AKU
TERSEDAK RINDU
Cerpen
Bergetar gelas di
genggamanku, rasanya tak sanggup kucumbukan bibirku dan bibir gelas pagi ini.
Sejuk terlalu rindu nampaknya denganku, hingga mendekapku begitu erat. Di
sebuah rumah persegi tempatku mengusik malam dan menggilai bulan. Aku ingin
menyapamu dengan ucapan selamat untuk pagi yang berhasil datang tepat waktu
lagi hari ini. Terasa ada pelukan hangat dari arah punggungku, kusadari itu
adalah wanitaku, duniaku dan hidupku. Tilka adalah istri yang setia menemaniku
mengusir malam dan menyambut pagi tapi juga membuatku selalu rindu dengan
malam.
“kak
Hafiz mau makan apa hari ini ?” (ia itulah namaku, nama pemberian ibuku,
kebanggaanku)
“aku
akan makan apa saja yang penting istriku tersayang yang memasakkan” (sambil
mengcup kening istriku aku
menggandengnya menuju dapur)
Bak raja dan
permaisuri, rumah ini penuh dengan fasilitas nan canggih, semua serba ada.
Maklum saja mertuaku adalah seorang kaya raya. Mungkin jodohlah yang terlalu
baik, mempertemukanku dengan Tilka. Tapi jujur memang akulah yang memang
mendekati yirah, karna harta ? ia, awalnya memang karna harta, tapi setelahnya
karna cinta.
Rencana dan bencana
terlalu akrab, hingga susah untuk dipisahkan,
hari yang terlalu cerah ini akan kami habiskan ditempat belanja. Kami
berjalan bergandengan bak pemmuda yang sedang dimabuk asmara, sambil berjalan
dan bercanda tentang kehidupan yang lucu
kami semalam. Di salah satu toko pakaian wanita, Tilka memilih dan memilah
barang yang bagus dan bermerek. Inilah pengorbanan terbesar lelaki bila
menemani wanitanya berbelanja, rasanya sehari tak cukup bila ingin memenuhi
hasrat belanja perempuan.
Aku memilih untuk menunggu sambil memainkan gadgetku di sebuah tempat makan
yang ada di dalam mall ini.
“mau pesan apa mas ?”
Aku menengadah dan
memandang pelayan itu, tersedak dadaku rasanya, kaku bibirku tak mampu berucap.
Rasanya aku, ingin menghilang segera dari tempat itu.
“kak Hafiz” (pelayan itu menyebut namaku dengan ejaan
sempurnah)
Suasana menjadi tak
karuan, terlebih saat gerimis dimatanya mulai membasahi pipinya. Aku beranjak
pergi tanpa berkata sedikit pun. Aku tergesah meninggalkan tempat itu, carut
marut langkah kakiku rasanya gerimispun menghampiri mataku, tapi kutepis segera
dengan telunjukku. Kemudian aku menjemput Tilka dan mangjaknya segera pulang,
ia bingung tapi tetap menuruti inginku. Dengan alasan aku lupa mengunci pintu
rumah aku memaksa tilka untuk segera pulang.
Aku melanjutkan
tangisku didalm wc, ingatan memaksaku berderai tak terkendali. Aku merasa
berdosa, aku merasa sangat hina. Kutilik ingatan masa laluku saat derita
kemiskinan masih bersamaku, Tilka dulu tak secantik ini, tak seharum dan
semewah ini. Gajiku sebagai seorang pegawai supermarket tidak seberapa, Tilka
masih belia kala itu, aku tersandung kasus masa muda yang memaksaku untuk
memudahi pernikahan. Tempatku dulu juga persegi hanya lebih kecil dan pengap,
kini tempat persegiku punya banyak kamar, bukan hanya satu.
Lupakan itu, dan mari
merajuk kembali ceritaku. Kehidupan terlalu keras kulalui masa itu. Tiga bulan
rasanya kami hidup serba tak cukup, kasihan aku melihat Tilka tidur beralas
terpal tipis, hari demi hari semakin mencekikku, kebutuhan yang merangkak
bahkan meloncat naik membuat kami hampir mati, andai taka da mie instan yang
selalu menjadi juru selamat.
Hari ini aku mulai
pekerjaanku setelah mengahapus penyesalan sejenak dalam diriku dan mencoba
melayani pembeli dengan senyum, agar tak dilepas kerja oleh bos ku.
Satu demi satu
pelanggan pulang pegi, bermacam wajah tela kutemui, silih berganti rona wajah
yang menghampiri. Hingga suatu ketika, terbelalak mataku melihat keindahan
ilahi pada sosok perempuan yang Nampak sangat anggun sedang memilih parfum.
Puitis sekali wajah wanita ini hingga aku terlena. Tapi aku sadar aku, aku tau
diri dia tak bakal mencintaiku tapi setidaknya untuk cuci mata bolehlah.
Kemudian ia mendekati
meja kasir, tersipu malu aku, mempersiapkan diri dengan memperhatikan kaca yang
ada ditoko, mencoba mencari bayanganku, merapikan hal yang sebenarnya sudah
rapi. Ia mendekat, oh tuhan selamatkan aku. Dia menyapaku duluan.
“berapa semua mas ?”
Karna terlena, aku tak
menjawab pertanyaan itu, aku hanya tercengang hingga kawanku mengaggetkanku,
dengan batuk yang disengajanya. Diujung pembelanjaan, mungkin sebab jodoh atau
apa, aku menawarinya untuk membeli pulsa telefon seperti seharusnya yang
kulakukan pada pelanggan lain, dan ternyata ia memang ingin membeli pulsa.
Pucuk dicinta, nomerpun tiba.
Tergesa-gesa aku mulai
menulis angka demi angka. Hari berlalu, fikiran buruk yang memangsa fikiranku,
bahwa ia tidak akan sudi berkenalan denganku ternyata salah. Ia meresponku
dengan baik, tuturannya dalam telefon membuatku kagum, aku berfikir dalam diri,
jika di telefon saja dia baik, pastilah dalam dunia nyata ia baik pula.
Hujan gerimis
mempertemukan kami, saat aku beranjak meninggalkan tempat kerjaku. Terpapas
pandanganku padanya yang sedang berdteduh didepan tokoh dimana aku bekerja.
Berat kaki kuayunkan, namun hati mendesak memohon agar mengahmpirinya, kaki
yang tak memiliki perasaan luluh dan mengikuti kata hati. Kami bertegur sapa,
mulai bercerita, terasa akrab bak teman lama yang baru bertemu kembali.
Akhirnya aku tahu dimana ia tinggal dan beberapa hal lainnya, meskipun aku
telah mengetahui namanya lewat percakapan di telefon, aku mengenalnya sebagai
Aini, itulah nama yang ia beritahukan padaku.
Terpatri dalam hatiku
untuk menjalin kisah cinta yang romantis, pertalian kasih suci dambaan insan
manusia ingin kumohonkan pada Tuhan untuk kami. Tapi Tuhan menyadarkan aku,
mengingatkan surge yang menantiku di rumah. Aku memiliki wanita hebat yang
menantiku di tempat yang kusebut Rumah. Aku mulai menjauh dari aini, melepskan
kerinduan melepaskan kehangatan, mencoba menghilang bagai termakan dunia.
Namun, kehidupan
semakin sulit. Gajiku semakin mongering tak mampu membasahi kebutuhan hidupku
dengan tilka. Permohonan yang kukirim kepada Tuhan belum terbalaz, mungkin
menunggu waktu yang tepat. Aini yang sekian lama mencariku, akhirnya behasil
menemuiku di rumahku, ia tahu semua tentang kegetiran hidupku, ia ingin
menyelamatkanku dari kesengsaraan, ia bertutur cinta padaku didepan istriku,
bukan lagi gerimis tetapi hujan air mata kami bertiga mengguyur basah tempat
yang kusebut Rumah ini. Rumah yang sempit dan pengap, dinding yag penuh dengan
penutup cahaya, atapnya yang luntur oleh basah air hujan dan dindingnya yang
bising ketika dibuka.
Tilka terus diam
dikasur lantai using kami, ia tak bergerak ia hanya menyimak. Hingga Aini
berkata.
“aku mencintai suamimu, isinkan aku bermadu denganmu”
Tak dapat kucegah
kata-kata itu begitupun tamparan dan teriakan Tilka pada Aini.
“kamu
sudah gila, dia suamiku. Aku telah memberikan segala pegorbananku padanya, lalu
kau ingin merebutnya begitu saja?”
“aku
ingin membantumu dan suamimu agar bangkit dari penderitaan, tapi bantu aku juga
melepas Rindu ini dari suamimu”
“pergii”
Hening dan Aini berlari
meninggalkan kami, tersungku aku mengakui, bahwa aku belum bisa menjadi lelaki
yang bijak. Aku sang bisa pada keadaan yang memerlukanku merasa menyesal
sendiri meringkuk didepan Tilka memohon ampun, lama bederai kami bedua, hingga
Tilka berucap lirih hampir tak bersuarah, karna parau akibat luka dalam
hatinya.
“menikahlah kak, tapi jangan ceraikan aku”
“tapi tilka aku mencintaimu ?”
“iya,
sebab aku tahu kakak mencintaiku, maka menikahlah, biarkan ia sampai kepada
niat baiknya untuk melepaskan sengsara pada keluarga ini. Setelah itu tiggalkan
dia”
Dingin malam menyapa
telingaku, berhembus dan berbisiki pelan agar aku segera menutup mata.
Membiarkan lelah badanku terobati lantai rumahku. Aku kemudian membangunkan
Tilka setelah bergelut dengan fikiranku sendiri.
“maafkan
aku, mungkin ini sebuah kesalahan, tapi aku ingin menyelamatkan keluarga kita”
Melalui ucapan sacral,
aku diresihkan oleh pernikahan mewah rancangan keluarga Aini. Kini kehidupanku
mulai merangkak naik, namun Aini memaksaku untuk tinggal bersamanya, apalah
dayaku, aku hanya terus berdo’a agar Tilka tak membenciku.
Aku mulai berpindah
kerja, keluarga aini adalah pengelolah tempat makan yang besar dan tersebar
dibanyak tempat. Aku tak lupa tanggung jawabku, aku terus menafkahi Tilka,
namun kami jarang bertemu bahkan hampir tidak, Aini terus mengahalangiku untuk
bertemu Tilka tapi ia tidak melarangku untuk mentransfer gajiku untuk Tilka.
Semua seolah sudah
membaik, aku tak lagi melarat. Aku yakin kehidupan perekonomian Tilka juga
sudah membaik. Tapi aku terbuai, rasanya tidak bisa kulepas Aini dan semua
kenyamanan ini. Aku terlalu terlena. Hingga kuingat bahwa Tilka sudah hamil 9
bulan, ia aku ingat kami memang menikah karna perkara itu. Aku memohon izin
untuk menjenguk Tilka, dan akhirnya Aini menginkanku.
Inikah rindu yang
tersedak di tenggorakanku, inikah rindu yang kupeluk dan cium setia hari. Aku
merangkulnya dengan erat, penuh haru kuusap perut istriku. Lalu tilka berucap
padaku.
“saatnya berhenti, mari kita tinggalkan peran percintaan
gila ini”
“tapi aku punya tanggung jawab terhadap Aini, kini ia
adalah istriku juga”
“ingat
kesepakatan kita, dan ingat cinta kakak dan bayi ini. Ia tidak akan sanggup
menerima ketragisan ini, uang yang kakak berikan sudah cukup aku tabung. Aku
hanya menggunakannya untuk keperluan makan sehari-hari saja, sebab aku tahu
hari ini akn datang”
Akupun sepakat dengan Tilka
untuk meninggalkan semua kesalahan ini. Dengan penuh tangis terdengar ketukan
puntu dari luar wc.
“kakak, kenapa lama sekali di dalam wc ?”
“ia,
tunggu aku sedang bersemedi, hahahhaa” (sambil mencuci mukaku aku segera
menarik gagang pintu dan memeluk istriku”
“ada
apa ini, dari wc saja tapi seperti rindu bertahun tak bertemu.
Dengan perlahan mulai
kuceritakan kejadian di supermarket tadi kepada Tilka, bahwa aku bertemu dengan
seorang perempuan yang mengenalku. Dia
adalah sinta teman kerjaku dulu, aku tak ingin bertegur sapa dengan sinta sebab
ia tahu semua cerita ini, dan ia kenal dengan aini. Aku takut aini akan
menemukan kami dalam persembunyian ini. Ia sampai hari ini, kami masih dalam
persembunyian, dan aku berharap kepada kalian yang membaca cerita ini agar
tidak memberi Tahukan kepada Aini tentang kehidupan yang nyamanku dengan Tilka
sekarang, sebab aku faham rasa cintanya, sebab aku mengerti rasa sakit yang ia
derita karna kutinggal begitu saja, dia masih istriku, dan aku kini tersedak
rindu padanya. Tapi jangan beritahukan Tilka semua ini. Ingat.
“selesai”

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus