Sabtu, 02 April 2016

KARANGAN V



“YANG MAHA PERINDU”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Di pembaringan terasa melayang raga ini, terayung aku dalam kantukku.Kulihat ada wajah yang menatapku, mengajakku bercanda. Aku tak faham apa yang ia katakan, tapi aku tahu ia sedang bersenda gurau denganku. Ia tersenyum menenangkanku, membuatku semakin terkantuk. Kedua tanganku menggenggam dengan keras, sejajar dengan kepalaku.Aku menguap saat wajah itu menyentuh wajahku dengan lembut.Seperti ada yang basah di pipiku, nampaknya itu jatuh dari pelupuk mata lelaki yang menciumku ini.
Dia adalah ayahku, yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya.Aku merasa sangat bersalah telah membuatnya kehilangan cintanya, cinta yang kurenggut darinya. Aku tahu, tak dapat kugantikan posisi ibuku disisinya, tapi katanya, aku bisa menjadi pelipur lara ketika ia mengingat kembali kekasihnya yang kusebut ibu.
Aku terlahir sebagai yatim, aku bukan pembunuh ibuku jika itu yang kau hakimkan padaku.Kandungan ibuku belum cukup kuat kala ingin melahirkanku.hingga mereka, orang yang sangat kusayangi sepakat untuk memilih aku yang hidup, lebih tepatnya ibuku yang merengek untuk menyelamatkanku. Meski aku hanya pernah dilihat oleh ibu melalui mesin USG, tapi ia begitu mencintaiku dan mendambakanku. Andai ibu sedikit bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk merakitku, bukan disaat janin yang dimilikinya belum cukup kuat.
Ibuku sayang, kutitipkan do’a terbaik untukmu.Aku mencintaimu, terima kasih telah membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu terenggut pergi menjauh.Dan mencintaiku dari kejauhan. Ayah sangat mencintaiku, dia selalu menemaniku saat aku terbangun dan menjerit dipenghujung malam, entah karena pantatku basah. Atau karna aku melihat sesuatu yang belum kufahami.
Ayahku yang memegang cinta sucinya untuk ibuku, tak pernah ia memalingkan cintanya dari ibuku, sampai suatu ketika saat seorang perempuan cantik mendatangiku, aku seperti mengenalnya, mungkin aku pernah melihatnya. Ia, saat aku dalam kandungan dialah orang yang mencoba untuk merenggut ayah dari ibuku, dia istri ayahku. Mereka menemukan kami dalam persembunyian ini.Ia terharu menatapku, aku tidak membencinya, aku tahu dia yang telah berjasa mengangkat keluargaku dari keterpurukan. Aini nama tante itu, ayah memperkenalkan nya sebagai mamah aini, tapi aku tak ingin memanggilnya begitu, ibuku hanya tilka dan ayahku hanya hafiz.
Tante ainilah yang merawatku, memandikanku setiap hari.Mesnyusuiku meski hanya melalui dot.Ada cinta yang dalam kulihat dari mata itu, entah itu sebuah cinta palsu, tapi rasanya sangat tulus.Ia yang mengurusi ayah ketika ayah ingin bekerja.
            “kak hafiz, anakmu sangat tampan. Alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya”
            “apakah kau membenci anakku ?”
“tidak kak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jujur. Aku tahu tak dapat menggantikan Tilka sebagai ibunya, tapi aku akan berusaha”
“terima kasih aini, karna kau telah menjadi malaikat penyelamat dalam keluargaku. Tapi maafkan aku. Aku tak dapat memberimu anak, aku takut Tilka cemburu disana, aku telah berjanji, untuk memegang teguh cintanya> itu janjiku sebelum ia mengembuskan nafas terkahirnya”
“ia aku faham kak, yang penting jangan jauhkan aku darimu lagi dan dari anakmu yang sudah kusayangi ini”
Aku terharu mendengar percakapan kedua orang yang menyayangiku itu, aku semakin merindukan ibuku, ibuku yang tak pernah kusentuh sejak aku lahir, tak pernah kerasa bagaimana puting susuhnya seperti bayi yang lain. Aku merasa tersedak rindu, dan aku tahu aku dan ayahku telah terpasung pada rindu yang sama, aku berharap kepada yang maha perindu agar mempertemukan kami disurga kelak. Aamin.
Hari demi hari berlalu, rasa cinta tante aini semakin besar kepadaku, aku tahu ia tersiksa. Saat ayah sedang bekerja, ia datang mengahmpiriku dan bercerita tentang keluh kesahnya, ia juga ingn memiliki bayi yang sepertiku. Namun, ia berharap memiliki bayi yang cantik seperti dirinya. Berderai air mata ia memulai sajak tentang harapannya kepada Tuhan, agar ayahku menghianati janjinya kepada ibu.
Semenjak  ibu meninggal, tante aini dan ayah tak pernah tidur bersama.Meski mereka masih resmi sebagai sepasang suami istri, aku tidak mengerti bagaimana cinta itu bisa membuat ayahku melakukan semua ini.Aku ingin sekuat ayahku, memegang teguh janji yang telah kubuat.Masih dalam deraian air mata, tante aini coba menceritakan bagaimana pencariannya.
Tante aini bercerita padaku, saat aku menghisap jempolku dengan lugu.Ia mengatakan, dalam pencariannya ia menjadi kurus, tak ingin makan. Ia berharap agar Tuhan segera mempertemukannya dengan ayahku. Aku iba mendengar kisah itu.Bahkan tante aini telah dilamat beberapa laki-laki yang katanya mencintainya dan lebih mapan.Tapi seteguh cinta ayah pada ibu, cintanya pada ayahku juga tak tergoyahkan.
Dalam derita pencarian, tante aini mencoba menghubungi semua kenalan ayah, namun tak satu arahpun ia temukan. Hingga saat ia bertemu dengan sinta, mantan teman ayah yang pernah ayah temui disupermarket. Ia merasa senang dan mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk menemukan ayahku. Menemukan cintanya, ia membuat tidurnya nyenyak dan makannya enak. Aku ingin segera tumbuh besar dan menemukan wanita yang bisa mencintaiku seteguh dan sekuat tante aini.Aku kagum padanya.
“anakku dayu, aku tidak pernah membenci ibumu, emmang aku yang salah karna mencintai ayahmu yang telah menjadi milik Tilka ibumu, tapi aku tak dapat membunuh cinta, ia teruz tumbuh bak rumput liar yang tidak memerlukan pupuk, mungkin ini kuasa Tuhan dan jawaban atas do’a ku untuk bertemu dengan kak hafiz ayahmu yang sangat kucinta”
Aku hanya dapat menjawab kata-kata itu dengan gelagak tawa sambil terus menggigit jemariku dengan gusi yang masih memerah.
Malam ini aku terjaga, karna seharian aku hanya tertidur setelah mendengar cerita tante aini.Aku merasa bersalah membuat ayahku ikut terjaga. Aku tahu ia sangat lelah, seharian ia bekerja untuk menafkahiku, mencukupkan giziku, ia ingin melihatku cepat tumbuh besar.
Malam ini, ayah mencoba mengajakku bercanda, agar aku lelah dan segera tertidur. Sembari ia bercerita tentang kecintaanya pada yang maha perindu. Ayah mendidikku dengan ilmu agama, ia berharap agar aku tidak menduplikat nasibnya yang tragis ini. Ia berharap aku bisa lebih dekat pada yang maha perindu. Ayahku yang kini berbeda dengan ayahku saat aku masih didalam kandungan, cobaan yang bertubi-tubi membuat ia semakin dekat denga yang maha perindu.
Antara terjaga dan terbangun, kerap kudengar do’a harmonis diiringi isak tangis ayahku. Permohonan cinta dan kerinduannya akan ibuku. Berharap Tuhan menghidupkan ibuku kembali dan mempertemukan kami bertiga, yang kuaminkan dengan tangisan menjerit tak tertahankan.Aku menangis lagi malam itu, aku menyusahkan lagi ayahku.
Dalam gendongan ayah, rasanya ingin kuluapkan semua rindu ini.Kepada yang maha perindu, jangan berikan kisah ini pada orang lain, ingatkan mereka deritaku.Aku tak ingin ada lagi wanita yang pergi sebelum berpamitan pada benihnya.Ingatkan mereka dengan larangan dosa dan nistanya zina.Agar tak ada lagi derita yang sepertiku.
Selamat pagi kebahagiaan, kucoba untuk menerima tante aini sebagai ibu titipan yang maha perindu untukku.Rasanya ingin kusadarkan ayahku, untuk merelakan janjinya kepada ibu.Tapi biarlah mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kami.
Aku mulai belajar berbicara, belajar menyebutkan abjad demi abjad.Kata pertama yang berani kuucapkan adalah mamamaama, meski aku dalam gendongan tante aini atau kini aku menyebutnya mama aini, tapi kata itu sejujurnya untuk ibu kandungku Tilka.Seperti air yang tak dapat tersayat, seperti itupulah cintaku pada ibuku.
Ayahku yang kusayang, berdo’alah senantiasa kepada yang maha perindu, agar rindu ayah dapat sampai pada ibu.Dan beritahukan pada ibu dalam do’amu bahwa aku telah terlahir dengan cinta dan kasih sayang yang cukup darimu.
“selesai”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar