“TERPASUNG RINDU
YANG SAMA”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN
Dalam
pesembunyian aku coba bercerita pada angin tentang reruntuhan kisah pertemuanku
dengan Tilka, cinta yang kuartikan sempit, bahwa cinta hanya arogansi
kebersamaan. Teori tentang kebahagiaan adalah kebersaaam disetiap waktu .
namun, itu tak dapat kurasa.
Tilka
dan aku menjalin hubungan jarak jauh, hingga kami terpasung pada rindu yang
sama. Aku yang seorang mahasiswa, mencintai gadis belia berusia 18 tahun. Aku
sedang berkendara diatas roda dua . terhempas deras angina perjalanan, mencoba
mengingat dan mencerna dalamnya cinta dan perjuangan jarak. Aku memutar gas
motorku dengan penuh semangat rindu kepada kekasihku yang tak kutemui sudah
beberapa bulan. Rinduku menggunung dan baru bisa terlampiaskan saat libur
semester.
Laju
terlalu laju kendaraan ini, menerbangkanku keruang khayal yang bervariasi, pada
yang logis dan tidak logis, pada yang bermoral dan tidak bermoral.
Selama 2
tahun, kami sering melampiaskan kerinduan kami pada sinyal kerinduan yang
melayang di udara. Percakapan candaan yang menumpuk kerinduan,dan mengunyah
kehampaan jiwa. Kadang rasa cemburu muncul kepada kawan bahkan saudara tak
sekandungan Tilka. Mungkin karna ikatan batin yang membuat kami tetap bertahan
dan mencoba mempercayai keteguhan cinta yang telah kami rakit dan bangun
bersama.
Hari
ini, rinduku menggebu kembali. Sampai di rumah, penat dan letihku tak
kuperduli. Aku hanya memberi salam dan melempar tasku ke dalam rumah. Kemudian
kutarik gas motorku menyusuri jalan basah setelah hujan. Aku rindu, iya aku
sangat rindu dengan Tilka yang mencintaiku. Kecantikan dan keluguannya
membuatku berfikir bahwa dia adalah persembahan terbaik Tuhan untukku. Lentik
jemari, aroma badan , gigi putih dan bulu mata. Ia, bulu mata yang selalu
kurindukan.
Akumenjemput
Tilka di sekolahnya. Bukan di rumahnya, aku belum memiliki keberanian untuk
berkenalan dengan orang tuanya. Senyum itu, menyambutku dengan mesrah.
Menenangkan letihku, mengalihkan nestapaku menjadi senyum bahagia. Letih hanya
ilusi saat bersama dengannya. Tak sanggup kutahan rasa yang tak bisa kuabaikan
ini. Ingin kupeluk, namun terlalu ramai manusia menatapku.
Perlahan
aku membonceng Tilka berkeliling sebelum kuantarkan ia pulang kerumahnya.
Berbeda ketika aku berkendara sendiri, rasanya aku tak ingin sampai pada
tujuan. Terlalu mesrah waktu itu, terlalu indah hingga kalian akan jatuh cinta
pada waktu yang berhenti.
“berapa lama kak hafiz disini ?”
“mungkin dua minggu, kita punya cukup
waktu untuk sering bertemu”
“tidak bisa, aku takut dengan orang tuaku. Masa libur
seperti ini, aku kekurangan alasan untuk keluar dan bertemu”
“kekurangan bukan berarti tak ada kan ?”
Jangan
alihkan keindahan ini padaku Tuhan. Aku benar-benar mencintainya. Di akhir
mingguku bersama tilka. Aku melepasnya dengan kecupan mesrah di kening, pipi
dan bibirnya. Mesrah dan seperti tak ingin kuhentikan kecupan ini. Namun kami
harus menerima kenyataan berpisah sementara ini. Aku bergerak menjauh
meninggalkan jarak menyisahkan rindu. Sedih dan bahagia terangkai satu di dalam
hati.
Kembali
pada kenyataan, bercinta melalui jaringan seluler. Aku melestarikan rindu yang
kutanam di dalam hatiku. Sebelum datang Hilmi dalam kehidupanku. Dia sosok yang
kukagumi karna kepintarannya di kelas. Aku kagum dari setiap pemikirannya.
Inilah yang terberat dari long distance relationship. Aku berusaha tak beranjak
pada kedalam cinta, tapi perlahan aku terangkat kepermukaan.
Komunikasiku
dengan Tilka kini menjadi tak karuan, kami lebih sering bertikai dari pada bercinta.
Mungkin karna aku selalu membandingkan kelebihan Hilmi dengan kekurangan Tilka,
tanpa membandingkan kelebihan Tilka dengan kekurangan Hilmi. Aku merasa tidak
adil, tapi aku sendiri bingung dengan perasaanku.
Kucoba
bercerita kepada Hilmi tentang rahasia kekagumanku padanya. Ia tersenyumseolah
aku sedang bercanda. Dia tidak menanggapi serius. Tapi aku yakin dia memikirkan
ucapanku, terbukti ketika dia mulai ingin berbasa basi dengnku.tidak seperti
dulu, kami hanya mengobrol tentang kuliah dan hal-hal membosankan lainnya. Aku
berusaha jujur dan mengatakan bahwa aku memiliki kekasih tetapi aku juga
mengaguminya.
Ia tak
menjawabku hari itu. 3 hari aku didiamkan bagai orang asing di kelas. Ingin
kusapa, aku ragu dia akan merespon. Hingga saat makan setelah kuliah siang yang
terik, aku duduk dengan kawan akrabku, membincangkan erotisme kota besar. Hilmi
menghampiri lalu mengajakku berbicara bedua. Setelah terduduk, taka da yang
memulai pembicaraan. Terasa kaku aku dan dia. Pergelangan tanganku kuletakkan
diatas bangku tanpa begerak.
“cinta itu butuh perjuangan hafiz,
cinta juga butuh pengorbanan”
“maksudnya ?”
“jujur aku juga mengagumimu dalam diam, tapi aku tidak
ingin merusak hubunganmu. Tapi jika kau memang serius padaku ? tinggalkan dia
dan datang padaku”. (kemudian Hilmi berlalu)
Aku
berfikir dan mengumpulkan dari teman. Fikiranku berkecamuk, bodohnya aku.
Cintaku kepada Tilka begitu besar, tetapi kekagumanku dan rasa inginku untuk
memiliki Hilmi juga tidak dapat kubendung. Hingga kuputuskan untuk berbohong,
kukatakan dengan yakin pada Hilmi bahwa aku telah meninggalkan Tilka. Sedang
Tilka kuberi pemahaman bahwa komunikasi kami harus dibatasi sebab aku harus
sedikit focus pada kuliahku, untuk memperbaiki nilaiku. Cinta Tilka meluluhkan
egonya. Aku tahu ini salah.
Sepandai-pandainya
Tupai melopat, ia tidak akn pernah menjadi Kodok. Akhirnya Tilka tau dari
kenalannya yang sekampus denganku. Saat melihat aku berboncengan dengan Hilmi.
Coba kujelaskan bahwa dia hanya teman. Tapi Tilka mengancam dan memaksaku untuk
mengatakan kebenaran perselingkuhan ini. Namun Hilmi tidak mengetahui semua
ini. Tilka lalu memaksaku kembali dan menemuinya.
Jum’at
sore aku terpaksa kembali dan menemui Tilka. Menjemputnya dan berjalan yang
entah kemana Tilka membawaku. Rupanya aku dibahwahnya kerumah temannya. Di sana
hanya ada kami bertiga, Tilka mulai menangis dan memakiku. Aku mencoba
menjelaskan, temannya yang tidak ingin ikut campur meninggalkan kami berdua di
rumah itu. Aku memang mencintai Tilka sepenuh hati.
Hingga
Tilka menguji kesetiaanku. Ia menarikku kedalam kamar, dan mengajakku becinta
dengannya. Entah karna saking cintanya ia padaku, ia begitu takut kehilanganku.
Coba kutolak dan mengingatkannya tentang resiko semua ini. Namun suasana
terlalu mendukung, hanya monyet bodoh yang lari ketika diberi pisang. Kejadian
bodoh itupun terjadi.
Tilka
hamil, namun kisah percintaanku dengan Hilmi belum berakhir juga. Kuajak Hilmi
untuk lari dan meninggalkan tanggung jawabku. Setelah kuceritakan semua
kesalahanku. Hillmi begitu kecewa denganku. Ia berkata bahwa tak ingin lagi
melihatku, ia sangat membenciku dan menyaranku untuk mengubur perasaaanku
dalam-dalam padanya.
Akhirnya,
kutarik kesimpulan untuk bertanggung jawab atas kesalahanku pada Tilka, yang
kemudian membawaku pada penderitaan hidup akibat pernikahan muda.
“selesai”


