LOGIKA
BUTA
Cerpen
Karangan
: Soenardin Al-Iman
Begemuruh getaran jantungku ketika aku melihat bulan. Bulan yang melenakan mataku yang tak begitu besar mirip manusia berketurunan China atau Jepang. Dulu saat usiaku menyentuh angka 19 tahun aku terbiasa menatap bulan bersamanya, kami belajar menggegam bulan dengan menutup sebelah mata kami. Syahdu benar setiap malam yang berlalu itu, berirama candaanku tentang bulan serta tentang kekagumanku pada bulan. Aku melihat bulan pada dirinya, keindahannya, cahaya temaramnya yang menenangkan, dia yang pada waktu indah itu kusebut kekasih.
Begemuruh getaran jantungku ketika aku melihat bulan. Bulan yang melenakan mataku yang tak begitu besar mirip manusia berketurunan China atau Jepang. Dulu saat usiaku menyentuh angka 19 tahun aku terbiasa menatap bulan bersamanya, kami belajar menggegam bulan dengan menutup sebelah mata kami. Syahdu benar setiap malam yang berlalu itu, berirama candaanku tentang bulan serta tentang kekagumanku pada bulan. Aku melihat bulan pada dirinya, keindahannya, cahaya temaramnya yang menenangkan, dia yang pada waktu indah itu kusebut kekasih.
Ini
kali pertama ia menjalin ikatan kasih sayang dengan seoang lelaki. Akulah yang
telah melunakkan pandangannya tentang “No Couple Before Akad”. Ia seorang yang
taat beragama begitu pula aku, mungkin itulah yang menyatukan kami. Sebab lelaki
baik memang untuk wanita baik. Ia memang berasal dari Negara yang sama
denganku, ia juga merupakan kemenakanku tapi lebih kusuka menganggapnya
sepupuku karna usia kami yang tak terpaut jauh. Namun kedua orang tuanya
mengadu nasib diperantaun, memaksanya untuk berpindah tempat makan kenegeri Jiran, Malaysia.
Kisah
ini bermula saat ia kembali ke Indonesia untuk melihat keluargnya, utamanya
neneknya yang sudah tua rentah dan tak mampu bercakap lagi. Sekaligus melepas
rindu dengan sanak keluarganya yang telah bermakan tahun ia tinggal. Aku
terheran melihatnya tumbuh besar seperti ini, telah menjadi makhluk cantik yang
merenggu hatiku secara indah. Rasanya aku malu untuk memulai bicara, malu untuk
menegur, takut ia tak kenal wajahku lagi. Sebab lebih sepuluh tahun, saat kami
masih kanak ia pergi ke negeri seberang.
Hari
berlalu, aku tahu ia takkan lama tinggal disini sebab piring kehidupannya bukan
disini. Rumahnya tepat tak begitu jauh dari kediamanku, sebab itulah aku biasa
memperhatikannya dalam persembunyian, karna aku malu untuk menemuinya. Teman,
kerabat jauh maupun dekat bergantian datang padanya, tapi tidak dengan aku, aku
hanya sesekali menatap kearah kerumunan manusia yang tersenyum meriah diteras rumahnya.
Tidak mengenal sore, tidak mengenal pagi tetap saja ramai, dan tetap saja aku
tak berani.
Namun
keadaan memaksaku untuk melihantnya secara dekat, saat ibu telah melaksanakan
sebuah pesta aku disuruhnya untuk mengantarkan kerumah “Siti Aulia Khayyirah”
itulah nama dari gadis yang kukagumi dipersembunyianku. Tapi aku lebih senang
memanggilnya “Yirah”. Tergugup aku saat melangkah masuk kedalam rumah itu. Aku
mulai mengetuk pintu dan memberi salam, suaraku tak kubuat besar, aku takut
terlalu ramai orang menghampiri lebih lagi jika Yirah juga datang. Tapi syukur
yang datang kalah itu menjemput makanan yang kubawah adalah Lili, adiknya. Lili
tau namaku “Ahmad” mungkin ibuku atau ibunya yang memberitahukan, sebab kala
itu Lili belum lahir saat keluarganya masih tinggal dinegara ini. Aku pun
berpamitan kepada Lili.
“assalamualikum Lili, abang balik
dulu yah”
“iya bang, hati-hati”
Aku
berputar 180 derajat sambil mengelus dada, dengan rasa syukur dan pandangan
tertunduk aku melangkah menjauh dari rumah itu, namun tiba-tiba terdengar
senyap namun merdu sepertinya ada suara perempuan yang memanggil namaku.
“bang Ahmad ?”
Aku
mengangkat dagu, mencoba berputar dan mengamati sekeliling, menerka-nerka
dari mana suara itu berasal, ternyata suara itu berasal dari hadapanku, bukan
dari belakangku. Ternyata suara itu berasal dari bibir seorang gadis yang
beranjak dewasa, putih wajahnya seperti cahaya mentari dibelakang rumahku saat
pagi, pakaian yang ia kenakan membuatku sungkan untuk menatapnya lama, ibarat
memakai sarung dilapis atas dan sarung dilapis bawah, yang dapat kulihat hanya
wajah dan jemari putihnya yang dihiasi cincin emas khas anak perantauan. Ia
menyapaku.
“bang Ahmad ? bang Ahmad ingat Yirah
tidak ?”
“ingat, Yirah sekarang sudah besar
yah, sudah cantik juga”
“abang nih mengade betul, aku biasa
lah bang”
“aku fikir Yirah sudah tidak
mengenal abang lagi”
“kenal bang, masa tuh kan aku sudah duduk di taman kanak-kanak, aku dah bisa ingat semua orang”
Sedikit
lama percakapan itu berlangsung, hingga berakhir dengan bertukaran alamat
sosial media. Kami pun melanjutkan obrolan kami melalui sosial media, yang membuat kami
saling mengerti dan lebih mengenal lagi. Tuhan tidak menghambat perasaanku dan
perasanya untuk menyatu, hari-hari kulalui begitu indah dengannya hingga waktu
untuk ia kembali kenegerinya dan meninggalkan negeriku, tempat kami membangun
mimpi sudah tiba.
Malam
sekitar pukul sebelas malam, aku melepasnya menuju bandara, tidak kuasa air
mata kutahankan. Aku berlari bersembunyi dibalik kegelapan malam, kuhapus air
mata lalu kudekati dia dan menjabat tangannya yang halus, ia menangis terseduh
aku hanya sanggup meringis melepasnya. Malu jika ada orang yang tau lelaki yang
dianggap dewasa ini menangis.
Sebulan
setelah ia pergi, aku berkenalan dengan sosok perempuan yang membuatku nyaman.
Aku tau aku masih mempunyai hubungan dengan Yirah tapi “Qalbi” wanita yang
mengobati rindu yang mendekapku terhadap Yira. Aku tidak tau harus berkata apa,
disisi lain aku membutuhkan sosok bukan bayangan ilusi, disisi lain perasaan
batinku berbisik memaksa aku untuk tidak berhianat kepada janji yang kuucap
dengan sadar dulu. Tapi kekhilafan menghampiriku, aku berhianat. Seminggu
setelahnya Yirah tau, dari kerabatnya yang tinggal didekat rumahku, Yirah marah
besar, ia tak berkata kasar padaku, ia tidak mencaciku, namun ia hanya
mendiamkanku. Didiamkan oleh seorang yang kita sayangi seperti membeku dikutub
utara, seperti kekeringan tanpa air di gurun sahara. Akhirnya Yirah memutuskan
untuk mengakhiri hubungan kami. Qalbi yang akhirnya juga tau bahwa ia pernah
kuduakan, memilih untuk mencaciku dan pergi juga. Tinggal aku sendiri bermain
dengan penyesalan yang sudah kutau akan menghampiri.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih sendiri tak beranjak dan tak bergeming. Aku sudah
bangkit tapi aku memutuskan untuk tidak membuka hati dulu sebelum bertemu
dengan seseorang yang benar-benar tepat. Akhirnya Yirah datang kembali setelah
tiga tahun tidak kudengar kabarnya, ia datang untuk melihat neneknya yang
sedang sekarat digerogoti penyakit tua yang menimpanya. Kami akhirnya bertemu
dan bercerita, aku menghaturkan permohonan maaf dan penyesalanku, ia sudah
menerima dan tidak ingin mengungkit lagi masalah itu.
Selang
waktu, nenek Yirah akhirnya membaik, tapi ia punya permintaan agar cucunya
“Syifa” yakni kakak tertua Yirah segera dinikahkan. Ia ingin melihat salah satu
cucu kesayangannya menikah, sempit dunia atau inikah yang disebut takdir Tuhan.
Akulah lelaki yang dipilih keluarga Syifa untuk mempersuntingnya, keluarga,
kerabat, ibuku, ibu Syifa semua setuju. Aku berusaha menemui Yirah tapi, tak
pernah berhasil ia menyibukkan diri, entah sengaja menghindar atau apa. Hingga
kuputuskan untuk menemui Syifa, calon istri persembahan keluargaku.
“assalamualaikum Syifa, bolehkah
kita berbicara ?”
“iya Ahmad, ada apa ?” Syifa hanya
memanggil namaku, karna kami memang seumuran.
“apa kamu siap untuk menikah denganku ?, tidak kah ada keterpaksaan yang menggelayuti hati dan fikiranmu ?”
“tidak Ahmad, kau adalah lelaki
yang baik, beruntung betul aku jika bisa menikah dengan lelaki soleh dan tampan
sepertimu, terlebih keluarga kita memang sudah saling sepakat dan menganggap
ini adalah yang terbaik untuk kita berdua”
Tak
dapat kutaru alasan untuk melepas pernikahanku dengan Syifa. Melamun aku
sepanjang malam, hingga hari pernikahanku tiba, aku yang berpakaian khas suku Bugis dan Syifa pun memakai pakaian adat yang sama, cantik benar ia malam itu.
Tak dapat kupungkiri bahwa aku juga kagum dengan keelokan Syifa, akhlak
terlebih wajahnya. Namun, disisi berseberangan aku terus memikirkan perasaan Yirah yang pernah mencipta kisah indah bersamaku dimasa lalu.
Seusia
pernikahan Syifa mengajakku untuk berpindah kenegeri seberang, katanya hidup
disana lebih terjamin dan titleku sebagai Sarjana Ekonomi akan sangat berguna untuk
menopang rumah tangga kami. Namun Syifa memaksaku untuk tinggal bersama orang
tuanya dulu, sambil mencari rumah yang tepat untuk kami tinggali menghabiskan
masa demi masa bersama keturunan kami nantinya.
Rumit
hatiku ketika harus bertemu dengan Yirah setiap hari, Yirah yang senyumnya
sangat manis namun tak lagi ia berikan padaku semenjak pernikahanku dengan Syifa. Hingga suatu ketika saat Syifa pergi berbelanja dengan ibu mertuaku
kepasar. Ayah mertuaku memang setiap pagi pergi bekerja setelah sore baru ia
kembali. Lili sedang sekolah dan Syifa yang sekarang telah menjadi guru
disekolah menengah itu terlupa akan sesuatu dirumah, aku yang kebetulan sedang
demam ringan tak pergi bekerja kala itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak,
coba kutanya kepada Yirah apa yang membuatnya tak ingin bicara padaku.
“Yirah, bisakah kita bicara sebentar ?”
Yirah
hanya berlalu, memasuki kamarnya sepertinya ia mencari sesuatu. Dia terus tak
memerdulikan aku. Aku terus berusaha mengajaknya bicara, hingga akhirnya dia
melempar tempat pensil yang membuat suasana rumah menjadi gaduh, pensil
berserakan, aku panik, aku takut Yirah tiba-tiba menangis.
“kenapa kamu menangis Yirah ?”
“aku benci abang, kenapa abang
harus menikah dengan kakak Syifa, kakak juga ingin menghianatinya seperti kakak
menghianatiku dulu, aku sudah terlalu sayang dan terlalu mengagumi abang tapi
abang tega menghianatiku”
“Yirah, ini semua karna kita tidak berjodoh, dan jodohku adalah Syifa kakakmu, aku mengaku salah akan apa yang
kulakukan dahulu padamu, aku mengaku salah”
“mengapa kakak Syifa yang abang
nikahi, mengapa bukan orang lain ? mengapa aku harus menangis hati melihat
kemesraan abang dengan kakak saat pagi sebelum abang pergi bekerja, abang
mencium kening kakak, menonton film berdua dengan kaka hingga larut malam, yang
membuatku cemburu, aku sangat cemburu, tolong tinggalkan kakakku dan menikahlah
dengan orang lain bang, itu mauku, wassalam”
Syifa
berlalu menciptakan kebingungan yang luar biasa dikepalaku, aku serasa ingin
meledak, tak sanggup kuceritakan ini kepada istriku, aku takut ia terluka, aku
takut mereka saling membenci. Waktu kewaktu mulai membuat Yirah berubah, ia tak
lagi berkerudung besar, ia mulai sering marah didalam rumah. Aku merasa kasihan
padannya. Tak kuberitahukan apa-apa tentang perkataan Yirah. Hingga suatu
malam Yirah pulang dalam keadaan mabuk, entah darimana dan apa yang telah ia
lakukan diluar sana. Ia mulai meneriaki semua orang didalam rumah dan
menceritakan semuanya, tentang perasaannya yang ia pendam bahwa ia merasa ia
lebih pantas menikah dengan aku daripada Syifa. Syifa terpukul dan menangis
memelukku.
Hari
berlalu Yirah semakin diluar kendali, hingga Syifa istriku yang kucintai namun
sangat menyayangi adiknya memberiku ide sinting untuk dilakukan. Ia memintaku
untuk menceraikannya, lalu menikahi adiknya.
“apa yang engkau bicarakan Syifa ?
aku ini suamimu, apakah engkau tidak mencintaiku ?”
“Ahmad suamiku, aku sangat
mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, tapi aku tak tahan melihat
adikku menderita, ia tak seharusnya seperti ini. Semua ini karna aku, semua ini
karna aku Ahmad”
“tidak Syifa, kau adalah jodohku,
Tuhan telah menunjukmu untukku, aku takkan meninggalkanmu”
Suasana
rumah menjadi mencekam, kedua mertuaku tidak bisa berkata apa-apa lagi, Yirah
terpaksa dikurung didalam kamar. Syifa terus memaksaku untuk menalaknya, satu
jawabanku padanya bahwa aku tak bisa. Hingga malam mencekam kelam, bulan bijak
menuntunku menatapnya semalaman, aku duduk diluar rumah sambil menghisap rokok
yang entah telah berapa yang habis. Tiba-tiba kudengar jeritan dari Lili yang
ringkik memekakan telinga. Aku melompat, dan berlari kedalam rumah mencoba
mencari dimana Lili berteriak dan apa yang membuatnya berteriak seperti itu.
Kucari dari arah kamar Lili, lili tak ada, lalu aku menuju kamar Yirah dan
memaksa mendobrak pintu tapi aku hanya melihat Yirah yang amat mengenaskan
kusam didalam kamar itu. Aku berlari menuju kamar belakang melewati kamarku,
tak kutemukan siapapun, ibu mertuaku tiba-tiba menjerit menyebut namaku, Ahmad,,,Ahmad, dari arah belakang. Aku berlari tak berhela nafas, sesampaiku
disana berdiri terpaku Lili sambil menangis menjerit, ibu mertuaku sudah
meringkuk memukul-mukul ubin dilantai seakan ia tidak terima dengan apa yang
terjadi, lalu kulihat ayah mertuaku sedang memeluk erat anak perempuan
kesayangan dan kebanggaannya, telah terkulai lemas didalam wc, dengan tangan
bersimbah darah. Syifa memilih mengakhiri hidupnya agar aku bisa menikahi
adiknya, dan menghentikan penderitaan adiknya.
Tak
sanggup aku berfikir, kumaki dalam hati Syifa didepan nisannya.
“mengapa engkau sebodoh ini,
tidak tahukah engkau bahwa surga tak akan menerimamu jika seperti ini, aku
sangat mencintaimu” bujuklah Tuhan untuk menghidupkanmu dan menjadikan kejadian
mengerikan itu sebagai mimpi belaka”
Tapi
nisan tak menjawab, aku kembali kerumah dengan wajah lesu setelah menangis
bertubi-tubi, sesak kehilangan Syifa sangat membunuh perasaanku. Aku mulai
kehilangan logika. Aku merasa sangat membenci Yirah, aku menganggap dialah yang
telah membunuh Syifaku, tujuh hari setelah kematian Syifa, aku tak dapat
membendung amarahku, aku mendatangi Yirah yang lebih mirip orang mati didalam
kamarnya. Aku mulai mencacinya, memaksanya untuk menghidupkan kembali istriku,
aku bersumpah untuk tidak akan menikahinya dan rasanya ingin kubunuh Yirah kala
itu. Aku berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau, Lili menahanku, aku
memberontak, ayah mertuaku ikut mencegahku, seisi rumah yang saat itu sedang
mendoakan 7 hari kematian Syifa ikut menahanku, tapi pisau tak kulepas kugenggam
terlalu erat dengan amarah diubun-ubun. Aku memberontak ingin kutikam Yirah tapi
tak kujangkau terlalu banyak orang menghalangi, akhirnya kuputar arah pisau
menuju diafragmaku sendiri. Kutusuk lalu kuputar sambil berteriak kesakitan,
aku lebih merasa sakit dibatin daripada sakit menjelang mati. Cinta yang
mengajarkanku tentang keindahan dan ketulusan, cinta juga yang membuatku
membunuh logika. Ingin kususul cintaku keneraka, dan kubangun istana kepedihan
bersamanya.
“SEKIAN”
LOGIKA
BUTA
Cerpen
Karangan
: Soenardin Al-Iman
Begemuruh
getaran jantungku ketika aku melihat bulan. Bulan yang melenakan mataku yang
tak begitu besar mirip manusia berketurunan china atau jepang. Dulu saat usiaku
menyentuh angka 19 tahun aku terbiasa menatap bulan bersamanya, kami belajar
menggegam bulan dengan menutup sebelah mata kami. Syahdu benar setiap malam
yang berlalu itu, berirama candaanku tentang bulan serta tentang kekagumanku
pada bulan. Aku melihat bulan pada dirinya, keindahannya, cahaya temaramnya
yang menenangkan, dia yang pada waktu indah itu kusebut kekasih.
Ini
kali pertama ia menjalin ikatan kasih sayang dengan seoang lelaki. Akulah yang
telah melunakkan pandangannya tentang “no couple before akad”. Ia seorang yang
taat Bergama begitu pula aku, mungkin itulah yang menyatukan kami. Sebab lelaki
baik memang untuk wanita baik. Ia memang berasal dari Negara yang sama
denganku, ia juga merupakan kemenakanku tapi lebih kusuka menganggapnya
sepupuku karna usia kami yang tak terpaut jauh. Namun kedua orang tuanya
mengadu nasib diperantaun, memaksanya untuk berpindah tempat makan kenegeri
jiran Malaysia.
Kisah
ini bermula saat ia kembali ke Indonesia untuk melihat keluargnya, utamanya
neneknya yang sudah tua rentah dan tak mampu bercakap lagi. Sekaligus melepas
rindu dengan sanak keluarganya yang telah bermakan tahun ia tinggal. Aku
terheran melihatnya tumbuh besar seperti ini, telah menjadi mahluk cantin yang
merenggu hatiku secara indah. Rasanya aku malu untuk memulai bica, malu untuk
menegur, taku ia tak kenal wajahku lagi. Sebab lebih sepuluh tahun, saat kami
masih kanak ia pergi kenegeri seberang.
Hari
berlalu, aku tahu ia takkan lama tinggal disini sebab piring kehidupannya bukan
disini. Rumahnya tepat tak begitu jauh dari kediamanku, sebab itulah aku biasa
memperhatikannya dalam persembunyian, karna aku malu untuk menemuinya. Teman,
kerabat jauh maupun dekat bergantian datang padanya, tapi tidak dengan aku aku
hanya sesekali menatap kearah kerumunan manusia yang tersenyum meriah diteras rumahnya.
Tidak mengenal sore, tidak mengenal pagi tetap saja ramai, dan tetap saja aku
tak berani.
Namun
keadaan memaksaku untuk melihantnya secara dekat, saat ibu telah melaksanakan
sebuah pesta aku disuruhnya untuk mengantarkan kerumah “siti aulia khayyirah”
itulah nama dari gadis yang kukagumi dipersembunyianku. Tapi aku lebih senang
memanggilnya “yirah”. Tergugup aku saat melangkah masuk kedalam rumah itu. Aku
mulai mengetuk pintu dan memberi salam, suaraku tak kubuat besar, aku takut
terlalu ramai orang menghampiri lebih lagi jika yirah juga datang. Tapi syukur
yang datang kalah itu menjemput makanan yang kubawah adalah lili adiknya. Lili
tau namaku “ahmad” mungkin aku ibuku atau ibunya yang memberitahu, sebab kala
itu lili belum lahir saat keluarganya masih tinggal dinegara ini. Aku pun
berpamitan kepada lili.
“assalamualikum lili, abang balik
dulu yah”
“iya bang, hati-hati”
Aku
berputar 180 derajat semabil mengelus dada, dengan rasa syukur dan pandangan
tertunduk aku melangkah menjauh dari rumah itu, namun tiba-tiba terdengar
senyap namun merdu sepertinya ada suara perempuan yang memanggil namaku.
“bang ahmad ?”
Aku
mengangkat dagu, mencoba berputar dan mengamati sekeliling, menerka-nerka
darimana suara itu berasal,ternyata suara itu berasal dari hadapanku, bukan
dari belakangku. Ternyata suara itu berasal dari bibir seorang gadis yang
beranjak dewasa, putih wajahnya seperti cahaya mentari dibelakang rumahku saat
pagi, pakaian yang ia kenakan membuatku sungkan untuk menatapnya lama, ibarat
memakai sarung dilapis atas dan sarung dilapis bawah, yang dapat kulihat hanya
wajah dan jemari putihnya yang dihiasi cincin emas khas anak perantauan. Ia
menyapaku.
“bang ahmad ? bang ahmad ingat yirah
tidak ?”
“ingat, yirah sekarang sudah besar
yah, sudah cantik juga”
“abang nih mengade betul, aku biasa
lah bang”
“aku fikir yirah sudah tidak
mengenal abang lagi”
“kenal bang, masa tuh kan aku dan
duduk di taman kanak-kanak aku dah bisa ingat semua orang”
Sedikit
lama percakapan itu berlangsung, hingga berakhir dengan bertukaran alamat
sosial media. Kamipun melanjutkan obrolan kami melalui aku, yang membuat kami
saling mengerti dan lebih mengenal lagi. Tuhan tidak menghambat perasaanku dan
perasanya untuk menyatu, hari-hari kulalui begitu indah dengannya hingga waktu
untuk ia kembali kenegerinya dan meninggalkan negeriku, tempat kami membangun
mimpi sudah tiba.
Malam
sekitar pukul sebelas malam, aku melepasnya menuju bandara, tidak kuasa air
mata kutahankan. Aku berlalri bersembunyi dibalik kegelapan malam, kuhapus air
mata lalu kudekati dia dan menjabat tangannya yang halus, ia menangis terseduh
aku hanya sanggup meringis melepasnya.malu jika ada orang yang tau lelaki yang
dianggap dewasa ini menangis.
Sebulan
setelah ia pergi, aku berkenalan dengan sosok perempuan yang membuatku nyaman.
Aku tau aku masih mempunyai hubungan dengan yirah tapi “Qalbi” wanita yang
mengobati rindu yang mendekapku terhadap yira. Aku tidak tau harus berkata apa,
disisi lain aku membutuhkan sosok bukan bayangan ilusi, disisi lain perasaan
batinku berbisiki memaksa aku untuk tidak berhianat kepada janji yang kuucap
dengan sadar dulu. Tapi kekhilafan menghampiriku, aku berhianat. Seminggu
setelahnya yirah tau, dari kerbatnya yang tinggal didekat rumahku, yirah marah
besar, ia tak berkata kasar padaku, ia tidak mencaciku, namun ia hanya
mendiamkanku. Didiamkan oleh seorang yang kita sayangi seperti membeku dikutub
utara, seperti kekeringan tanpa air di gurun sahara. Akhirnya yirah memutuskan
untuk mengakhiri hubungan kami. Qalbi yang akhirnya juga tau bahwa ia pernah
kuduakan, memilih untuk mencaciku dan pergi juga. Tinggal aku sendiri bermain
dengan penyesalan yang sudah kutau akan menghampiri.
Tiga
Tahu telah beralu, aku masih sendiri tak beranjak dan tak bergeming. Aku sudah
bangkit tapi aku memutuskan untuk tidak membuka hati dulu sebelum bertemu
dengan seseorang yang benar-benar tepat. Akhirnya yirah datang kembali setelah
tiga tahun tidak kudengar kabarnya, ia datang untuk melihat neneknya yang
sedang sekarat digerogoti penyakit tua yang menimpanya. Kami akhirnya bertemu
dan bercerita, aku menghaturkan permohonan maaf dan penyesalanku, ia suah
menerima dan tidak ingin mengungkit lagi masalah itu.
Selang
waktu, nenek yirah akhirnya membaik, tapi ia punya permintaan agar cucunya
“syifa” yakni kakak tertua yirah segera dinikahkan. Ia ingin melihat salah satu
cucu kesayangannya menikah, sempit dunia atau inikah yang disebut takdir Tuhan.
Akulah lelaki yang dipilih keluarga syifa untuk mempersuntingnya, keluarga,
kerabat, ibuku, ibu syifa semua setuju. Aku berusaha menemui yirah tapi, tak
pernah berhasil ia menyibukkan diri, entah sengaja menghindar atau apa. Hingga
kuputuskan untuk menemui syifa, calon istri persembahan keluargaku.
“assalamualaikum syifa, belahkah
kita berbicara ?”
“iya ahmad, ada apa ?” syifa hanya
memanggil namaku, karna kami memang seumuran.
“apa kamu siap untuk menikah
denganku, tidak kah ada keterpaksaan yang menggelayuti hati dan fikiranmu ?”
“tidak ahmad, kau adalah lelaki
yang baik, beruntung betul aku jika bisa menikah dengan lelaki soleh dan tampan
sepertimu, terlebih keluarga kita memang sudah saling sepakat dan menganggap
ini adalah yang terbaik utnuk kita berdua”
Tak
dapat kutari alasan untuk melepas pernikahanku dengan syifa. Melamun aku
sepanjang malam, hingga hari pernikahanku tiba, aku yang berpakaian khas suku
bugis dan syifa pun memakai pakaian adat yang sama, cantik benar ia malam itu.
Tak dapat kupungkiri bahwa aku juga kagum dengan keelokan sifat, akhlak
terlebih wajahnya. Namun, disisi berseberangan aku terus memikirkan perasaan
yirah yang pernah mencipta kisah indah bersamaku dimasa lalu.
Seusia
pernikahan syifa mengajakku untuk berpindah kenegeri seberang, katanya hidup
disana lebih terjamin dan titleku sebagai sarjan ekonomi akan sangat berguna untuk
menopang rumah tangga kami. Namun syifa memaksaku untuk tinggal bersama orang
tuanya dulu, sambil mencari rumah yang tepat untuk kami tinggali mengahbiskan
masa demi masa bersama keturunan kami nantinya.
Rumit
hatiku ketika harus bertemu dengan yirah setiap hari, yirah yang senyumnya
sangat manis namun tak lagi ia berikan padaku semenjak pernikahanku dengan
syifa. Hingga suatau ketika saat syifa pergi berbelanja dengan ibu mertuaku
kepasar. Ayah mertuaku memang setiap pagi pergi bekerja setelah sore baru ia
kembali. Lili sedang sekolah dan syifa yang sekarang telah menjadi guru
disekoalh menengah itu terlupa akan sesuatu dirumah, aku yang kebetulan sedang
demam ringan tak pergi bekerja kala itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak,
coba kutanya kepada yirah apa yang membuatnya tak ingin bicara padaku.
“yirah, bisaka kita bicara sebentar”
Yirah
hanya berlalu, memasuki kamarnya sepertinya ia mencari sesuatu. Dia terus tak
memerdulikan aku. Aku terus berusaha mengajaknya bicara, hingga akhirnya dia
melempar tempat pensil yang membuat suasna rumah menjadi gaduh, pensil
berserakan, aku panic, aku takut yirah tiba-tiab menangis.
“kenapa kamu menangis yirah ?”
“aku benci abang, kenapa abang
harus menikah dengan kaka syifa, kaka juga ingin menghianatinya seperti kakak
mengianantiku dulu, aku sudah terlalu sayang dan terlalu mengagumi abang tapi
abang tega menghianatiku”
“yirah, ini semua karna kita
berjodoh, dan jodohku adalah syifa kakakmu, aku mengaku salah akan apa yang
kulakukan dahulu padamu, aku mengaku salah”
“mengapa kakak syifa yang abang
nikahi, mengapa bukan orang lain ? mengapa aku harus menangis hati melihat
kemesraan abang dengan kakak saat pagi sebelum abang pergi bekerja, abang
mencium kening kaka, menonton film berdua dengan kaka hingga larut malam, yang
membuatku cemburu, aku sangat cemburu, tolong tinggalkan kakakku dan menikahlah
dengan orang lain bang itu mauku, wassalam”
Syifa
berlalu menciptakan kebingungan yang luar biasa dikepalaku, aku serasa ingin
meledak, tak sanggup kuceritakan ini kepada istriku, aku taku ia teruka, aku
takut mereka saling membenci. Waktu kewaktu mulai membuat yirah berubah, ia tak
lagi berkerudung besar, ia mulai sering marah didalam rumah. Aku merasa kasihan
padannya. Tak kuberitahukan apa-apa tentang perkataan yirah. Hingga suatau
malam yirah pulang dalam keadaan mabuk, entah darimana dan apa yang telah ia
lakukan diluar sana. Ia mulai meneriaki semua orang didalam rumah dan
menceritakn semuanya, tentang perasaanya yang ia pendam bahwa ia merasa ia
lebih pantas menikah dengan aku daripada syifa. Syifa terpukul dan menangis
memelukku.
Hari
berlalu yirah semakin diluar kendali, hingga syifa istriku yang kucintai namun
sangat menyayangi adiknya memberiku ide sinting untuk dilakukan. Ia memintaku
untuk menceraikannya, lalu menikahi adiknya.
“apa yang engkau bicarakan syifa ?
aku ini suamimu, apa engkau tidak mencintaiku ?”
“ahmad suamiku, aku sangat
mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, tapi aku tak tahan melihat
adikku menderita, ia tak seharusnya seperti ini. Semua ini karna aku, semua ini
karna aku ahmad”
“tidak syifa, kau adalah jodohku,
Tuhan telah menunjukmu untukku aku takkan meninggalkanmu”
Suasana
rumah menjadi mencekam, kedau mertuaku tidak bisa berkata apa-apa lagi, yirah
terpaksa dikurung didalam kamar. Syifa terus memaksaku untuk menalaknya, satu
jawabanku padanya bahwa aku tak bisa. Hingga malam mencekam kelam, bulan bijak
menuntunku menatapnya semalaman, aku duduk diluar rumah sambil menghisap rokok
yang entah telah berapa yang habis. Tiba-tiba kudengar jeritan dari lili yang
ringkik memekakan telingah. Aku melompat, dan berlari kedalam rumah mencoba
mencarri dimana lili berteriak dan apa yang membuatnya berteriak seperti itu.
Kucari dari arah kamar lili, lili taka da, lalu aku menuju kamar syifa dan
memaksa mendobrak pintu tapi aku hanya melihat syifa yang amat mengenaskan
kusam didalam kamar itu. Aku berlari menuju kamar belakang melewati kamarku,
tak kutemukan siapapun, ibu mertuaku tiba-tiba menjerit menyebut namaku,
ahmad,ahmad, dari arah belakang. Aku berlari tak berhela nafas sesampaiku
disana berdiri terpaku lili sambil menangis menjerit, ibu mertuaku sudah
meringkuk memukul-mukul ubin dilantai seakan ia tidak terima dengan apa yang
terjadi, lalu kulihat ayah mertuaku sedang memeluk erat anak perempuan
kesayangannya kebanggannya, telah terkulai lemas didalam wc, dengan tangan
bersimabh dara. Syifa memilih mengakhiri hidupnya agar aku bisa menikahi
adiknya, dan menghentikan penderitaan adiknya.
Tak
sanggup aku berfikir, kumaki dalam hati syifa didepan nisannya.
“mengapa engkau sebodoh ini,
tidak tahukah engkau bahwa surga tak akan menerimamu jika seperti ini, aku
sangat mencintaimu” bujuklah Tuhan untuk menghidupkanmu dan menjadikan kejadian
mengerikan itu sebagai mimpi belaka”
Tapi
nisan tak menjawab, aku kemabli kerumah dengan wajah lesu setelah menagis
bertubi-tubi, sesak kehilangan syifa sangat membunuh perasaanku. Aku mulai
kehilangan logika. Aku merasa sangat membenci yirah, aku menganggap dialah yang
telah membunuh syifaku, tujuh hari setelah kematian syifa aku tak dapat
membendung amarahku, aku mendatangi syifa yang lebih mirip orang mati di dalam
kamarnya. Aku mulai mencacinya, memaksanya untuk menghidupkan kembali istriku,
aku bersumpah untuk tidak akan menikahinya dan rasanya ingin kubunuh syifa kala
itu. Aku berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau lili menahanku, aku
memberontak, ayah mertuaku ikut mencegahku, seisi rumah yang saat itu sedang
mendoakan 7 hari kematian syifa ikut menahanku, tapi pisau tak kulepas kugenggam
teralu erat dengan amarah diubun-ubun. Aku memberontak ingin kutikam syifa tapi
tak kujangkau terlalu banyak orang mengahalangi, akhirnya kuputar arah pisau
menuju diafragmaku sendiri. Kutusuk lalu kuputar sambil berteriak kesakitan,
aku lebih merasa sakit dibatin daripada sakit menjelang mati. Cinta yang
mengajarkanku tentang keindahan dan ketulusan, cinta juga yang membuatku
membunuh logika. Ingin kususul cintaku keneraka, dan kubangun istana kepedihan
bersamanya.
“SEKIAN”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar