BIBIT DI RAHIM “MALANG”
Cerpen
Aku
berdiri rapuh meletakkan telunjukku di kantung mata. Menghalangi air mata yang
menetes berderai. Tangan kananku yang seputih susu domba yang diternakkan
pamanku, membelai lembut kain yang menutup pusarku, ia pusarku yang kini
membesar tak kusadari dari hari kehari.
Kini
aku mengingat Tuhan, aku tidak membenci Tuhan karna memberiku takdir mengerikan
ini, tapi aku membenci diriku dan kemalanganku. Saat aku berselimut lelaki yang
menenangkanku setiap ia bertutur, juga lelaki yang menipuku dengan wajah manis
serta ceramah menafiknya padaku, yang telah membuang mukaku dan berlayar
meninggalkan kesedihanku bersama benihnya yang kubenci.
Mengapa
perempuan yang hamil ? mengapa bukan lelaki, padahal kami merasakan perasan
nyaman yang sama saat percumbuan. Tapi, dunia itu sepertinya bepihak kepada
lelaki, perempuan harus menderita karna mereka yang hamil bukan lelaki. Aku
juga ingin menjadi bejat, menikmati malam lalu menghilang.
Oh,
aku lupa memperkenalkan namaku, namaku adalah “malang”. Aku terlahir dari dua
orang petani sukses di sebuah desa kecil penghasil padi unggul. Kisah tragis
ini beranjak saat aku berstatus mahasiswa disebuah perguruan tinggi keperawatan
di kota Makassar.
Kota
Makassar yang ramai, berisik dan macet inilah aku dipertemukan dengan sosok
lelaki tegap dengan potongan rambut khas perwira. Aku mengenalnya lewat
undangan pertemanan di akun kebanggaan kaum muda.
Kami
mulai perkenalan,mulai saling terbuka, saling mengingatkan tentang perintah
Tuhan yang membuatku kagum padanya. Namanya “Zalim”, dia adalah seorang perwira
muda yang sangat tampan dan alim.
Percakapan
di akun pada tanggal 17 0ktober 2014.
Zalim : “assalamualaikum”
Malang : “waalaikumsalam”
Zalim : “apa kabar malang, apa kamu sudah sholat
?”
Malang : “belum, aku sedang sibuk menulis askepku”
Zalim : “sempatkanlah dulu untuk sholat”
Malang : “iya Zalim, terima kasih”
Setiap
kata yang dia ucapkan membuatku semakin kagum dari hari-kehari. Kami mulai
sering menikmati lampu kota di jembatan layang. Entah sekedar menggosip merk
mobil mewah atau membandingkan penderitaan anak kecil penjual Koran dengan
deritaku sebagai anak kos.
Hingga
hubungan kami diresmikan oleh sebuah café yang sepi pengunjung. Ia mulai
mengutarakan perasaannya melalui sajak yang membuaiku dan membuatku tergeletak
diruang khayal. Kata yang memang kutunggu untuk terucap dari bibir yang dihiasi
rambut halus ditepi atasnya. Kata yang kutunggu dari sejak pertama aku
mengenalnya akhirnya sekarang terucap dengan harum dihadapanku.
Siapa
yang tidak tergoda oleh pangkat dan wajah tampan serta banyak lagi kelebihannya
dibanding lelaki lain yang pernah kukenal. Malam berganti malam, minggu dan
bulan berjalan lancar tak terhambat. Malam ini adalah malam yang menandai,
hubungan kami telah berjalan setahun. Seperti malam, minggu dan bulan yang
berlalu, kami beranjak keluar menikamti malam. Seperti biasa kami menghabiskan
malam dengan bercanda di atas jembatan layang yang ramai dengan suara tarikan
gas yang bervariasi dari para pemilik kendaraan.
Zalim :
“malang, jika kita berjodoh nanti ! aku ingin bisa berjalan-jalan menikmati
suasana kota dengan mobil mewah keluaran terbaru seperti itu” (menunjuk mobil
mungil yang harganya cocok untuk orang berkantong tebal)
Malang : “ia
salim, aku akan mengikut apa kemauanmu. Aku sangat mencintaimu Zalim, tolong
tetaplah denganku, dan aku berharap kita berjodoh”
Zalim :
“malang, aku ini lelaki berkomitmen, aku takkan meninggalkanmu. Aku sudah
bersumpah atas nama ketulusanku, aku akan menikahimu”
Malang : “aku
pegang janjimu itu Zalim, aku kan memberikan seluruh hidupku padamu, sebab aku
cinta dan bertumpu pada ketulusan yang engkau katakan itu”
Zalim : ”ia
malang, aku berjanji sebelum roh ku berpamit kepada ragaku, takkan aku
meninggalkanmu yang telah kusimpan terlalu rapi disini” (menunjuk bagian tubuh
yang diidentikkan sebagai tempat tinggal perasaan manusia)
Detik,
menit, jam bergantian ditunjuk oleh jarum jam di pergelangan tangan kananku.
Kami tak sadar bahwa kota telah menjadi sepi, manusia sibuk itu telah kembali
keperaduan mereka, menikmati dekapan malam dan selimut dikediaman mereka
masing-masing. Kami tak beranjak, kami terbuai obrolan tak jelas bersama cahaya
temaram tv besar disamping kami, yang dipajang untuk memamerkan iklan produk
terkenal. Saat kami tersadar, aku terlupa bahwa aku telah pindah ke kosan yang
aturannya lebih ketat, sehingga aku tak bisa lagi masuk jika terlamabat pulang,
akhirnya salim menawariku untuk menginap di kediamannya malam itu.
Dikediaman
zalim yang terletak disebuah perumahan ramai penduduk, aku merasa sungkan, malu
dan takut untuk menggerakkan kaki kananku masuk dari pintu kayu yang berukiran
khas jepara, nampak dari luar barang-barang dan perabot mewah menghiasi rumah
itu. Iya, ini kali pertama aku datang kerumah zalim. Setelah masuk aku
disuguhkan minuman dingin dari lemari es milik zalim. Dan aku terkejut saat ia
menjelaskan bahwa ayahnya yang sedang ada tugas keluar kota. Sehingga isi rumah
itu kali ini hanya kami berdua.
Buaian
malam, menggodaku, membisikku, mencoba meneggelamkanku dalam fikiran yang carut
marut. Zalim mulai mendekatiku seolah imannya kini hilang dikepalanya. “Apa
yang kan terjadi tuhan, aku sangat takut” zalim mulai menggenggam tanganku,
meski kuingatkan ia teruz saja tidak perduli, akhirnya aku teriak dan
mengagetkan zalim. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, dentingan jam di dinding
pun hanya bisa berbisik dan gemetar merasakan cekaman suasana akibat
teriakanku. Tiba-tiba zalim berkata.
Zalim : “maafkan aku malang, aku khilaf”
Malang : “maaf
zalim, aku bukan tidak mencintaimu, aku akan memberikan semua ini saat waktunya
telah tepat, tapi bukan sekarang, aku datang terlalu jauh dan membawah harapan
orang tuaku. Aku tidak ingin mengahancurkan hati mereka. Aku mohon mengerti
aku”
Zalim : “ia
malang, sekali lagi maafkan aku. Aku takkan mengulang tindakan khilafku malam
ini”
Malang : “ia
zalim, nampaknya lebih baik aku tidak bermalam disini malam ini, tolong
antarkan aku kerumah paman aku”
Zalim : “tapi
ini sudah terlalu larut malang, bermalamlah dulu disini, aku janji takkan
melakukan hal yang tak baik padamu”
Malang : “tidak
zalim, lebih baik kau antarkan aku kerumah pamanku. Tempatnya tidak jauh dari
sini”
Zalim : “baik
malang, aku ambilkan kamu jaket dan helm dulu, aku takut engkau kedinginan dan
masuk angin”
Malang : “ia
zalim, terima kasih”
Aku
masih termangu dan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan hampir terjadi,
saat motor zalim melaju membelah kesunyian kota tengah malam itu. Aku tau zalim
kecewa, aku tau ia tak terima tapi aku tau rasa cintanya lebih besar dan
meluluhkan nafsunya yang sempat bergejolak tadi. Terima kasih zalim, telah
menjadi pendamping yang didambakan semua wanita, yang menjaga bukan menjagal
keperawanan.
Sesampai
di rumah pamanku, dengan sedikt ragu bercampur cemas tentang jawaban apa yang
harus kuberi jika pamanku bertanya tentang lelaki yang membawaku, dan kemana
aku telah dibawa lelaki itu tadi. Dengan jariku yang mungil mulus dan putih ini
kuketuk pintu rumah pamanku. Beberapa detik terdengar langkah kaki cepat
mendekati pintu dari dalam. Suara ringkik pintu rumah yang terbuka membuatku
sedikit bergetar.
Paman : “malang ? kok kamu datang malam begini, kamu
dari mana ? siapa lelaki yang bersamamu itu ?
Semua
pertanyaan yang kutakutkan akhirnya benar terucap, dan aku telah siap dengan
jawaban palsuku.
Malang : “ini
zalim paman, dia teman kampusku. Tadi kami kerja tugas bersama dirumah nina
(nama teman kampusku) tapi karna kemalaman, kos ku yang baru aturannya ketat
sekali paman jadi saya tidak bisa masuk, jadi aku meminta tolong kepada zalim
agar mengantarku kerumah paman”
Paman : “emm,
kalau begitu masuklah, menginaplah disini dulu malam ini”.
Malang : “iya
paman, terima kasih”
Zalim :
“kalau begitu saya pamit dulu om”
Paman dan malang :
“iya hati2”
Zalim
pun mulai menjauh yang Nampak hanya punggung dan plat motor zalim yang masih
berwarna putih. Aku dan pamankupun masuk ke dalam rumah. Rumah yang cukup luas
dan besar. Pamanku yang seorang kapten kapal kebetulan sedang tidak berlayar.
Aku disuruhnya tidur dikamar tamu yang letaknya di bagian depan rumah itu.
Namun nampaknya rumah ini sangat sepi.
Malang : “tante
anita mana om ?” (tante anita adalah istri paman budi, iya nama pamanku adalah
abdul budi santoso)
Paman :
“tantemu itu sedang pergi kerumah keponakannya yang ingin menikah, om sudah
ditinggal hampir seminggu. Maklum itu keponakan kesayangannya yang menikah”
Malang : “ohh iya
paman, aku tidur dulu. Aku lelah sudah kerja tugas seharian”
Paman : “ia
pergila tidur”
Aku
mulai memejamkan mataku, rasanya sulit untuk menghilangkan fikiran tentang apa
yang terjadi dirumah zalim tadi. Setengah jam berlalu aku masih terjaga oleh
malam yang syahdu. Aku gelisah, aku berputar seperti belut diatas ranjang itu,
kusut sudah seprei ranjang itu kubuat. Tiba-tiba sunyi, tiba-tiba tenang. Aku
rasa ada langkah kaki yang mendekati kamarku. Sedikit menahan nafas untuk
memperjelas apa yang kudengar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lembut hampir
tak bersuara. Sosok tinggih tegap tiba-tiba muncul dari sana. Lalu kunyalakan
lampu tidur dikamar itu. Rupanya pamanku.
Malang : “ada apa paman ? mengapa paman masuk kesini
?”
Paman : “aku tak bisa tidur malang, aku kefikiran tantemu teruz, ia sudah
meninggalkan om hampir seminggu, padahal paman baru pulang dari berlayar”.
Malang : “telfon saja paman”
Paman : “sudah, tapi katanya dua hari lagi baru pulang. Malang mau tidak
tidur dengan paman malam ini. paman kesepian”
Tiba-tiba
paman mendekatiku dengan cepat, memegang tanganku. Aku yang cemas dengan
fikiran tentang zalim kini menjadi lebih kacau dengan tindakan tiba-tiba
pamanku. Aku ingin berteriak tapi pamanku semakin menggila ia mencekik leherku
dan berkata ingin membunuhku jika tak mengikuti perintahnya. Ia bukan zalim, ia
tidak menyayangiku, ia bukan orang yang perduli dengan masa depanku. Kini waktu
telah membunuhku, aku rasa menyesal telah meninggalkan zalim. Aku merasa hancur
tidak berbentuk. Mengapa kemalangan ini menimpaku, mengapa orang tuaku
memberiku nama malang ? aku mulai bingung aku mulai hancur detik demi detik.
Pamanku yang kusangka akan menjagaku malam ini justru merusakkan harapan
hidupku. Kehilangan keperawanan seperti kehilangan nyawa. Mengapa aku, mengapa
aku ? pertanyaan itu yang teruz becumbu difikiranku.
Bejat
betul kehidupan, lelaki yang sering meceramahiku tentang ganasnya kota besar
justru yang menghancurkanku. aKu mengingat ibuku, ayahku, adikku yang telah kehancurkan
harapannya, lebih tepatnya dihancurkan oleh pamanku yang bejat. Ia mengancam
akan membunuhku jika memberitahukan kejadian malam itu.
Waktu
berlalu, malam demi malam kuhabiskan dengan derain air mata. Sebulan lebih
waktu kuhabiskan meratapi kehancuranku, aku tak pernah menemui zalim semenjak
itu. Ia mengira aku marah sebab perlakuannya malam itu, tapi sebenarnya aku
takut memberitahukannya tentang kemalanganku ini. Zalim kekasihku andai engkau
tahu betapa aku mencintaimu. Kini pamanku yang mancabik hidupku itu telah
pindah kenegeri seberang ia berlayar bersama keluarganya. Meninggalkan aku yang
terpuruk. Aku baru menyadari bahwa aku belum kedatangan tamu semenjak malam itu
dan ini sudah lewat dari jadwal semestinya. Tak berani aku ceritakn kepada teman,
kepada zalim terlebih kepada orang tua dan saudaraku. Rasanya ingin aku cabut
nyawaku dan mengubur badanku bersama benih yang kubenci ini.
Dua
bulan sudah aku menutup diri, bersembunyi dari keramaian. Mencoba mencari
alternative membunuh benih dari pria sialan ini. akhirnya, Aku memberanikan
diri untuk menemui zalim, kami bertemu dijembatan layang pada malam kamis 25
desember 2014. Dengan sedikit gugup mulai kuceritakan satu demi satu
kepedihanku, kedukaanku, kehancuran yang tidak kukehendaki. Jelas zalim marah,
dan ia serasa ingin membunuh pamanku, ia tidak menyalahkanku, ia tidak
mencaciku, ia mencoba mengerti aku. Aku merasa dia seperti malaikat yang sangat
tangguh terhadap perasaanya. Aku tau ia marah, aku tau ia kecewa, tapi entah
mengapa ia ingin menerimaku. Ia ingin meminangku. Ia ingin mengakui benih ini
sebagai benihnya, entah itu cinta atau logika terbalik atau kebodohannya.
Pertanyaan yang muncul diakal ku bertubi-tubi membuatku semakin sulit untuk
bernafas dan menentukan arah.
Percakapan
malam itu membuatku berfikir keras, memunculkan harapan baru untukku. Akupun
menyetujui keinginan zalim, dan orang tuaku yang tidak pernah tau tentang
kemalanganku siap menerima zalim sebagai pendamping hidupku hingga masa tua
datang mengeriputkan wajahku.
Seminggu
sebelum pernikahan, zalim berangkat untuk mengecek lokasi pernikahan kami, yang
rencana akan kami adakan di sebuah hotel. Namun, mungkin namaku dan nasibku
memang sesuai salim tertikam dan mati ditempat saat mencoba untuk menyelamatkan
seorang ibu yang kecopeetan didepan bank. Zalim yang seorang perwira berusaha
untuk menolong namun kemalangan justru menimpanya. Aku terpukul, aku tertusuk
masuk kedalam tanah, rasanya jantungku remuk. Aku berteriak mendengar kabar
buruk itu. Suaraku menggema, menggetarkan seisi rumah. Mama dimana Tuhan ?
mamah apa tuhan benci padaku ? apa aku sehina ini apa aku senista ini. Aku tahu
lelaki baik untuk wanita yang baik. Tapi ini bukan inginku maaaaa.
Mama : “apa yang kau bicarakan malang, nyebut ini
semua cobaan”
Malang : “aku tak sanggup lagi dicoba ma, aku tak sanggup” (sambil berlari
aku mengambil sebilah bambu yang harusnya digunakan untuk menghiasi pesta
pernikahanku dengan zalim, dan menikam perutku tiga kali yang memancarkan dara
yang sangat banyak, kemudian menahan nafasku berharap tuhan segera mengambil
nyawaku)
Aku
tidak sedang berusaha untuk membuat kisah cinta seromantis romeo dan Juliet,
aku hanya tidak sanggup menghadapi dunia yang jahat padaku.
“TAMAT”

Wow , amazing..😊
BalasHapusthank, tunggu cerita cerita selanjutnya yah ..?
BalasHapusEmosika bacaki
BalasHapus