Sabtu, 26 Maret 2016

KARANGAN III

AKU TERSEDAK RINDU
Cerpen
Karangan : Soenardin Al-iman


Bergetar gelas di genggamanku, rasanya tak sanggup kucumbukan bibirku dan bibir gelas pagi ini. Sejuk terlalu rindu nampaknya denganku, hingga mendekapku begitu erat. Di sebuah rumah persegi tempatku mengusik malam dan menggilai bulan. Aku ingin menyapamu dengan ucapan selamat untuk pagi yang berhasil datang tepat waktu lagi hari ini. Terasa ada pelukan hangat dari arah punggungku, kusadari itu adalah wanitaku, duniaku dan hidupku. Tilka adalah istri yang setia menemaniku mengusir malam dan menyambut pagi tapi juga membuatku selalu rindu dengan malam.
“kak Hafiz mau makan apa hari ini ?” (ia itulah namaku, nama pemberian ibuku, kebanggaanku)
“aku akan makan apa saja yang penting istriku tersayang yang memasakkan” (sambil mengcup  kening istriku aku menggandengnya menuju dapur)
Bak raja dan permaisuri, rumah ini penuh dengan fasilitas nan canggih, semua serba ada. Maklum saja mertuaku adalah seorang kaya raya. Mungkin jodohlah yang terlalu baik, mempertemukanku dengan Tilka. Tapi jujur memang akulah yang memang mendekati yirah, karna harta ? ia, awalnya memang karna harta, tapi setelahnya karna cinta.
Rencana dan bencana terlalu akrab, hingga susah untuk dipisahkan,  hari yang terlalu cerah ini akan kami habiskan ditempat belanja. Kami berjalan bergandengan bak pemmuda yang sedang dimabuk asmara, sambil berjalan dan  bercanda tentang kehidupan yang lucu kami semalam. Di salah satu toko pakaian wanita, Tilka memilih dan memilah barang yang bagus dan bermerek. Inilah pengorbanan terbesar lelaki bila menemani wanitanya berbelanja, rasanya sehari tak cukup bila ingin memenuhi hasrat belanja perempuan.
Aku memilih untuk  menunggu sambil  memainkan gadgetku di sebuah tempat makan yang ada di dalam mall ini.
            “mau pesan apa mas ?”
Aku menengadah dan memandang pelayan itu, tersedak dadaku rasanya, kaku bibirku tak mampu berucap. Rasanya aku, ingin menghilang segera dari tempat itu.
            “kak Hafiz” (pelayan itu menyebut namaku dengan ejaan sempurnah)
Suasana menjadi tak karuan, terlebih saat gerimis dimatanya mulai membasahi pipinya. Aku beranjak pergi tanpa berkata sedikit pun. Aku tergesah meninggalkan tempat itu, carut marut langkah kakiku rasanya gerimispun menghampiri mataku, tapi kutepis segera dengan telunjukku. Kemudian aku menjemput Tilka dan mangjaknya segera pulang, ia bingung tapi tetap menuruti inginku. Dengan alasan aku lupa mengunci pintu rumah aku memaksa tilka untuk segera pulang.
Aku melanjutkan tangisku didalm wc, ingatan memaksaku berderai tak terkendali. Aku merasa berdosa, aku merasa sangat hina. Kutilik ingatan masa laluku saat derita kemiskinan masih bersamaku, Tilka dulu tak secantik ini, tak seharum dan semewah ini. Gajiku sebagai seorang pegawai supermarket tidak seberapa, Tilka masih belia kala itu, aku tersandung kasus masa muda yang memaksaku untuk memudahi pernikahan. Tempatku dulu juga persegi hanya lebih kecil dan pengap, kini tempat persegiku punya banyak kamar, bukan hanya satu.
Lupakan itu, dan mari merajuk kembali ceritaku. Kehidupan terlalu keras kulalui masa itu. Tiga bulan rasanya kami hidup serba tak cukup, kasihan aku melihat Tilka tidur beralas terpal tipis, hari demi hari semakin mencekikku, kebutuhan yang merangkak bahkan meloncat naik membuat kami hampir mati, andai taka da mie instan yang selalu menjadi juru selamat.
Hari ini aku mulai pekerjaanku setelah mengahapus penyesalan sejenak dalam diriku dan mencoba melayani pembeli dengan senyum, agar tak dilepas kerja oleh bos ku.
Satu demi satu pelanggan pulang pegi, bermacam wajah tela kutemui, silih berganti rona wajah yang menghampiri. Hingga suatu ketika, terbelalak mataku melihat keindahan ilahi pada sosok perempuan yang Nampak sangat anggun sedang memilih parfum. Puitis sekali wajah wanita ini hingga aku terlena. Tapi aku sadar aku, aku tau diri dia tak bakal mencintaiku tapi setidaknya untuk cuci mata bolehlah.
Kemudian ia mendekati meja kasir, tersipu malu aku, mempersiapkan diri dengan memperhatikan kaca yang ada ditoko, mencoba mencari bayanganku, merapikan hal yang sebenarnya sudah rapi. Ia mendekat, oh tuhan selamatkan aku. Dia menyapaku duluan.
            “berapa semua mas ?”
Karna terlena, aku tak menjawab pertanyaan itu, aku hanya tercengang hingga kawanku mengaggetkanku, dengan batuk yang disengajanya. Diujung pembelanjaan, mungkin sebab jodoh atau apa, aku menawarinya untuk membeli pulsa telefon seperti seharusnya yang kulakukan pada pelanggan lain, dan ternyata ia memang ingin membeli pulsa. Pucuk dicinta, nomerpun tiba.
Tergesa-gesa aku mulai menulis angka demi angka. Hari berlalu, fikiran buruk yang memangsa fikiranku, bahwa ia tidak akan sudi berkenalan denganku ternyata salah. Ia meresponku dengan baik, tuturannya dalam telefon membuatku kagum, aku berfikir dalam diri, jika di telefon saja dia baik, pastilah dalam dunia nyata ia baik pula.
Hujan gerimis mempertemukan kami, saat aku beranjak meninggalkan tempat kerjaku. Terpapas pandanganku padanya yang sedang berdteduh didepan tokoh dimana aku bekerja. Berat kaki kuayunkan, namun hati mendesak memohon agar mengahmpirinya, kaki yang tak memiliki perasaan luluh dan mengikuti kata hati. Kami bertegur sapa, mulai bercerita, terasa akrab bak teman lama yang baru bertemu kembali. Akhirnya aku tahu dimana ia tinggal dan beberapa hal lainnya, meskipun aku telah mengetahui namanya lewat percakapan di telefon, aku mengenalnya sebagai Aini, itulah nama yang ia beritahukan padaku.
Terpatri dalam hatiku untuk menjalin kisah cinta yang romantis, pertalian kasih suci dambaan insan manusia ingin kumohonkan pada Tuhan untuk kami. Tapi Tuhan menyadarkan aku, mengingatkan surge yang menantiku di rumah. Aku memiliki wanita hebat yang menantiku di tempat yang kusebut Rumah. Aku mulai menjauh dari aini, melepskan kerinduan melepaskan kehangatan, mencoba menghilang bagai termakan dunia.
Namun, kehidupan semakin sulit. Gajiku semakin mongering tak mampu membasahi kebutuhan hidupku dengan tilka. Permohonan yang kukirim kepada Tuhan belum terbalaz, mungkin menunggu waktu yang tepat. Aini yang sekian lama mencariku, akhirnya behasil menemuiku di rumahku, ia tahu semua tentang kegetiran hidupku, ia ingin menyelamatkanku dari kesengsaraan, ia bertutur cinta padaku didepan istriku, bukan lagi gerimis tetapi hujan air mata kami bertiga mengguyur basah tempat yang kusebut Rumah ini. Rumah yang sempit dan pengap, dinding yag penuh dengan penutup cahaya, atapnya yang luntur oleh basah air hujan dan dindingnya yang bising ketika dibuka. 
Tilka terus diam dikasur lantai using kami, ia tak bergerak ia hanya menyimak. Hingga Aini berkata.
            “aku mencintai suamimu, isinkan aku bermadu denganmu”
Tak dapat kucegah kata-kata itu begitupun tamparan dan teriakan Tilka pada Aini.
“kamu sudah gila, dia suamiku. Aku telah memberikan segala pegorbananku padanya, lalu kau ingin merebutnya begitu saja?”
“aku ingin membantumu dan suamimu agar bangkit dari penderitaan, tapi bantu aku juga melepas Rindu ini dari suamimu”
“pergii”
Hening dan Aini berlari meninggalkan kami, tersungku aku mengakui, bahwa aku belum bisa menjadi lelaki yang bijak. Aku sang bisa pada keadaan yang memerlukanku merasa menyesal sendiri meringkuk didepan Tilka memohon ampun, lama bederai kami bedua, hingga Tilka berucap lirih hampir tak bersuarah, karna parau akibat luka dalam hatinya.
            “menikahlah kak, tapi jangan ceraikan aku”
            “tapi tilka aku mencintaimu ?”
“iya, sebab aku tahu kakak mencintaiku, maka menikahlah, biarkan ia sampai kepada niat baiknya untuk melepaskan sengsara pada keluarga ini. Setelah itu tiggalkan dia”
Dingin malam menyapa telingaku, berhembus dan berbisiki pelan agar aku segera menutup mata. Membiarkan lelah badanku terobati lantai rumahku. Aku kemudian membangunkan Tilka setelah bergelut dengan fikiranku sendiri.
“maafkan aku, mungkin ini sebuah kesalahan, tapi aku ingin menyelamatkan keluarga kita”
Melalui ucapan sacral, aku diresihkan oleh pernikahan mewah rancangan keluarga Aini. Kini kehidupanku mulai merangkak naik, namun Aini memaksaku untuk tinggal bersamanya, apalah dayaku, aku hanya terus berdo’a agar Tilka tak membenciku.
Aku mulai berpindah kerja, keluarga aini adalah pengelolah tempat makan yang besar dan tersebar dibanyak tempat. Aku tak lupa tanggung jawabku, aku terus menafkahi Tilka, namun kami jarang bertemu bahkan hampir tidak, Aini terus mengahalangiku untuk bertemu Tilka tapi ia tidak melarangku untuk mentransfer gajiku untuk Tilka.
Semua seolah sudah membaik, aku tak lagi melarat. Aku yakin kehidupan perekonomian Tilka juga sudah membaik. Tapi aku terbuai, rasanya tidak bisa kulepas Aini dan semua kenyamanan ini. Aku terlalu terlena. Hingga kuingat bahwa Tilka sudah hamil 9 bulan, ia aku ingat kami memang menikah karna perkara itu. Aku memohon izin untuk menjenguk Tilka, dan akhirnya Aini menginkanku.
Inikah rindu yang tersedak di tenggorakanku, inikah rindu yang kupeluk dan cium setia hari. Aku merangkulnya dengan erat, penuh haru kuusap perut istriku. Lalu tilka berucap padaku.
            “saatnya berhenti, mari kita tinggalkan peran percintaan gila ini”
            “tapi aku punya tanggung jawab terhadap Aini, kini ia adalah istriku juga”
“ingat kesepakatan kita, dan ingat cinta kakak dan bayi ini. Ia tidak akan sanggup menerima ketragisan ini, uang yang kakak berikan sudah cukup aku tabung. Aku hanya menggunakannya untuk keperluan makan sehari-hari saja, sebab aku tahu hari ini akn datang”
Akupun sepakat dengan Tilka untuk meninggalkan semua kesalahan ini. Dengan penuh tangis terdengar ketukan puntu dari luar wc.
            “kakak, kenapa lama sekali di dalam wc ?”
“ia, tunggu aku sedang bersemedi, hahahhaa” (sambil mencuci mukaku aku segera menarik gagang pintu dan memeluk istriku”
“ada apa ini, dari wc saja tapi seperti rindu bertahun tak bertemu.
Dengan perlahan mulai kuceritakan kejadian di supermarket tadi kepada Tilka, bahwa aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengenalku.  Dia adalah sinta teman kerjaku dulu, aku tak ingin bertegur sapa dengan sinta sebab ia tahu semua cerita ini, dan ia kenal dengan aini. Aku takut aini akan menemukan kami dalam persembunyian ini. Ia sampai hari ini, kami masih dalam persembunyian, dan aku berharap kepada kalian yang membaca cerita ini agar tidak memberi Tahukan kepada Aini tentang kehidupan yang nyamanku dengan Tilka sekarang, sebab aku faham rasa cintanya, sebab aku mengerti rasa sakit yang ia derita karna kutinggal begitu saja, dia masih istriku, dan aku kini tersedak rindu padanya. Tapi jangan beritahukan Tilka semua ini. Ingat.

“selesai”

1 komentar: