RAHASIA
RINDU
Cepen
karangan : Sunan (Soenardin Al-iman)
Ini
adalah kisah nyata, dan senyata-nyatanya kisah, kisah tetaplah kisah. Aku
menceritakan tentang aku dalam kenyataan kisah yang siap kau simaki. Aku
berlari mengibaskan kain penutup
badanku, terbang dihempas angin semerbak subuh. Aku mencoba menahan hembusan
angin yang hendak manarik untaian benang pelindung wajahku.
Sembari terus berzikir dan mengingat Tuhan aku berlari sampai subuh berpamitan
padaku.
Kusimpul
nafasku agar menyatu dan tenang, mencoba memelangkan langkahku menuju tepi. Aku
memanggil dengan bisik, berbisik kemudian hening, kemudian berbisik lagi
mencoba mengusir hening sampai jauh. Kudekati tepi tempat berdirinya, lalu
berbisik lagi kemudian hening lagi. Lalu dia berteriak seolah ingin menerkamku,
bibirku memelatih Saat wajahnya memawar. Tak kuasa telingaku mendengar hingga
mataku melara menetaskan air lampiasan duka.
Bersyahadat
dan berzikir dalam hati, meski menangis aku merayu kepada Tuhan agar mengampuni
dosaku, aku takut ini sebab dosaku, ini hukumanku di dunia, lalu bagaimana
perihnya hukuman dunia kekal kelak. Tapi itu didalam hatiku, di lisan yang
terucap adalah memohon pengampunan dari dia yang berdiri ditepi yang wajahnya
memawar ingin menerkamku dengan makian sederhana namun perih.
Salahkah
aku, aku memilih untuk salah. Menerimanya dalam hati namun menolaknya dalam
nyata. Aku tak berani berkata jujur kepada manusia bahwa aku telah
menjadikannya kekasih. Aku takut buruk dimata mereka. Aku takut jubahku
dikaitkan dengan akhlakku. Tapi apa hubugan antara akhlak dan jubah ? jubah
adalah kewajiban diagamaku, sementara akhlak itu adalah kedirian manusia yang
dipilihnya. Jika akhlakku baik aku bertemu Ridwan namun jika akhlakku buruk aku
bertemu malik.
Aku
mencoba menjelaskan ini pada dia, namun ia menolak alasan. Ia ingin pengakuan,
tapi aku tak bisa. Aku takut, aku malu, aku sungkan pada manusia.
“sulitkah permintaanku padamu ?”
“(tak menjawab, aku tetap tertunduk
dan menangis sembari berzikir dalam hati)”
Lalu
ia mendekatiku, meraih tanganku namun kutepis dan menjauh, aku tak ingin
disentuh lelaki, aku takut dosa, dia faham itu. dia ingin menatapku, namun
kubuang pandanganku jauh dari tepi menuju ketengah tempat bergenang air yang
banyak.
Salahkah
aku, aku memilih untuk salah. Namun ini kehendak hatiku, semakin kutolak
semakin tak terbendung, aku menangis dalam do’a dan zikirku namun aku tak
berhenti salah. Akhirnya dia pergi dan meninggalkan salam yang pilu padaku. Aku
tersungkur ketanah menangis seperti wanita lemah yang jatuh tak betahta.
Kemana
aku harus mengadu lagi, mengadu pada Tuhan yang telah kukhianati ? aku malu.
Mengadu pada manusia ? aku juga malu. Aku bagai tebuang dan terasing dinegri
antahberantah. Lalu aku mengadili Tuhan dengan sejuta pertanyaa, mengapa ia
mempertemukan jika ingin memisahkan, mengapa ia menciptakan jika tidak
dibolehkan, aku memaksudkan cinta. Mengapa ada cinta lawan jenis jika itu
dilarang. Lalu datang padaku sosok bercahaya yang melayang, aku takut tapi
penasaran. Dia bersayap dan tersenyum padaku. Ia mengahapus air mataku,
mengangkat daguku menyentuh tanganku dan membangkitkanku dari terduduk.
Aku
berharap dia malaikat jibril, tapi aku bukan nabi. Dan aku perempuan. Ia
menjelaskan padaku perkara cinta kepada lawan jenis, bahwa itu boleh saja namun
Allah maha pencemburu. Maka tak boleh cintaku kepada manusia melebihi cinta
kepada Allah. Lalu ia melayang mengilang dalam terang meninggalakan tenang
dalam hatiku. Aku tak bersedih lagi dan aku mencoba mencerna arti kata
sederhana itu.
Esoknya,
aku menemui dia yang bediri ditepi sehari lalu. Dengan niat yang tekat dan
sudah bulat serta dengan sholat istikharah yang khusuk semalam berangkai dengan
tahajjud semalam suntuk. Kembali ketepi aku berbisik dan hening sepeti sehari
lalu, namun tak berapa lama ia menoleh dan tersentak. Ia seolah tak percaya
dengan apa yang ia lihat. Tak lagi ada jubah, hanya pakaian muslim sederhana
dengan jilbab sederhana.
Entah
ia terpana atau tertikam sampai tak dapat berkata. Aku melepas cadarku
menunjukkan wajah padanya. Dan berkata bahwa aku mencintainya, dan berjanji
akan memberitahukan rahasia ini kepada manusia ramai. Tapi dengan satu syarat,
dia harus menikahiku sekarang. Dihadapan orang tuaku dan orang tuanya. Lalu aku
memasang kembali cadarku meninggalkannya seperti yang ia lakukan kepadaku.
Namun ia tak tertunduk dan menangis sepertiku, namun ia mengikuti langkahku.
Ia
berbisik memanggil namaku, aku hanya tersenyum. Ia berbisik kembali lalu hening
saat ia berhenti melangkah dan berkata dengan ragu bahwa ia telah dijodohkan
dengan sepupu dua kali dari ayahnya. Aku tersentak dijantung, lalu bebalik, aku
diam dan tertunduk lalu menangis lagi. Menghakiminya, menanyainya, mengapa ia
meminta pengakuan jika ia telah dijodohkan ?
Dia
menjelaskan bahwa, perjodohan itu terjadi kemarin. Ia menemuiku untuk
memabawaku sebagai sanggahan. Namun semua tak berjalan sesuai dengan rencana.
Sebab aku tak meyakinkannya. Kini semua harus kutelan pahit sepahit-pahitnya.
Inilah mengapa cinta kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta kepada
Allah, sebab cinta pada manusia ada kecewa sementara cinta kepada Allah ada hikmah.
Kini
aku menjauh tak menoleh lagi kepadanya, seandai mati tanpa menikah tidak
berdosa, aku takkan menikah. Kini aku menikah hanya dengan niat beribadah.
Karna itulah hakikat cinta kepada Allah, semua harus bernilai ibadah.
Biarkanlah
kisah ini menjadi rahasia yang suatu saat akan kurindukan. wassalam