya kami hidup serba tak cukup, kasihan aku melihat Tilka tidur beralas terpal tipis, hari demi hari semakin mencekikku, kebutuhan yang merangkak bahkan meloncat naik membuat kami hampir mati, andai taka da mie instan yang selalu menjadi juru selamat.
Hari ini aku mulai pekerjaanku setelah mengahapus penyesalan sejenak dalam diriku dan mencoba melayani pembeli dengan senyum, agar tak dilepas kerja oleh bos ku.
Satu demi satu pelanggan pulang pegi, bermacam wajah tela kutemui, silih berganti rona wajah yang menghampiri. Hingga suatu ketika, terbelalak mataku melihat keindahan ilahi pada sosok perempuan yang Nampak sangat anggun sedang memilih parfum. Puitis sekali wajah wanita ini hingga aku terlena. Tapi aku sadar aku, aku tau diri dia tak bakal mencintaiku tapi setidaknya untuk cuci mata bolehlah.
Kemudian ia mendekati meja kasir, tersipu malu aku, mempersiapkan diri dengan memperhatikan kaca yang ada ditoko, mencoba mencari bayanganku, merapikan hal yang sebenarnya sudah rapi. Ia mendekat, oh tuhan selamatkan aku. Dia menyapaku duluan.
            “berapa semua mas ?”
Karna terlena, aku tak menjawab pertanyaan itu, aku hanya tercengang hingga kawanku mengaggetkanku, dengan batuk yang disengajanya. Diujung pembelanjaan, mungkin sebab jodoh atau apa, aku menawarinya untuk membeli pulsa telefon seperti seharusnya yang kulakukan pada pelanggan lain, dan ternyata ia memang ingin membeli pulsa. Pucuk dicinta, nomerpun tiba.
Tergesa-gesa aku mulai menulis angka demi angka. Hari berlalu, fikiran buruk yang memangsa fikiranku, bahwa ia tidak akan sudi berkenalan denganku ternyata salah. Ia meresponku dengan baik, tuturannya dalam telefon membuatku kagum, aku berfikir dalam diri, jika di telefon saja dia baik, pastilah dalam dunia nyata ia baik pula.
Hujan gerimis mempertemukan kami, saat aku beranjak meninggalkan tempat kerjaku. Terpapas pandanganku padanya yang sedang berdteduh didepan tokoh dimana aku bekerja. Berat kaki kuayunkan, namun hati mendesak memohon agar mengahmpirinya, kaki yang tak memiliki perasaan luluh dan mengikuti kata hati. Kami bertegur sapa, mulai bercerita, terasa akrab bak teman lama yang baru bertemu kembali. Akhirnya aku tahu dimana ia tinggal dan beberapa hal lainnya, meskipun aku telah mengetahui namanya lewat percakapan di telefon, aku mengenalnya sebagai Aini, itulah nama yang ia beritahukan padaku.
Terpatri dalam hatiku untuk menjalin kisah cinta yang romantis, pertalian kasih suci dambaan insan manusia ingin kumohonkan pada Tuhan untuk kami. Tapi Tuhan menyadarkan aku, mengingatkan surge yang menantiku di rumah. Aku memiliki wanita hebat yang menantiku di tempat yang kusebut Rumah. Aku mulai menjauh dari aini, melepskan kerinduan melepaskan kehangatan, mencoba menghilang bagai termakan dunia.
Namun, kehidupan semakin sulit. Gajiku semakin mongering tak mampu membasahi kebutuhan hidupku dengan tilka. Permohonan yang kukirim kepada Tuhan belum terbalaz, mungkin menunggu waktu yang tepat. Aini yang sekian lama mencariku, akhirnya behasil menemuiku di rumahku, ia tahu semua tentang kegetiran hidupku, ia ingin menyelamatkanku dari kesengsaraan, ia bertutur cinta padaku didepan istriku, bukan lagi gerimis tetapi hujan air mata kami bertiga mengguyur basah tempat yang kusebut Rumah ini. Rumah yang sempit dan pengap, dinding yag penuh dengan penutup cahaya, atapnya yang luntur oleh basah air hujan dan dindingnya yang bising ketika dibuka. 
Tilka terus diam dikasur lantai using kami, ia tak bergerak ia hanya menyimak. Hingga Aini berkata.
            “aku mencintai suamimu, isinkan aku bermadu denganmu”
Tak dapat kucegah kata-kata itu begitupun tamparan dan teriakan Tilka pada Aini.
“kamu sudah gila, dia suamiku. Aku telah memberikan segala pegorbananku padanya, lalu kau ingin merebutnya begitu saja?”
“aku ingin membantumu dan suamimu agar bangkit dari penderitaan, tapi bantu aku juga melepas Rindu ini dari suamimu”
“pergii”
Hening dan Aini berlari meninggalkan kami, tersungku aku mengakui, bahwa aku belum bisa menjadi lelaki yang bijak. Aku sang bisa pada keadaan yang memerlukanku merasa menyesal sendiri meringkuk didepan Tilka memohon ampun, lama bederai kami bedua, hingga Tilka berucap lirih hampir tak bersuarah, karna parau akibat luka dalam hatinya.
            “menikahlah kak, tapi jangan ceraikan aku”
            “tapi tilka aku mencintaimu ?”
“iya, sebab aku tahu kakak mencintaiku, maka menikahlah, biarkan ia sampai kepada niat baiknya untuk melepaskan sengsara pada keluarga ini. Setelah itu tiggalkan dia”
Dingin malam menyapa telingaku, berhembus dan berbisiki pelan agar aku segera menutup mata. Membiarkan lelah badanku terobati lantai rumahku. Aku kemudian membangunkan Tilka setelah bergelut dengan fikiranku sendiri.
“maafkan aku, mungkin ini sebuah kesalahan, tapi aku ingin menyelamatkan keluarga kita”
Melalui ucapan sacral, aku diresihkan oleh pernikahan mewah rancangan keluarga Aini. Kini kehidupanku mulai merangkak naik, namun Aini memaksaku untuk tinggal bersamanya, apalah dayaku, aku hanya terus berdo’a agar Tilka tak membenciku.
Aku mulai berpindah kerja, keluarga aini adalah pengelolah tempat makan yang besar dan tersebar dibanyak tempat. Aku tak lupa tanggung jawabku, aku terus menafkahi Tilka, namun kami jarang bertemu bahkan hampir tidak, Aini terus mengahalangiku untuk bertemu Tilka tapi ia tidak melarangku untuk mentransfer gajiku untuk Tilka.
Semua seolah sudah membaik, aku tak lagi melarat. Aku yakin kehidupan perekonomian Tilka juga sudah membaik. Tapi aku terbuai, rasanya tidak bisa kulepas Aini dan semua kenyamanan ini. Aku terlalu terlena. Hingga kuingat bahwa Tilka sudah hamil 9 bulan, ia aku ingat kami memang menikah karna perkara itu. Aku memohon izin untuk menjenguk Tilka, dan akhirnya Aini menginkanku.
Inikah rindu yang tersedak di tenggorakanku, inikah rindu yang kupeluk dan cium setia hari. Aku merangkulnya dengan erat, penuh haru kuusap perut istriku. Lalu tilka berucap padaku.
            “saatnya berhenti, mari kita tinggalkan peran percintaan gila ini”
            “tapi aku punya tanggung jawab terhadap Aini, kini ia adalah istriku juga”
“ingat kesepakatan kita, dan ingat cinta kakak dan bayi ini. Ia tidak akan sanggup menerima ketragisan ini, uang yang kakak berikan sudah cukup aku tabung. Aku hanya menggunakannya untuk keperluan makan sehari-hari saja, sebab aku tahu hari ini akn datang”
Akupun sepakat dengan Tilka untuk meninggalkan semua kesalahan ini. Dengan penuh tangis terdengar ketukan puntu dari luar wc.
            “kakak, kenapa lama sekali di dalam wc ?”
“ia, tunggu aku sedang bersemedi, hahahhaa” (sambil mencuci mukaku aku segera menarik gagang pintu dan memeluk istriku”
“ada apa ini, dari wc saja tapi seperti rindu bertahun tak bertemu.
Dengan perlahan mulai kuceritakan kejadian di supermarket tadi kepada Tilka, bahwa aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengenalku.  Dia adalah sinta teman kerjaku dulu, aku tak ingin bertegur sapa dengan sinta sebab ia tahu semua cerita ini, dan ia kenal dengan aini. Aku takut aini akan menemukan kami dalam persembunyian ini. Ia sampai hari ini, kami masih dalam persembunyian, dan aku berharap kepada kalian yang membaca cerita ini agar tidak memberi Tahukan kepada Aini tentang kehidupan yang nyamanku dengan Tilka sekarang, sebab aku faham rasa cintanya, sebab aku mengerti rasa sakit yang ia derita karna kutinggal begitu saja, dia masih istriku, dan aku kini tersedak rindu padanya. Tapi jangan beritahukan Tilka semua ini. Ingat.

“selesai”

Sabtu, 05 Maret 2016

karangan II



BIBIT DI RAHIM “MALANG”
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-Iman

Aku berdiri rapuh meletakkan telunjukku di kantung mata. Menghalangi air mata yang menetes berderai. Tangan kananku yang seputih susu domba yang diternakkan pamanku, membelai lembut kain yang menutup pusarku, ia pusarku yang kini membesar tak kusadari dari hari kehari.
Kini aku mengingat Tuhan, aku tidak membenci Tuhan karna memberiku takdir mengerikan ini, tapi aku membenci diriku dan kemalanganku. Saat aku berselimut lelaki yang menenangkanku setiap ia bertutur, juga lelaki yang menipuku dengan wajah manis serta ceramah menafiknya padaku, yang telah membuang mukaku dan berlayar meninggalkan kesedihanku bersama benihnya yang kubenci.
Mengapa perempuan yang hamil ? mengapa bukan lelaki, padahal kami merasakan perasan nyaman yang sama saat percumbuan. Tapi, dunia itu sepertinya bepihak kepada lelaki, perempuan harus menderita karna mereka yang hamil bukan lelaki. Aku juga ingin menjadi bejat, menikmati malam lalu menghilang.
Oh, aku lupa memperkenalkan namaku, namaku adalah “malang”. Aku terlahir dari dua orang petani sukses di sebuah desa kecil penghasil padi unggul. Kisah tragis ini beranjak saat aku berstatus mahasiswa disebuah perguruan tinggi keperawatan di kota Makassar.
Kota Makassar yang ramai, berisik dan macet inilah aku dipertemukan dengan sosok lelaki tegap dengan potongan rambut khas perwira. Aku mengenalnya lewat undangan pertemanan di akun kebanggaan kaum muda.
Kami mulai perkenalan,mulai saling terbuka, saling mengingatkan tentang perintah Tuhan yang membuatku kagum padanya. Namanya “Zalim”, dia adalah seorang perwira muda yang sangat tampan dan alim.
Percakapan di akun pada tanggal 17 0ktober 2014.
Zalim    : “assalamualaikum”
Malang  : “waalaikumsalam”
Zalim    : “apa kabar malang, apa kamu sudah sholat ?”
Malang  : “belum, aku sedang sibuk menulis askepku”
Zalim    : “sempatkanlah dulu untuk sholat”
Malang  : “iya Zalim, terima kasih”
Setiap kata yang dia ucapkan membuatku semakin kagum dari hari-kehari. Kami mulai sering menikmati lampu kota di jembatan layang. Entah sekedar menggosip merk mobil mewah atau membandingkan penderitaan anak kecil penjual Koran dengan deritaku sebagai anak kos.
Hingga hubungan kami diresmikan oleh sebuah café yang sepi pengunjung. Ia mulai mengutarakan perasaannya melalui sajak yang membuaiku dan membuatku tergeletak diruang khayal. Kata yang memang kutunggu untuk terucap dari bibir yang dihiasi rambut halus ditepi atasnya. Kata yang kutunggu dari sejak pertama aku mengenalnya akhirnya sekarang terucap dengan harum dihadapanku.
Siapa yang tidak tergoda oleh pangkat dan wajah tampan serta banyak lagi kelebihannya dibanding lelaki lain yang pernah kukenal. Malam berganti malam, minggu dan bulan berjalan lancar tak terhambat. Malam ini adalah malam yang menandai, hubungan kami telah berjalan setahun. Seperti malam, minggu dan bulan yang berlalu, kami beranjak keluar menikamti malam. Seperti biasa kami menghabiskan malam dengan bercanda di atas jembatan layang yang ramai dengan suara tarikan gas yang bervariasi dari para pemilik kendaraan.
Zalim    : “malang, jika kita berjodoh nanti ! aku ingin bisa berjalan-jalan menikmati suasana kota dengan mobil mewah keluaran terbaru seperti itu” (menunjuk mobil mungil yang harganya cocok untuk orang berkantong tebal)
Malang  : “ia salim, aku akan mengikut apa kemauanmu. Aku sangat mencintaimu Zalim, tolong tetaplah denganku, dan aku berharap kita berjodoh”
Zalim    : “malang, aku ini lelaki berkomitmen, aku takkan meninggalkanmu. Aku sudah bersumpah atas nama ketulusanku, aku akan menikahimu”
Malang  : “aku pegang janjimu itu Zalim, aku kan memberikan seluruh hidupku padamu, sebab aku cinta dan bertumpu pada ketulusan yang engkau katakan itu”
Zalim    : ”ia malang, aku berjanji sebelum roh ku berpamit kepada ragaku, takkan aku meninggalkanmu yang telah kusimpan terlalu rapi disini” (menunjuk bagian tubuh yang diidentikkan sebagai tempat tinggal perasaan manusia)

Detik, menit, jam bergantian ditunjuk oleh jarum jam di pergelangan tangan kananku. Kami tak sadar bahwa kota telah menjadi sepi, manusia sibuk itu telah kembali keperaduan mereka, menikmati dekapan malam dan selimut dikediaman mereka masing-masing. Kami tak beranjak, kami terbuai obrolan tak jelas bersama cahaya temaram tv besar disamping kami, yang dipajang untuk memamerkan iklan produk terkenal. Saat kami tersadar, aku terlupa bahwa aku telah pindah ke kosan yang aturannya lebih ketat, sehingga aku tak bisa lagi masuk jika terlamabat pulang, akhirnya salim menawariku untuk menginap di kediamannya malam itu.
Dikediaman zalim yang terletak disebuah perumahan ramai penduduk, aku merasa sungkan, malu dan takut untuk menggerakkan kaki kananku masuk dari pintu kayu yang berukiran khas jepara, nampak dari luar barang-barang dan perabot mewah menghiasi rumah itu. Iya, ini kali pertama aku datang kerumah zalim. Setelah masuk aku disuguhkan minuman dingin dari lemari es milik zalim. Dan aku terkejut saat ia menjelaskan bahwa ayahnya yang sedang ada tugas keluar kota. Sehingga isi rumah itu kali ini hanya kami berdua.
Buaian malam, menggodaku, membisikku, mencoba meneggelamkanku dalam fikiran yang carut marut. Zalim mulai mendekatiku seolah imannya kini hilang dikepalanya. “Apa yang kan terjadi tuhan, aku sangat takut” zalim mulai menggenggam tanganku, meski kuingatkan ia teruz saja tidak perduli, akhirnya aku teriak dan mengagetkan zalim. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, dentingan jam di dinding pun hanya bisa berbisik dan gemetar merasakan cekaman suasana akibat teriakanku. Tiba-tiba zalim berkata.
Zalim    : “maafkan aku malang, aku khilaf”
Malang  : “maaf zalim, aku bukan tidak mencintaimu, aku akan memberikan semua ini saat waktunya telah tepat, tapi bukan sekarang, aku datang terlalu jauh dan membawah harapan orang tuaku. Aku tidak ingin mengahancurkan hati mereka. Aku mohon mengerti aku”
Zalim    : “ia malang, sekali lagi maafkan aku. Aku takkan mengulang tindakan khilafku malam ini”
Malang  : “ia zalim, nampaknya lebih baik aku tidak bermalam disini malam ini, tolong antarkan aku kerumah paman aku”
Zalim    : “tapi ini sudah terlalu larut malang, bermalamlah dulu disini, aku janji takkan melakukan hal yang tak baik padamu”
Malang  : “tidak zalim, lebih baik kau antarkan aku kerumah pamanku. Tempatnya tidak jauh dari sini”
Zalim    : “baik malang, aku ambilkan kamu jaket dan helm dulu, aku takut engkau kedinginan dan masuk angin”
Malang  : “ia zalim, terima kasih”
Aku masih termangu dan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan hampir terjadi, saat motor zalim melaju membelah kesunyian kota tengah malam itu. Aku tau zalim kecewa, aku tau ia tak terima tapi aku tau rasa cintanya lebih besar dan meluluhkan nafsunya yang sempat bergejolak tadi. Terima kasih zalim, telah menjadi pendamping yang didambakan semua wanita, yang menjaga bukan menjagal keperawanan.
Sesampai di rumah pamanku, dengan sedikt ragu bercampur cemas tentang jawaban apa yang harus kuberi jika pamanku bertanya tentang lelaki yang membawaku, dan kemana aku telah dibawa lelaki itu tadi. Dengan jariku yang mungil mulus dan putih ini kuketuk pintu rumah pamanku. Beberapa detik terdengar langkah kaki cepat mendekati pintu dari dalam. Suara ringkik pintu rumah yang terbuka membuatku sedikit bergetar.
Paman  : “malang ? kok kamu datang malam begini, kamu dari mana ? siapa lelaki yang bersamamu itu ?
Semua pertanyaan yang kutakutkan akhirnya benar terucap, dan aku telah siap dengan jawaban palsuku.
Malang  : “ini zalim paman, dia teman kampusku. Tadi kami kerja tugas bersama dirumah nina (nama teman kampusku) tapi karna kemalaman, kos ku yang baru aturannya ketat sekali paman jadi saya tidak bisa masuk, jadi aku meminta tolong kepada zalim agar mengantarku kerumah paman”
Paman  : “emm, kalau begitu masuklah, menginaplah disini dulu malam ini”.
Malang  : “iya paman, terima kasih”
Zalim    : “kalau begitu saya pamit dulu om”
Paman dan malang        : “iya hati2”

Zalim pun mulai menjauh yang Nampak hanya punggung dan plat motor zalim yang masih berwarna putih. Aku dan pamankupun masuk ke dalam rumah. Rumah yang cukup luas dan besar. Pamanku yang seorang kapten kapal kebetulan sedang tidak berlayar. Aku disuruhnya tidur dikamar tamu yang letaknya di bagian depan rumah itu. Namun nampaknya rumah ini sangat sepi.
Malang  : “tante anita mana om ?” (tante anita adalah istri paman budi, iya nama pamanku adalah abdul budi santoso)
Paman  : “tantemu itu sedang pergi kerumah keponakannya yang ingin menikah, om sudah ditinggal hampir seminggu. Maklum itu keponakan kesayangannya yang menikah”
Malang  : “ohh iya paman, aku tidur dulu. Aku lelah sudah kerja tugas seharian”
Paman  : “ia pergila tidur”

Aku mulai memejamkan mataku, rasanya sulit untuk menghilangkan fikiran tentang apa yang terjadi dirumah zalim tadi. Setengah jam berlalu aku masih terjaga oleh malam yang syahdu. Aku gelisah, aku berputar seperti belut diatas ranjang itu, kusut sudah seprei ranjang itu kubuat. Tiba-tiba sunyi, tiba-tiba tenang. Aku rasa ada langkah kaki yang mendekati kamarku. Sedikit menahan nafas untuk memperjelas apa yang kudengar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lembut hampir tak bersuara. Sosok tinggih tegap tiba-tiba muncul dari sana. Lalu kunyalakan lampu tidur dikamar itu. Rupanya pamanku.
Malang  : “ada apa paman ? mengapa paman masuk kesini ?”
Paman  : “aku tak bisa tidur malang, aku kefikiran tantemu teruz, ia sudah meninggalkan om hampir seminggu, padahal paman baru pulang dari berlayar”.
Malang  : “telfon saja paman”
Paman  : “sudah, tapi katanya dua hari lagi baru pulang. Malang mau tidak tidur dengan paman malam ini. paman kesepian”
Tiba-tiba paman mendekatiku dengan cepat, memegang tanganku. Aku yang cemas dengan fikiran tentang zalim kini menjadi lebih kacau dengan tindakan tiba-tiba pamanku. Aku ingin berteriak tapi pamanku semakin menggila ia mencekik leherku dan berkata ingin membunuhku jika tak mengikuti perintahnya. Ia bukan zalim, ia tidak menyayangiku, ia bukan orang yang perduli dengan masa depanku. Kini waktu telah membunuhku, aku rasa menyesal telah meninggalkan zalim. Aku merasa hancur tidak berbentuk. Mengapa kemalangan ini menimpaku, mengapa orang tuaku memberiku nama malang ? aku mulai bingung aku mulai hancur detik demi detik. Pamanku yang kusangka akan menjagaku malam ini justru merusakkan harapan hidupku. Kehilangan keperawanan seperti kehilangan nyawa. Mengapa aku, mengapa aku ? pertanyaan itu yang teruz becumbu difikiranku.
Bejat betul kehidupan, lelaki yang sering meceramahiku tentang ganasnya kota besar justru yang menghancurkanku. aKu mengingat ibuku, ayahku, adikku yang telah kehancurkan harapannya, lebih tepatnya dihancurkan oleh pamanku yang bejat. Ia mengancam akan membunuhku jika memberitahukan kejadian malam itu.
Waktu berlalu, malam demi malam kuhabiskan dengan derain air mata. Sebulan lebih waktu kuhabiskan meratapi kehancuranku, aku tak pernah menemui zalim semenjak itu. Ia mengira aku marah sebab perlakuannya malam itu, tapi sebenarnya aku takut memberitahukannya tentang kemalanganku ini. Zalim kekasihku andai engkau tahu betapa aku mencintaimu. Kini pamanku yang mancabik hidupku itu telah pindah kenegeri seberang ia berlayar bersama keluarganya. Meninggalkan aku yang terpuruk. Aku baru menyadari bahwa aku belum kedatangan tamu semenjak malam itu dan ini sudah lewat dari jadwal semestinya. Tak berani aku ceritakn kepada teman, kepada zalim terlebih kepada orang tua dan saudaraku. Rasanya ingin aku cabut nyawaku dan mengubur badanku bersama benih yang kubenci ini.
Dua bulan sudah aku menutup diri, bersembunyi dari keramaian. Mencoba mencari alternative membunuh benih dari pria sialan ini. akhirnya, Aku memberanikan diri untuk menemui zalim, kami bertemu dijembatan layang pada malam kamis 25 desember 2014. Dengan sedikit gugup mulai kuceritakan satu demi satu kepedihanku, kedukaanku, kehancuran yang tidak kukehendaki. Jelas zalim marah, dan ia serasa ingin membunuh pamanku, ia tidak menyalahkanku, ia tidak mencaciku, ia mencoba mengerti aku. Aku merasa dia seperti malaikat yang sangat tangguh terhadap perasaanya. Aku tau ia marah, aku tau ia kecewa, tapi entah mengapa ia ingin menerimaku. Ia ingin meminangku. Ia ingin mengakui benih ini sebagai benihnya, entah itu cinta atau logika terbalik atau kebodohannya. Pertanyaan yang muncul diakal ku bertubi-tubi membuatku semakin sulit untuk bernafas dan menentukan arah.
Percakapan malam itu membuatku berfikir keras, memunculkan harapan baru untukku. Akupun menyetujui keinginan zalim, dan orang tuaku yang tidak pernah tau tentang kemalanganku siap menerima zalim sebagai pendamping hidupku hingga masa tua datang mengeriputkan wajahku.
Seminggu sebelum pernikahan, zalim berangkat untuk mengecek lokasi pernikahan kami, yang rencana akan kami adakan di sebuah hotel. Namun, mungkin namaku dan nasibku memang sesuai salim tertikam dan mati ditempat saat mencoba untuk menyelamatkan seorang ibu yang kecopeetan didepan bank. Zalim yang seorang perwira berusaha untuk menolong namun kemalangan justru menimpanya. Aku terpukul, aku tertusuk masuk kedalam tanah, rasanya jantungku remuk. Aku berteriak mendengar kabar buruk itu. Suaraku menggema, menggetarkan seisi rumah. Mama dimana Tuhan ? mamah apa tuhan benci padaku ? apa aku sehina ini apa aku senista ini. Aku tahu lelaki baik untuk wanita yang baik. Tapi ini bukan inginku maaaaa.
Mama    : “apa yang kau bicarakan malang, nyebut ini semua cobaan”
Malang  : “aku tak sanggup lagi dicoba ma, aku tak sanggup” (sambil berlari aku mengambil sebilah bambu yang harusnya digunakan untuk menghiasi pesta pernikahanku dengan zalim, dan menikam perutku tiga kali yang memancarkan dara yang sangat banyak, kemudian menahan nafasku berharap tuhan segera mengambil nyawaku)
Aku tidak sedang berusaha untuk membuat kisah cinta seromantis romeo dan Juliet, aku hanya tidak sanggup menghadapi dunia yang jahat padaku.
“TAMAT”