Sabtu, 05 Maret 2016

KARANGAN I



LOGIKA BUTA
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-Iman

 Begemuruh getaran jantungku ketika aku melihat bulan. Bulan yang melenakan mataku yang tak begitu besar mirip manusia berketurunan China atau Jepang. Dulu saat usiaku menyentuh angka 19 tahun aku terbiasa menatap bulan bersamanya, kami belajar menggegam bulan dengan menutup sebelah mata kami. Syahdu benar setiap malam yang berlalu itu, berirama candaanku tentang bulan serta tentang kekagumanku pada bulan. Aku melihat bulan pada dirinya, keindahannya, cahaya temaramnya yang menenangkan, dia yang pada waktu indah itu kusebut kekasih.
Ini kali pertama ia menjalin ikatan kasih sayang dengan seoang lelaki. Akulah yang telah melunakkan pandangannya tentang “No Couple Before Akad”. Ia seorang yang taat beragama begitu pula aku, mungkin itulah yang menyatukan kami. Sebab lelaki baik memang untuk wanita baik. Ia memang berasal dari Negara yang sama denganku, ia juga merupakan kemenakanku tapi lebih kusuka menganggapnya sepupuku karna usia kami yang tak terpaut jauh. Namun kedua orang tuanya mengadu nasib diperantaun, memaksanya untuk berpindah tempat makan kenegeri Jiran, Malaysia.
Kisah ini bermula saat ia kembali ke Indonesia untuk melihat keluargnya, utamanya neneknya yang sudah tua rentah dan tak mampu bercakap lagi. Sekaligus melepas rindu dengan sanak keluarganya yang telah bermakan tahun ia tinggal. Aku terheran melihatnya tumbuh besar seperti ini, telah menjadi makhluk cantik yang merenggu hatiku secara indah. Rasanya aku malu untuk memulai bicara, malu untuk menegur, takut ia tak kenal wajahku lagi. Sebab lebih sepuluh tahun, saat kami masih kanak ia pergi ke negeri seberang.
Hari berlalu, aku tahu ia takkan lama tinggal disini sebab piring kehidupannya bukan disini. Rumahnya tepat tak begitu jauh dari kediamanku, sebab itulah aku biasa memperhatikannya dalam persembunyian, karna aku malu untuk menemuinya. Teman, kerabat jauh maupun dekat bergantian datang padanya, tapi tidak dengan aku, aku hanya sesekali menatap kearah kerumunan manusia yang tersenyum meriah diteras rumahnya. Tidak mengenal sore, tidak mengenal pagi tetap saja ramai, dan tetap saja aku tak berani.
Namun keadaan memaksaku untuk melihantnya secara dekat, saat ibu telah melaksanakan sebuah pesta aku disuruhnya untuk mengantarkan kerumah “Siti Aulia Khayyirah” itulah nama dari gadis yang kukagumi dipersembunyianku. Tapi aku lebih senang memanggilnya “Yirah”. Tergugup aku saat melangkah masuk kedalam rumah itu. Aku mulai mengetuk pintu dan memberi salam, suaraku tak kubuat besar, aku takut terlalu ramai orang menghampiri lebih lagi jika Yirah juga datang. Tapi syukur yang datang kalah itu menjemput makanan yang kubawah adalah Lili, adiknya. Lili tau namaku “Ahmad” mungkin ibuku atau ibunya yang memberitahukan, sebab kala itu Lili belum lahir saat keluarganya masih tinggal dinegara ini. Aku pun berpamitan kepada Lili.
            “assalamualikum Lili, abang balik dulu yah”
            “iya bang, hati-hati”
Aku berputar 180 derajat sambil mengelus dada, dengan rasa syukur dan pandangan tertunduk aku melangkah menjauh dari rumah itu, namun tiba-tiba terdengar senyap namun merdu sepertinya ada suara perempuan yang memanggil namaku.
            “bang Ahmad ?”
Aku mengangkat dagu, mencoba berputar dan mengamati sekeliling, menerka-nerka dari mana suara itu berasal, ternyata suara itu berasal dari hadapanku, bukan dari belakangku. Ternyata suara itu berasal dari bibir seorang gadis yang beranjak dewasa, putih wajahnya seperti cahaya mentari dibelakang rumahku saat pagi, pakaian yang ia kenakan membuatku sungkan untuk menatapnya lama, ibarat memakai sarung dilapis atas dan sarung dilapis bawah, yang dapat kulihat hanya wajah dan jemari putihnya yang dihiasi cincin emas khas anak perantauan. Ia menyapaku.
            “bang Ahmad ? bang Ahmad ingat Yirah tidak ?”
            “ingat, Yirah sekarang sudah besar yah, sudah cantik juga”
            “abang nih mengade betul, aku biasa lah bang”
            “aku fikir Yirah sudah tidak mengenal abang lagi”
“kenal bang, masa tuh kan aku sudah duduk di taman kanak-kanak, aku dah bisa ingat semua orang”
Sedikit lama percakapan itu berlangsung, hingga berakhir dengan bertukaran alamat sosial media. Kami pun melanjutkan obrolan kami melalui sosial media, yang membuat kami saling mengerti dan lebih mengenal lagi. Tuhan tidak menghambat perasaanku dan perasanya untuk menyatu, hari-hari kulalui begitu indah dengannya hingga waktu untuk ia kembali kenegerinya dan meninggalkan negeriku, tempat kami membangun mimpi sudah tiba.
Malam sekitar pukul sebelas malam, aku melepasnya menuju bandara, tidak kuasa air mata kutahankan. Aku berlari bersembunyi dibalik kegelapan malam, kuhapus air mata lalu kudekati dia dan menjabat tangannya yang halus, ia menangis terseduh aku hanya sanggup meringis melepasnya. Malu jika ada orang yang tau lelaki yang dianggap dewasa ini menangis.
Sebulan setelah ia pergi, aku berkenalan dengan sosok perempuan yang membuatku nyaman. Aku tau aku masih mempunyai hubungan dengan Yirah tapi “Qalbi” wanita yang mengobati rindu yang mendekapku terhadap Yira. Aku tidak tau harus berkata apa, disisi lain aku membutuhkan sosok bukan bayangan ilusi, disisi lain perasaan batinku berbisik memaksa aku untuk tidak berhianat kepada janji yang kuucap dengan sadar dulu. Tapi kekhilafan menghampiriku, aku berhianat. Seminggu setelahnya Yirah tau, dari kerabatnya yang tinggal didekat rumahku, Yirah marah besar, ia tak berkata kasar padaku, ia tidak mencaciku, namun ia hanya mendiamkanku. Didiamkan oleh seorang yang kita sayangi seperti membeku dikutub utara, seperti kekeringan tanpa air di gurun sahara. Akhirnya Yirah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Qalbi yang akhirnya juga tau bahwa ia pernah kuduakan, memilih untuk mencaciku dan pergi juga. Tinggal aku sendiri bermain dengan penyesalan yang sudah kutau akan menghampiri.
Tiga tahun telah berlalu, aku masih sendiri tak beranjak dan tak bergeming. Aku sudah bangkit tapi aku memutuskan untuk tidak membuka hati dulu sebelum bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat. Akhirnya Yirah datang kembali setelah tiga tahun tidak kudengar kabarnya, ia datang untuk melihat neneknya yang sedang sekarat digerogoti penyakit tua yang menimpanya. Kami akhirnya bertemu dan bercerita, aku menghaturkan permohonan maaf dan penyesalanku, ia sudah menerima dan tidak ingin mengungkit lagi masalah itu.
Selang waktu, nenek Yirah akhirnya membaik, tapi ia punya permintaan agar cucunya “Syifa” yakni kakak tertua Yirah segera dinikahkan. Ia ingin melihat salah satu cucu kesayangannya menikah, sempit dunia atau inikah yang disebut takdir Tuhan. Akulah lelaki yang dipilih keluarga Syifa untuk mempersuntingnya, keluarga, kerabat, ibuku, ibu Syifa semua setuju. Aku berusaha menemui Yirah tapi, tak pernah berhasil ia menyibukkan diri, entah sengaja menghindar atau apa. Hingga kuputuskan untuk menemui Syifa, calon istri persembahan keluargaku.
            “assalamualaikum Syifa, bolehkah kita berbicara ?”
            “iya Ahmad, ada apa ?” Syifa hanya memanggil namaku, karna kami memang seumuran.
“apa kamu siap untuk menikah denganku ?, tidak kah ada keterpaksaan yang menggelayuti hati dan fikiranmu ?”
“tidak Ahmad, kau adalah lelaki yang baik, beruntung betul aku jika bisa menikah dengan lelaki soleh dan tampan sepertimu, terlebih keluarga kita memang sudah saling sepakat dan menganggap ini adalah yang terbaik untuk kita berdua”
Tak dapat kutaru alasan untuk melepas pernikahanku dengan Syifa. Melamun aku sepanjang malam, hingga hari pernikahanku tiba, aku yang berpakaian khas suku Bugis dan Syifa pun memakai pakaian adat yang sama, cantik benar ia malam itu. Tak dapat kupungkiri bahwa aku juga kagum dengan keelokan Syifa, akhlak terlebih wajahnya. Namun, disisi berseberangan aku terus memikirkan perasaan Yirah yang pernah mencipta kisah indah bersamaku dimasa lalu.
Seusia pernikahan Syifa mengajakku untuk berpindah kenegeri seberang, katanya hidup disana lebih terjamin dan titleku sebagai Sarjana Ekonomi akan sangat berguna untuk menopang rumah tangga kami. Namun Syifa memaksaku untuk tinggal bersama orang tuanya dulu, sambil mencari rumah yang tepat untuk kami tinggali menghabiskan masa demi masa bersama keturunan kami nantinya.
Rumit hatiku ketika harus bertemu dengan Yirah setiap hari, Yirah yang senyumnya sangat manis namun tak lagi ia berikan padaku semenjak pernikahanku dengan Syifa. Hingga suatu ketika saat Syifa pergi berbelanja dengan ibu mertuaku kepasar. Ayah mertuaku memang setiap pagi pergi bekerja setelah sore baru ia kembali. Lili sedang sekolah dan Syifa yang sekarang telah menjadi guru disekolah menengah itu terlupa akan sesuatu dirumah, aku yang kebetulan sedang demam ringan tak pergi bekerja kala itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak, coba kutanya kepada Yirah apa yang membuatnya tak ingin bicara padaku.
            “Yirah, bisakah kita bicara sebentar ?”
Yirah hanya berlalu, memasuki kamarnya sepertinya ia mencari sesuatu. Dia terus tak memerdulikan aku. Aku terus berusaha mengajaknya bicara, hingga akhirnya dia melempar tempat pensil yang membuat suasana rumah menjadi gaduh, pensil berserakan, aku panik, aku takut Yirah tiba-tiba menangis.
            “kenapa kamu menangis Yirah ?”
“aku benci abang, kenapa abang harus menikah dengan kakak Syifa, kakak juga ingin menghianatinya seperti kakak menghianatiku dulu, aku sudah terlalu sayang dan terlalu mengagumi abang tapi abang tega menghianatiku”
“Yirah, ini semua karna kita tidak berjodoh, dan jodohku adalah Syifa kakakmu, aku mengaku salah akan apa yang kulakukan dahulu padamu, aku mengaku salah”
“mengapa kakak Syifa yang abang nikahi, mengapa bukan orang lain ? mengapa aku harus menangis hati melihat kemesraan abang dengan kakak saat pagi sebelum abang pergi bekerja, abang mencium kening kakak, menonton film berdua dengan kaka hingga larut malam, yang membuatku cemburu, aku sangat cemburu, tolong tinggalkan kakakku dan menikahlah dengan orang lain bang, itu mauku, wassalam”
Syifa berlalu menciptakan kebingungan yang luar biasa dikepalaku, aku serasa ingin meledak, tak sanggup kuceritakan ini kepada istriku, aku takut ia terluka, aku takut mereka saling membenci. Waktu kewaktu mulai membuat Yirah berubah, ia tak lagi berkerudung besar, ia mulai sering marah didalam rumah. Aku merasa kasihan padannya. Tak kuberitahukan apa-apa tentang perkataan Yirah. Hingga suatu malam Yirah pulang dalam keadaan mabuk, entah darimana dan apa yang telah ia lakukan diluar sana. Ia mulai meneriaki semua orang didalam rumah dan menceritakan semuanya, tentang perasaannya yang ia pendam bahwa ia merasa ia lebih pantas menikah dengan aku daripada Syifa. Syifa terpukul dan menangis memelukku.
Hari berlalu Yirah semakin diluar kendali, hingga Syifa istriku yang kucintai namun sangat menyayangi adiknya memberiku ide sinting untuk dilakukan. Ia memintaku untuk menceraikannya, lalu menikahi adiknya.
            “apa yang engkau bicarakan Syifa ? aku ini suamimu, apakah engkau tidak mencintaiku ?”
“Ahmad suamiku, aku sangat mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, tapi aku tak tahan melihat adikku menderita, ia tak seharusnya seperti ini. Semua ini karna aku, semua ini karna aku Ahmad”
“tidak Syifa, kau adalah jodohku, Tuhan telah menunjukmu untukku, aku takkan meninggalkanmu”
Suasana rumah menjadi mencekam, kedua mertuaku tidak bisa berkata apa-apa lagi, Yirah terpaksa dikurung didalam kamar. Syifa terus memaksaku untuk menalaknya, satu jawabanku padanya bahwa aku tak bisa. Hingga malam mencekam kelam, bulan bijak menuntunku menatapnya semalaman, aku duduk diluar rumah sambil menghisap rokok yang entah telah berapa yang habis. Tiba-tiba kudengar jeritan dari Lili yang ringkik memekakan telinga. Aku melompat, dan berlari kedalam rumah mencoba mencari dimana Lili berteriak dan apa yang membuatnya berteriak seperti itu. Kucari dari arah kamar Lili, lili tak ada, lalu aku menuju kamar Yirah dan memaksa mendobrak pintu tapi aku hanya melihat Yirah yang amat mengenaskan kusam didalam kamar itu. Aku berlari menuju kamar belakang melewati kamarku, tak kutemukan siapapun, ibu mertuaku tiba-tiba menjerit menyebut namaku, Ahmad,,,Ahmad, dari arah belakang. Aku berlari tak berhela nafas, sesampaiku disana berdiri terpaku Lili sambil menangis menjerit, ibu mertuaku sudah meringkuk memukul-mukul ubin dilantai seakan ia tidak terima dengan apa yang terjadi, lalu kulihat ayah mertuaku sedang memeluk erat anak perempuan kesayangan dan kebanggaannya, telah terkulai lemas didalam wc, dengan tangan bersimbah darah. Syifa memilih mengakhiri hidupnya agar aku bisa menikahi adiknya, dan menghentikan penderitaan adiknya.
Tak sanggup aku berfikir, kumaki dalam hati Syifa didepan nisannya.
“mengapa engkau sebodoh ini, tidak tahukah engkau bahwa surga tak akan menerimamu jika seperti ini, aku sangat mencintaimu” bujuklah Tuhan untuk menghidupkanmu dan menjadikan kejadian mengerikan itu sebagai mimpi belaka”
Tapi nisan tak menjawab, aku kembali kerumah dengan wajah lesu setelah menangis bertubi-tubi, sesak kehilangan Syifa sangat membunuh perasaanku. Aku mulai kehilangan logika. Aku merasa sangat membenci Yirah, aku menganggap dialah yang telah membunuh Syifaku, tujuh hari setelah kematian Syifa, aku tak dapat membendung amarahku, aku mendatangi Yirah yang lebih mirip orang mati didalam kamarnya. Aku mulai mencacinya, memaksanya untuk menghidupkan kembali istriku, aku bersumpah untuk tidak akan menikahinya dan rasanya ingin kubunuh Yirah kala itu. Aku berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau, Lili menahanku, aku memberontak, ayah mertuaku ikut mencegahku, seisi rumah yang saat itu sedang mendoakan 7 hari kematian Syifa ikut menahanku, tapi pisau tak kulepas kugenggam terlalu erat dengan amarah diubun-ubun. Aku memberontak ingin kutikam Yirah tapi tak kujangkau terlalu banyak orang menghalangi, akhirnya kuputar arah pisau menuju diafragmaku sendiri. Kutusuk lalu kuputar sambil berteriak kesakitan, aku lebih merasa sakit dibatin daripada sakit menjelang mati. Cinta yang mengajarkanku tentang keindahan dan ketulusan, cinta juga yang membuatku membunuh logika. Ingin kususul cintaku keneraka, dan kubangun istana kepedihan bersamanya.
SEKIAN”


LOGIKA BUTA
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-Iman
Begemuruh getaran jantungku ketika aku melihat bulan. Bulan yang melenakan mataku yang tak begitu besar mirip manusia berketurunan china atau jepang. Dulu saat usiaku menyentuh angka 19 tahun aku terbiasa menatap bulan bersamanya, kami belajar menggegam bulan dengan menutup sebelah mata kami. Syahdu benar setiap malam yang berlalu itu, berirama candaanku tentang bulan serta tentang kekagumanku pada bulan. Aku melihat bulan pada dirinya, keindahannya, cahaya temaramnya yang menenangkan, dia yang pada waktu indah itu kusebut kekasih.
Ini kali pertama ia menjalin ikatan kasih sayang dengan seoang lelaki. Akulah yang telah melunakkan pandangannya tentang “no couple before akad”. Ia seorang yang taat Bergama begitu pula aku, mungkin itulah yang menyatukan kami. Sebab lelaki baik memang untuk wanita baik. Ia memang berasal dari Negara yang sama denganku, ia juga merupakan kemenakanku tapi lebih kusuka menganggapnya sepupuku karna usia kami yang tak terpaut jauh. Namun kedua orang tuanya mengadu nasib diperantaun, memaksanya untuk berpindah tempat makan kenegeri jiran Malaysia.
Kisah ini bermula saat ia kembali ke Indonesia untuk melihat keluargnya, utamanya neneknya yang sudah tua rentah dan tak mampu bercakap lagi. Sekaligus melepas rindu dengan sanak keluarganya yang telah bermakan tahun ia tinggal. Aku terheran melihatnya tumbuh besar seperti ini, telah menjadi mahluk cantin yang merenggu hatiku secara indah. Rasanya aku malu untuk memulai bica, malu untuk menegur, taku ia tak kenal wajahku lagi. Sebab lebih sepuluh tahun, saat kami masih kanak ia pergi kenegeri seberang.
Hari berlalu, aku tahu ia takkan lama tinggal disini sebab piring kehidupannya bukan disini. Rumahnya tepat tak begitu jauh dari kediamanku, sebab itulah aku biasa memperhatikannya dalam persembunyian, karna aku malu untuk menemuinya. Teman, kerabat jauh maupun dekat bergantian datang padanya, tapi tidak dengan aku aku hanya sesekali menatap kearah kerumunan manusia yang tersenyum meriah diteras rumahnya. Tidak mengenal sore, tidak mengenal pagi tetap saja ramai, dan tetap saja aku tak berani.
Namun keadaan memaksaku untuk melihantnya secara dekat, saat ibu telah melaksanakan sebuah pesta aku disuruhnya untuk mengantarkan kerumah “siti aulia khayyirah” itulah nama dari gadis yang kukagumi dipersembunyianku. Tapi aku lebih senang memanggilnya “yirah”. Tergugup aku saat melangkah masuk kedalam rumah itu. Aku mulai mengetuk pintu dan memberi salam, suaraku tak kubuat besar, aku takut terlalu ramai orang menghampiri lebih lagi jika yirah juga datang. Tapi syukur yang datang kalah itu menjemput makanan yang kubawah adalah lili adiknya. Lili tau namaku “ahmad” mungkin aku ibuku atau ibunya yang memberitahu, sebab kala itu lili belum lahir saat keluarganya masih tinggal dinegara ini. Aku pun berpamitan kepada lili.
            “assalamualikum lili, abang balik dulu yah”
            “iya bang, hati-hati”
Aku berputar 180 derajat semabil mengelus dada, dengan rasa syukur dan pandangan tertunduk aku melangkah menjauh dari rumah itu, namun tiba-tiba terdengar senyap namun merdu sepertinya ada suara perempuan yang memanggil namaku.
            “bang ahmad ?”
Aku mengangkat dagu, mencoba berputar dan mengamati sekeliling, menerka-nerka darimana suara itu berasal,ternyata suara itu berasal dari hadapanku, bukan dari belakangku. Ternyata suara itu berasal dari bibir seorang gadis yang beranjak dewasa, putih wajahnya seperti cahaya mentari dibelakang rumahku saat pagi, pakaian yang ia kenakan membuatku sungkan untuk menatapnya lama, ibarat memakai sarung dilapis atas dan sarung dilapis bawah, yang dapat kulihat hanya wajah dan jemari putihnya yang dihiasi cincin emas khas anak perantauan. Ia menyapaku.
            “bang ahmad ? bang ahmad ingat yirah tidak ?”
            “ingat, yirah sekarang sudah besar yah, sudah cantik juga”
            “abang nih mengade betul, aku biasa lah bang”
            “aku fikir yirah sudah tidak mengenal abang lagi”
“kenal bang, masa tuh kan aku dan duduk di taman kanak-kanak aku dah bisa ingat semua orang”
Sedikit lama percakapan itu berlangsung, hingga berakhir dengan bertukaran alamat sosial media. Kamipun melanjutkan obrolan kami melalui aku, yang membuat kami saling mengerti dan lebih mengenal lagi. Tuhan tidak menghambat perasaanku dan perasanya untuk menyatu, hari-hari kulalui begitu indah dengannya hingga waktu untuk ia kembali kenegerinya dan meninggalkan negeriku, tempat kami membangun mimpi sudah tiba.
Malam sekitar pukul sebelas malam, aku melepasnya menuju bandara, tidak kuasa air mata kutahankan. Aku berlalri bersembunyi dibalik kegelapan malam, kuhapus air mata lalu kudekati dia dan menjabat tangannya yang halus, ia menangis terseduh aku hanya sanggup meringis melepasnya.malu jika ada orang yang tau lelaki yang dianggap dewasa ini menangis.
Sebulan setelah ia pergi, aku berkenalan dengan sosok perempuan yang membuatku nyaman. Aku tau aku masih mempunyai hubungan dengan yirah tapi “Qalbi” wanita yang mengobati rindu yang mendekapku terhadap yira. Aku tidak tau harus berkata apa, disisi lain aku membutuhkan sosok bukan bayangan ilusi, disisi lain perasaan batinku berbisiki memaksa aku untuk tidak berhianat kepada janji yang kuucap dengan sadar dulu. Tapi kekhilafan menghampiriku, aku berhianat. Seminggu setelahnya yirah tau, dari kerbatnya yang tinggal didekat rumahku, yirah marah besar, ia tak berkata kasar padaku, ia tidak mencaciku, namun ia hanya mendiamkanku. Didiamkan oleh seorang yang kita sayangi seperti membeku dikutub utara, seperti kekeringan tanpa air di gurun sahara. Akhirnya yirah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Qalbi yang akhirnya juga tau bahwa ia pernah kuduakan, memilih untuk mencaciku dan pergi juga. Tinggal aku sendiri bermain dengan penyesalan yang sudah kutau akan menghampiri.
Tiga Tahu telah beralu, aku masih sendiri tak beranjak dan tak bergeming. Aku sudah bangkit tapi aku memutuskan untuk tidak membuka hati dulu sebelum bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat. Akhirnya yirah datang kembali setelah tiga tahun tidak kudengar kabarnya, ia datang untuk melihat neneknya yang sedang sekarat digerogoti penyakit tua yang menimpanya. Kami akhirnya bertemu dan bercerita, aku menghaturkan permohonan maaf dan penyesalanku, ia suah menerima dan tidak ingin mengungkit lagi masalah itu.
Selang waktu, nenek yirah akhirnya membaik, tapi ia punya permintaan agar cucunya “syifa” yakni kakak tertua yirah segera dinikahkan. Ia ingin melihat salah satu cucu kesayangannya menikah, sempit dunia atau inikah yang disebut takdir Tuhan. Akulah lelaki yang dipilih keluarga syifa untuk mempersuntingnya, keluarga, kerabat, ibuku, ibu syifa semua setuju. Aku berusaha menemui yirah tapi, tak pernah berhasil ia menyibukkan diri, entah sengaja menghindar atau apa. Hingga kuputuskan untuk menemui syifa, calon istri persembahan keluargaku.
            “assalamualaikum syifa, belahkah kita berbicara ?”
            “iya ahmad, ada apa ?” syifa hanya memanggil namaku, karna kami memang seumuran.
“apa kamu siap untuk menikah denganku, tidak kah ada keterpaksaan yang menggelayuti hati dan fikiranmu ?”
“tidak ahmad, kau adalah lelaki yang baik, beruntung betul aku jika bisa menikah dengan lelaki soleh dan tampan sepertimu, terlebih keluarga kita memang sudah saling sepakat dan menganggap ini adalah yang terbaik utnuk kita berdua”
Tak dapat kutari alasan untuk melepas pernikahanku dengan syifa. Melamun aku sepanjang malam, hingga hari pernikahanku tiba, aku yang berpakaian khas suku bugis dan syifa pun memakai pakaian adat yang sama, cantik benar ia malam itu. Tak dapat kupungkiri bahwa aku juga kagum dengan keelokan sifat, akhlak terlebih wajahnya. Namun, disisi berseberangan aku terus memikirkan perasaan yirah yang pernah mencipta kisah indah bersamaku dimasa lalu.
Seusia pernikahan syifa mengajakku untuk berpindah kenegeri seberang, katanya hidup disana lebih terjamin dan titleku sebagai sarjan ekonomi akan sangat berguna untuk menopang rumah tangga kami. Namun syifa memaksaku untuk tinggal bersama orang tuanya dulu, sambil mencari rumah yang tepat untuk kami tinggali mengahbiskan masa demi masa bersama keturunan kami nantinya.
Rumit hatiku ketika harus bertemu dengan yirah setiap hari, yirah yang senyumnya sangat manis namun tak lagi ia berikan padaku semenjak pernikahanku dengan syifa. Hingga suatau ketika saat syifa pergi berbelanja dengan ibu mertuaku kepasar. Ayah mertuaku memang setiap pagi pergi bekerja setelah sore baru ia kembali. Lili sedang sekolah dan syifa yang sekarang telah menjadi guru disekoalh menengah itu terlupa akan sesuatu dirumah, aku yang kebetulan sedang demam ringan tak pergi bekerja kala itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak, coba kutanya kepada yirah apa yang membuatnya tak ingin bicara padaku.
            “yirah, bisaka kita bicara sebentar”
Yirah hanya berlalu, memasuki kamarnya sepertinya ia mencari sesuatu. Dia terus tak memerdulikan aku. Aku terus berusaha mengajaknya bicara, hingga akhirnya dia melempar tempat pensil yang membuat suasna rumah menjadi gaduh, pensil berserakan, aku panic, aku takut yirah tiba-tiab menangis.
            “kenapa kamu menangis yirah ?”
“aku benci abang, kenapa abang harus menikah dengan kaka syifa, kaka juga ingin menghianatinya seperti kakak mengianantiku dulu, aku sudah terlalu sayang dan terlalu mengagumi abang tapi abang tega menghianatiku”
“yirah, ini semua karna kita berjodoh, dan jodohku adalah syifa kakakmu, aku mengaku salah akan apa yang kulakukan dahulu padamu, aku mengaku salah”
“mengapa kakak syifa yang abang nikahi, mengapa bukan orang lain ? mengapa aku harus menangis hati melihat kemesraan abang dengan kakak saat pagi sebelum abang pergi bekerja, abang mencium kening kaka, menonton film berdua dengan kaka hingga larut malam, yang membuatku cemburu, aku sangat cemburu, tolong tinggalkan kakakku dan menikahlah dengan orang lain bang itu mauku, wassalam”
Syifa berlalu menciptakan kebingungan yang luar biasa dikepalaku, aku serasa ingin meledak, tak sanggup kuceritakan ini kepada istriku, aku taku ia teruka, aku takut mereka saling membenci. Waktu kewaktu mulai membuat yirah berubah, ia tak lagi berkerudung besar, ia mulai sering marah didalam rumah. Aku merasa kasihan padannya. Tak kuberitahukan apa-apa tentang perkataan yirah. Hingga suatau malam yirah pulang dalam keadaan mabuk, entah darimana dan apa yang telah ia lakukan diluar sana. Ia mulai meneriaki semua orang didalam rumah dan menceritakn semuanya, tentang perasaanya yang ia pendam bahwa ia merasa ia lebih pantas menikah dengan aku daripada syifa. Syifa terpukul dan menangis memelukku.
Hari berlalu yirah semakin diluar kendali, hingga syifa istriku yang kucintai namun sangat menyayangi adiknya memberiku ide sinting untuk dilakukan. Ia memintaku untuk menceraikannya, lalu menikahi adiknya.
            “apa yang engkau bicarakan syifa ? aku ini suamimu, apa engkau tidak mencintaiku ?”
“ahmad suamiku, aku sangat mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, tapi aku tak tahan melihat adikku menderita, ia tak seharusnya seperti ini. Semua ini karna aku, semua ini karna aku ahmad”
“tidak syifa, kau adalah jodohku, Tuhan telah menunjukmu untukku aku takkan meninggalkanmu”
Suasana rumah menjadi mencekam, kedau mertuaku tidak bisa berkata apa-apa lagi, yirah terpaksa dikurung didalam kamar. Syifa terus memaksaku untuk menalaknya, satu jawabanku padanya bahwa aku tak bisa. Hingga malam mencekam kelam, bulan bijak menuntunku menatapnya semalaman, aku duduk diluar rumah sambil menghisap rokok yang entah telah berapa yang habis. Tiba-tiba kudengar jeritan dari lili yang ringkik memekakan telingah. Aku melompat, dan berlari kedalam rumah mencoba mencarri dimana lili berteriak dan apa yang membuatnya berteriak seperti itu. Kucari dari arah kamar lili, lili taka da, lalu aku menuju kamar syifa dan memaksa mendobrak pintu tapi aku hanya melihat syifa yang amat mengenaskan kusam didalam kamar itu. Aku berlari menuju kamar belakang melewati kamarku, tak kutemukan siapapun, ibu mertuaku tiba-tiba menjerit menyebut namaku, ahmad,ahmad, dari arah belakang. Aku berlari tak berhela nafas sesampaiku disana berdiri terpaku lili sambil menangis menjerit, ibu mertuaku sudah meringkuk memukul-mukul ubin dilantai seakan ia tidak terima dengan apa yang terjadi, lalu kulihat ayah mertuaku sedang memeluk erat anak perempuan kesayangannya kebanggannya, telah terkulai lemas didalam wc, dengan tangan bersimabh dara. Syifa memilih mengakhiri hidupnya agar aku bisa menikahi adiknya, dan menghentikan penderitaan adiknya.
Tak sanggup aku berfikir, kumaki dalam hati syifa didepan nisannya.
“mengapa engkau sebodoh ini, tidak tahukah engkau bahwa surga tak akan menerimamu jika seperti ini, aku sangat mencintaimu” bujuklah Tuhan untuk menghidupkanmu dan menjadikan kejadian mengerikan itu sebagai mimpi belaka”
Tapi nisan tak menjawab, aku kemabli kerumah dengan wajah lesu setelah menagis bertubi-tubi, sesak kehilangan syifa sangat membunuh perasaanku. Aku mulai kehilangan logika. Aku merasa sangat membenci yirah, aku menganggap dialah yang telah membunuh syifaku, tujuh hari setelah kematian syifa aku tak dapat membendung amarahku, aku mendatangi syifa yang lebih mirip orang mati di dalam kamarnya. Aku mulai mencacinya, memaksanya untuk menghidupkan kembali istriku, aku bersumpah untuk tidak akan menikahinya dan rasanya ingin kubunuh syifa kala itu. Aku berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau lili menahanku, aku memberontak, ayah mertuaku ikut mencegahku, seisi rumah yang saat itu sedang mendoakan 7 hari kematian syifa ikut menahanku, tapi pisau tak kulepas kugenggam teralu erat dengan amarah diubun-ubun. Aku memberontak ingin kutikam syifa tapi tak kujangkau terlalu banyak orang mengahalangi, akhirnya kuputar arah pisau menuju diafragmaku sendiri. Kutusuk lalu kuputar sambil berteriak kesakitan, aku lebih merasa sakit dibatin daripada sakit menjelang mati. Cinta yang mengajarkanku tentang keindahan dan ketulusan, cinta juga yang membuatku membunuh logika. Ingin kususul cintaku keneraka, dan kubangun istana kepedihan bersamanya.
SEKIAN”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar