“CANDA MATA”
PENULIS
: SOENARDIN AL-IMAN
Ada
yang merangkulku mesrah pagi ini, terasa hangat jemari lembut itu, menyentuh
badanku dengan lembut. Menjelajahi dadaku yang penuh resah, mengangkat daguku
memaksaku berpaling padanya dan meniti senyum sejengkal dari senyumnya. Aku
menatapnya dalam seolah aku mampu membaca fikirnya, bahwa ia tak bisa pergi, ia
ingin tinggal disini menutup hari disaat sore menjadi gelap dan temaram.
Tapi
aku tak bisa, ia akan mneyiksaku jika kubiarkan tinggal, ia akan mencabikku dengan
kejam, membuatku terluka dalam. Bukannya aku tega, tapi ia akan lebih tega dari
aku, dia lebih tak berperikemanusiaan daripada aku.
Dia
tak berwujud nyata memang, namun ia dapat menikamku dengan kejam tepat
dijantungku, “rindu” yah, dia memang hanya sekedar rindu yang menggelayutiku
sepanjang pagi, bahkan mungkin sepanjag nafasku semenjak aku mengenal perempuan
yang mengenalkan aku pada-nya (pada rindu).
Perempuan
yang entah datangnya dari mana, entah apa yang ia bawakan untukku sehingga aku
menantinya. Sebenarnya ini rumit, tapi akan kujelaskan sedikit lebih mudah.
Maryam adalah perempuan yang kukagumi selama ini, tapi waktu tak pernah
bersahabat denganku. Sebab aku tak pernah datang diwaktu yang tepat, mungkin
waktu tak merestui atau mungkin takdir ingi bercerita lain.
Mar,
aku tahu hatinya, aku kenal gelagaknya, ia memendam rindu yag sama terhadapku.
Tapi aku tak bisa memaksa diri, aku tak ingin merusak apa yang sudah indah, apa
yang memang sepatutnya tidak aku usik. Rumah cinta mar yang ia bangun dari
kesedihan masa lalunya, dari lelaki yang pernah menghianatinya kini perlahan
mengindah bersama lelaki yag kini mendampinginya. Sebab itulah tak sudi aku
merusakkan apa yang sudah kuanggap benar itu, meski aku harus tersiksa batin
menahan rindu yang memelukku setiap pagi.
Hari
ini, aku menatapnya tajam di perjalanan, hanya senyum sebatas diam yang
terpapar diantara kami. Tapi tahukah kalian, ada canda mata yang sedang kami
rangkai dalam dialog diam itu. Dimana seluruh tubuhku seolah ikut berkata bahwa
aku ingin merangkul senyummu, memasukkannya kedalam toples lalu kubawaa pulang.
Kemudian akan kubawa kelaboratorium agar aku tau apa kandungan yang membuat
senyummu menyamankan pandangan.
Oh
mar, biarkan cerita ini menjadi sebatas cerita. Apapun harapan mu, dan apapun
harapanku mari kita berharap agar Tuhan berharap sama dengan kita.
