“YANG MAHA PERINDU”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN
Di
pembaringan terasa melayang raga ini, terayung aku dalam kantukku.Kulihat ada
wajah yang menatapku, mengajakku bercanda. Aku tak faham apa yang ia katakan,
tapi aku tahu ia sedang bersenda gurau denganku. Ia tersenyum menenangkanku,
membuatku semakin terkantuk. Kedua tanganku menggenggam dengan keras, sejajar
dengan kepalaku.Aku menguap saat wajah itu menyentuh wajahku dengan
lembut.Seperti ada yang basah di pipiku, nampaknya itu jatuh dari pelupuk mata
lelaki yang menciumku ini.
Dia
adalah ayahku, yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya.Aku merasa sangat
bersalah telah membuatnya kehilangan cintanya, cinta yang kurenggut darinya.
Aku tahu, tak dapat kugantikan posisi ibuku disisinya, tapi katanya, aku bisa
menjadi pelipur lara ketika ia mengingat kembali kekasihnya yang kusebut ibu.
Aku
terlahir sebagai yatim, aku bukan pembunuh ibuku jika itu yang kau hakimkan
padaku.Kandungan ibuku belum cukup kuat kala ingin melahirkanku.hingga mereka,
orang yang sangat kusayangi sepakat untuk memilih aku yang hidup, lebih
tepatnya ibuku yang merengek untuk menyelamatkanku. Meski aku hanya pernah
dilihat oleh ibu melalui mesin USG, tapi ia begitu mencintaiku dan
mendambakanku. Andai ibu sedikit bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk
merakitku, bukan disaat janin yang dimilikinya belum cukup kuat.
Ibuku
sayang, kutitipkan do’a terbaik untukmu.Aku mencintaimu, terima kasih telah
membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu terenggut pergi menjauh.Dan
mencintaiku dari kejauhan. Ayah sangat mencintaiku, dia selalu menemaniku saat
aku terbangun dan menjerit dipenghujung malam, entah karena pantatku basah.
Atau karna aku melihat sesuatu yang belum kufahami.
Ayahku
yang memegang cinta sucinya untuk ibuku, tak pernah ia memalingkan cintanya
dari ibuku, sampai suatu ketika saat seorang perempuan cantik mendatangiku, aku
seperti mengenalnya, mungkin aku pernah melihatnya. Ia, saat aku dalam
kandungan dialah orang yang mencoba untuk merenggut ayah dari ibuku, dia istri
ayahku. Mereka menemukan kami dalam persembunyian ini.Ia terharu menatapku, aku
tidak membencinya, aku tahu dia yang telah berjasa mengangkat keluargaku dari
keterpurukan. Aini nama tante itu, ayah memperkenalkan nya sebagai mamah aini,
tapi aku tak ingin memanggilnya begitu, ibuku hanya tilka dan ayahku hanya
hafiz.
Tante
ainilah yang merawatku, memandikanku setiap hari.Mesnyusuiku meski hanya
melalui dot.Ada cinta yang dalam kulihat dari mata itu, entah itu sebuah cinta
palsu, tapi rasanya sangat tulus.Ia yang mengurusi ayah ketika ayah ingin
bekerja.
“kak hafiz, anakmu sangat tampan.
Alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya”
“apakah kau membenci anakku ?”
“tidak
kak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jujur. Aku tahu tak dapat
menggantikan Tilka sebagai ibunya, tapi aku akan berusaha”
“terima
kasih aini, karna kau telah menjadi malaikat penyelamat dalam keluargaku. Tapi
maafkan aku. Aku tak dapat memberimu anak, aku takut Tilka cemburu disana, aku
telah berjanji, untuk memegang teguh cintanya> itu janjiku sebelum ia
mengembuskan nafas terkahirnya”
“ia
aku faham kak, yang penting jangan jauhkan aku darimu lagi dan dari anakmu yang
sudah kusayangi ini”
Aku
terharu mendengar percakapan kedua orang yang menyayangiku itu, aku semakin
merindukan ibuku, ibuku yang tak pernah kusentuh sejak aku lahir, tak pernah
kerasa bagaimana puting susuhnya seperti bayi yang lain. Aku merasa tersedak
rindu, dan aku tahu aku dan ayahku telah terpasung pada rindu yang sama, aku
berharap kepada yang maha perindu agar mempertemukan kami disurga kelak. Aamin.
Hari
demi hari berlalu, rasa cinta tante aini semakin besar kepadaku, aku tahu ia
tersiksa. Saat ayah sedang bekerja, ia datang mengahmpiriku dan bercerita tentang
keluh kesahnya, ia juga ingn memiliki bayi yang sepertiku. Namun, ia berharap
memiliki bayi yang cantik seperti dirinya. Berderai air mata ia memulai sajak
tentang harapannya kepada Tuhan, agar ayahku menghianati janjinya kepada ibu.
Semenjak ibu meninggal, tante aini dan ayah tak pernah tidur bersama.Meski
mereka masih resmi sebagai sepasang suami istri, aku tidak mengerti bagaimana
cinta itu bisa membuat ayahku melakukan semua ini.Aku ingin sekuat ayahku,
memegang teguh janji yang telah kubuat.Masih dalam deraian air mata, tante aini
coba menceritakan bagaimana pencariannya.
Tante
aini bercerita padaku, saat aku menghisap jempolku dengan lugu.Ia mengatakan,
dalam pencariannya ia menjadi kurus, tak ingin makan. Ia berharap agar Tuhan
segera mempertemukannya dengan ayahku. Aku iba mendengar kisah itu.Bahkan tante
aini telah dilamat beberapa laki-laki yang katanya mencintainya dan lebih
mapan.Tapi seteguh cinta ayah pada ibu, cintanya pada ayahku juga tak
tergoyahkan.
Dalam
derita pencarian, tante aini mencoba menghubungi semua kenalan ayah, namun tak
satu arahpun ia temukan. Hingga saat ia bertemu dengan sinta, mantan teman ayah
yang pernah ayah temui disupermarket. Ia merasa senang dan mencoba mengerahkan
seluruh tenaganya untuk menemukan ayahku. Menemukan cintanya, ia membuat
tidurnya nyenyak dan makannya enak. Aku ingin segera tumbuh besar dan menemukan
wanita yang bisa mencintaiku seteguh dan sekuat tante aini.Aku kagum padanya.
“anakku
dayu, aku tidak pernah membenci ibumu, emmang aku yang salah karna mencintai
ayahmu yang telah menjadi milik Tilka ibumu, tapi aku tak dapat membunuh cinta,
ia teruz tumbuh bak rumput liar yang tidak memerlukan pupuk, mungkin ini kuasa
Tuhan dan jawaban atas do’a ku untuk bertemu dengan kak hafiz ayahmu yang sangat
kucinta”
Aku
hanya dapat menjawab kata-kata itu dengan gelagak tawa sambil terus menggigit
jemariku dengan gusi yang masih memerah.
Malam
ini aku terjaga, karna seharian aku hanya tertidur setelah mendengar cerita
tante aini.Aku merasa bersalah membuat ayahku ikut terjaga. Aku tahu ia sangat
lelah, seharian ia bekerja untuk menafkahiku, mencukupkan giziku, ia ingin
melihatku cepat tumbuh besar.
Malam
ini, ayah mencoba mengajakku bercanda, agar aku lelah dan segera tertidur.
Sembari ia bercerita tentang kecintaanya pada yang maha perindu. Ayah
mendidikku dengan ilmu agama, ia berharap agar aku tidak menduplikat nasibnya
yang tragis ini. Ia berharap aku bisa lebih dekat pada yang maha perindu.
Ayahku yang kini berbeda dengan ayahku saat aku masih didalam kandungan, cobaan
yang bertubi-tubi membuat ia semakin dekat denga yang maha perindu.
Antara
terjaga dan terbangun, kerap kudengar do’a harmonis diiringi isak tangis
ayahku. Permohonan cinta dan kerinduannya akan ibuku. Berharap Tuhan
menghidupkan ibuku kembali dan mempertemukan kami bertiga, yang kuaminkan dengan
tangisan menjerit tak tertahankan.Aku menangis lagi malam itu, aku menyusahkan
lagi ayahku.
Dalam
gendongan ayah, rasanya ingin kuluapkan semua rindu ini.Kepada yang maha
perindu, jangan berikan kisah ini pada orang lain, ingatkan mereka deritaku.Aku
tak ingin ada lagi wanita yang pergi sebelum berpamitan pada benihnya.Ingatkan
mereka dengan larangan dosa dan nistanya zina.Agar tak ada lagi derita yang
sepertiku.
Selamat
pagi kebahagiaan, kucoba untuk menerima tante aini sebagai ibu titipan yang
maha perindu untukku.Rasanya ingin kusadarkan ayahku, untuk merelakan janjinya
kepada ibu.Tapi biarlah mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk
kami.
Aku
mulai belajar berbicara, belajar menyebutkan abjad demi abjad.Kata pertama yang
berani kuucapkan adalah mamamaama, meski aku dalam gendongan tante aini atau
kini aku menyebutnya mama aini, tapi kata itu sejujurnya untuk ibu kandungku
Tilka.Seperti air yang tak dapat tersayat, seperti itupulah cintaku pada ibuku.
Ayahku
yang kusayang, berdo’alah senantiasa kepada yang maha perindu, agar rindu ayah
dapat sampai pada ibu.Dan beritahukan pada ibu dalam do’amu bahwa aku telah
terlahir dengan cinta dan kasih sayang yang cukup darimu.
“selesai”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar