Selasa, 27 Desember 2016

Canda mata



“CANDA MATA”
PENULIS : SOENARDIN AL-IMAN
Ada yang merangkulku mesrah pagi ini, terasa hangat jemari lembut itu, menyentuh badanku dengan lembut. Menjelajahi dadaku yang penuh resah, mengangkat daguku memaksaku berpaling padanya dan meniti senyum sejengkal dari senyumnya. Aku menatapnya dalam seolah aku mampu membaca fikirnya, bahwa ia tak bisa pergi, ia ingin tinggal disini menutup hari disaat sore menjadi gelap dan temaram.
Tapi aku tak bisa, ia akan mneyiksaku jika kubiarkan tinggal, ia akan mencabikku dengan kejam, membuatku terluka dalam. Bukannya aku tega, tapi ia akan lebih tega dari aku, dia lebih tak berperikemanusiaan daripada aku.
Dia tak berwujud nyata memang, namun ia dapat menikamku dengan kejam tepat dijantungku, “rindu” yah, dia memang hanya sekedar rindu yang menggelayutiku sepanjang pagi, bahkan mungkin sepanjag nafasku semenjak aku mengenal perempuan yang mengenalkan aku pada-nya (pada rindu).
Perempuan yang entah datangnya dari mana, entah apa yang ia bawakan untukku sehingga aku menantinya. Sebenarnya ini rumit, tapi akan kujelaskan sedikit lebih mudah. Maryam adalah perempuan yang kukagumi selama ini, tapi waktu tak pernah bersahabat denganku. Sebab aku tak pernah datang diwaktu yang tepat, mungkin waktu tak merestui atau mungkin takdir ingi bercerita lain.
Mar, aku tahu hatinya, aku kenal gelagaknya, ia memendam rindu yag sama terhadapku. Tapi aku tak bisa memaksa diri, aku tak ingin merusak apa yang sudah indah, apa yang memang sepatutnya tidak aku usik. Rumah cinta mar yang ia bangun dari kesedihan masa lalunya, dari lelaki yang pernah menghianatinya kini perlahan mengindah bersama lelaki yag kini mendampinginya. Sebab itulah tak sudi aku merusakkan apa yang sudah kuanggap benar itu, meski aku harus tersiksa batin menahan rindu yang memelukku setiap pagi.
Hari ini, aku menatapnya tajam di perjalanan, hanya senyum sebatas diam yang terpapar diantara kami. Tapi tahukah kalian, ada canda mata yang sedang kami rangkai dalam dialog diam itu. Dimana seluruh tubuhku seolah ikut berkata bahwa aku ingin merangkul senyummu, memasukkannya kedalam toples lalu kubawaa pulang. Kemudian akan kubawa kelaboratorium agar aku tau apa kandungan yang membuat senyummu menyamankan pandangan.
Oh mar, biarkan cerita ini menjadi sebatas cerita. Apapun harapan mu, dan apapun harapanku mari kita berharap agar Tuhan berharap sama dengan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar