Jumat, 08 November 2019

"
Makna yang lain"

Bangkit dari kemarin, keretaku sudah tiba, gerbong kosong yang isinya hanya aku. Dipesan khusus dengan tiket vip firstclass, tak ada yang menyangka. Aku duduk dipojok dengan do'a yang tak pernah putus. Berharap kakiku tak gemetar dihantar angin menujumu. Aku terkejut saat pintu terbuka, rupanya aku sudah tiba pada penantianmu, pada rindumu, hangat pelukmu meruntuhkan air mata kita. Mengapa kau dekap aku erat, mengapa kau rangkul aku mesrah, mengapa tanganmu mencengkram. Mengapa engkau senyum dan menangis bersamaan ? Kau dan bisikmu sama lembutnya, pada telinga yang telah mendengar sejuta warna suara. Benarkah aku telah mendekap dua raga, aku merasa sangat sempurnah, merasa dilengkapkan oleh Tuhan. Kau mengandung harapan besar, cita cita kita berdua akan segera diwujud nyata. Pada apa yang selalu kau harapkan, aku juga mengharapkan. Kembali kudekap ragamu, lebih erat dari pelukmu padaku, sampai kau susah bernafas, kembali mencengkramku dengan kuat, aku masih saja memelukmu dengan erat saat nafasmu tak bisa lagi kau atur, semakin keras kau berteriak semakin erat pula aku memeluk, tak ada sesiapa yang mendengar, pertemuan ini sangat intim dan privasi, sehingga tak ada sesiapa akan mendengarmu menjerit. Semakin ganas saja kau mencakar wajahku yang tak berkutik sedikitpun, dengan tatapan datar dan tanpa suara. Aku mengakhiri cinta kita disini dengan caraku. Yah, aku memanglah kejam jika kau menganggapku demikian, aku memanglah tak berperasa jika tuduhanmu seperti itu. Tapi jika kau menganggap aku tak mencintaimu, itu terlalu keliru untuk dibenarkan. Aku teramat dalam mencintaimu, bahkan mengalahkan cintaku pada diriku sendiri, kupaksa ragaku mengais rezeki untuk kita setiap hari. Kususun rencana agar masa depan kita bahagia. Tapi maaf aku mengakhiri cinta kita.
Sepuluh bulan lalu aku mendekapmu erat ditempat ini, tangismu sama derasnya seperti hari ini, seperti tak rela melepas pisah dua raga ini. Aku harus meninggalkanmu agar cita cita kita tercapai. Kini aku kembali untuk mewujudkannya, namun kau paksa aku kecewa, sangat dalam hingga air mataku menolak jatuh untukmu. Benih itubtak mungkin milikku dan cintaku pasti telah lama runtuh dihatimu. Dan otakku memaksa ragaku untuk mengakhiri cinta kita. Kemudian kulepas dekapanku perlahan, bersamaan dengan air mataku yang jatuh dengan tulus dari hatiku, kini engkau jatuh dan tak bisa mencintaiku lagi.

Selasa, 27 Desember 2016

Canda mata



“CANDA MATA”
PENULIS : SOENARDIN AL-IMAN
Ada yang merangkulku mesrah pagi ini, terasa hangat jemari lembut itu, menyentuh badanku dengan lembut. Menjelajahi dadaku yang penuh resah, mengangkat daguku memaksaku berpaling padanya dan meniti senyum sejengkal dari senyumnya. Aku menatapnya dalam seolah aku mampu membaca fikirnya, bahwa ia tak bisa pergi, ia ingin tinggal disini menutup hari disaat sore menjadi gelap dan temaram.
Tapi aku tak bisa, ia akan mneyiksaku jika kubiarkan tinggal, ia akan mencabikku dengan kejam, membuatku terluka dalam. Bukannya aku tega, tapi ia akan lebih tega dari aku, dia lebih tak berperikemanusiaan daripada aku.
Dia tak berwujud nyata memang, namun ia dapat menikamku dengan kejam tepat dijantungku, “rindu” yah, dia memang hanya sekedar rindu yang menggelayutiku sepanjang pagi, bahkan mungkin sepanjag nafasku semenjak aku mengenal perempuan yang mengenalkan aku pada-nya (pada rindu).
Perempuan yang entah datangnya dari mana, entah apa yang ia bawakan untukku sehingga aku menantinya. Sebenarnya ini rumit, tapi akan kujelaskan sedikit lebih mudah. Maryam adalah perempuan yang kukagumi selama ini, tapi waktu tak pernah bersahabat denganku. Sebab aku tak pernah datang diwaktu yang tepat, mungkin waktu tak merestui atau mungkin takdir ingi bercerita lain.
Mar, aku tahu hatinya, aku kenal gelagaknya, ia memendam rindu yag sama terhadapku. Tapi aku tak bisa memaksa diri, aku tak ingin merusak apa yang sudah indah, apa yang memang sepatutnya tidak aku usik. Rumah cinta mar yang ia bangun dari kesedihan masa lalunya, dari lelaki yang pernah menghianatinya kini perlahan mengindah bersama lelaki yag kini mendampinginya. Sebab itulah tak sudi aku merusakkan apa yang sudah kuanggap benar itu, meski aku harus tersiksa batin menahan rindu yang memelukku setiap pagi.
Hari ini, aku menatapnya tajam di perjalanan, hanya senyum sebatas diam yang terpapar diantara kami. Tapi tahukah kalian, ada canda mata yang sedang kami rangkai dalam dialog diam itu. Dimana seluruh tubuhku seolah ikut berkata bahwa aku ingin merangkul senyummu, memasukkannya kedalam toples lalu kubawaa pulang. Kemudian akan kubawa kelaboratorium agar aku tau apa kandungan yang membuat senyummu menyamankan pandangan.
Oh mar, biarkan cerita ini menjadi sebatas cerita. Apapun harapan mu, dan apapun harapanku mari kita berharap agar Tuhan berharap sama dengan kita.

Selasa, 08 November 2016

Kehilangang sajak


Kehilangan sajak
Oleh :BangSunan

Aku ingin menulis puisi.
Beri aku sebatang pena dan fatis untuk menulis
Aku ragu ini akan merambat menggetarkan denyutmu
Aku bimbang menimbang fonemik yang mer-ubah-ubah mimik
Kukais sarkais luapan emosi diurat kening yang meluap
Sampai meretak ujung pena aku mengganas  mengoyak kertas
Menggigit kuku aku menyudut disudut samping lemariku
Sirnah sudah kepekaan, keharmonian, keromantisan
Bak terdampar diruang hampa, aku tergenang tak lagi dikenang.

Minggu, 06 November 2016

Sebuah puisi, sebuah cerita


Sebuah puisi, sebuah cerita !
Oleh : Bang Sunan

Lekas membekas seberkas ingatan
Gelas meretas membias tangisan

Sudah, lupakan saja, konon itu hanya cerita
Sedihlah sesekali, asal jangan berkali-kali.

Pulas tergilas, sekilas lupakan
Segelas terperas, mengeras pujian.

Cukup sudah menjadi tabu, konon jika itu benar derita.
Akan mendapat hikmah tepat dari penjaga jagat.

Jumat, 04 November 2016

Tangkai Rangkaian Puisi

Irama sirkandia

Puisi inspirasi : calon Dokter Eva F.Syarif
Perangkai kata : #Bang Sunan

Mari menulis ritme irama sirkandia setiap harimu

Lalu lalang orang hilang dan datang menghadapmu

Berbelas gelas memelas diatas meja melingkarmu

Sepotong hatimu kosong tak terisi menjadi ruang hampa

Kau memanggil niat untuk menutup itu ruang hampa

Namun waktu belum mengizinkan kata menuai makna

sebelum aku yang memang engkau tunggu datang mengisinya.

Senin, 30 Mei 2016

karangan VI



RAHASIA RINDU
Cepen karangan : Sunan (Soenardin Al-iman)
Ini adalah kisah nyata, dan senyata-nyatanya kisah, kisah tetaplah kisah. Aku menceritakan tentang aku dalam kenyataan kisah yang siap kau simaki. Aku berlari  mengibaskan kain penutup badanku, terbang dihempas angin semerbak subuh. Aku mencoba menahan hembusan angin  yang hendak  manarik untaian benang pelindung wajahku. Sembari terus berzikir dan mengingat Tuhan aku berlari sampai subuh berpamitan padaku.
Kusimpul nafasku agar menyatu dan tenang, mencoba memelangkan langkahku menuju tepi. Aku memanggil dengan bisik, berbisik kemudian hening, kemudian berbisik lagi mencoba mengusir hening sampai jauh. Kudekati tepi tempat berdirinya, lalu berbisik lagi kemudian hening lagi. Lalu dia berteriak seolah ingin menerkamku, bibirku memelatih Saat wajahnya memawar. Tak kuasa telingaku mendengar hingga mataku melara menetaskan air lampiasan duka.
Bersyahadat dan berzikir dalam hati, meski menangis aku merayu kepada Tuhan agar mengampuni dosaku, aku takut ini sebab dosaku, ini hukumanku di dunia, lalu bagaimana perihnya hukuman dunia kekal kelak. Tapi itu didalam hatiku, di lisan yang terucap adalah memohon pengampunan dari dia yang berdiri ditepi yang wajahnya memawar ingin menerkamku dengan makian sederhana namun perih.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Menerimanya dalam hati namun menolaknya dalam nyata. Aku tak berani berkata jujur kepada manusia bahwa aku telah menjadikannya kekasih. Aku takut buruk dimata mereka. Aku takut jubahku dikaitkan dengan akhlakku. Tapi apa hubugan antara akhlak dan jubah ? jubah adalah kewajiban diagamaku, sementara akhlak itu adalah kedirian manusia yang dipilihnya. Jika akhlakku baik aku bertemu Ridwan namun jika akhlakku buruk aku bertemu malik.
Aku mencoba menjelaskan ini pada dia, namun ia menolak alasan. Ia ingin pengakuan, tapi aku tak bisa. Aku takut, aku malu, aku sungkan pada manusia.
            “sulitkah permintaanku padamu ?”
            “(tak menjawab, aku tetap tertunduk dan menangis sembari berzikir dalam hati)”
Lalu ia mendekatiku, meraih tanganku namun kutepis dan menjauh, aku tak ingin disentuh lelaki, aku takut dosa, dia faham itu. dia ingin menatapku, namun kubuang pandanganku jauh dari tepi menuju ketengah tempat bergenang air yang banyak.
Salahkah aku, aku memilih untuk salah. Namun ini kehendak hatiku, semakin kutolak semakin tak terbendung, aku menangis dalam do’a dan zikirku namun aku tak berhenti salah. Akhirnya dia pergi dan meninggalkan salam yang pilu padaku. Aku tersungkur ketanah menangis seperti wanita lemah yang jatuh tak betahta.
Kemana aku harus mengadu lagi, mengadu pada Tuhan yang telah kukhianati ? aku malu. Mengadu pada manusia ? aku juga malu. Aku bagai tebuang dan terasing dinegri antahberantah. Lalu aku mengadili Tuhan dengan sejuta pertanyaa, mengapa ia mempertemukan jika ingin memisahkan, mengapa ia menciptakan jika tidak dibolehkan, aku memaksudkan cinta. Mengapa ada cinta lawan jenis jika itu dilarang. Lalu datang padaku sosok bercahaya yang melayang, aku takut tapi penasaran. Dia bersayap dan tersenyum padaku. Ia mengahapus air mataku, mengangkat daguku menyentuh tanganku dan membangkitkanku dari terduduk.
Aku berharap dia malaikat jibril, tapi aku bukan nabi. Dan aku perempuan. Ia menjelaskan padaku perkara cinta kepada lawan jenis, bahwa itu boleh saja namun Allah maha pencemburu. Maka tak boleh cintaku kepada manusia melebihi cinta kepada Allah. Lalu ia melayang mengilang dalam terang meninggalakan tenang dalam hatiku. Aku tak bersedih lagi dan aku mencoba mencerna arti kata sederhana itu.
Esoknya, aku menemui dia yang bediri ditepi sehari lalu. Dengan niat yang tekat dan sudah bulat serta dengan sholat istikharah yang khusuk semalam berangkai dengan tahajjud semalam suntuk. Kembali ketepi aku berbisik dan hening sepeti sehari lalu, namun tak berapa lama ia menoleh dan tersentak. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tak lagi ada jubah, hanya pakaian muslim sederhana dengan jilbab sederhana.
Entah ia terpana atau tertikam sampai tak dapat berkata. Aku melepas cadarku menunjukkan wajah padanya. Dan berkata bahwa aku mencintainya, dan berjanji akan memberitahukan rahasia ini kepada manusia ramai. Tapi dengan satu syarat, dia harus menikahiku sekarang. Dihadapan orang tuaku dan orang tuanya. Lalu aku memasang kembali cadarku meninggalkannya seperti yang ia lakukan kepadaku. Namun ia tak tertunduk dan menangis sepertiku, namun ia mengikuti langkahku.
Ia berbisik memanggil namaku, aku hanya tersenyum. Ia berbisik kembali lalu hening saat ia berhenti melangkah dan berkata dengan ragu bahwa ia telah dijodohkan dengan sepupu dua kali dari ayahnya. Aku tersentak dijantung, lalu bebalik, aku diam dan tertunduk lalu menangis lagi. Menghakiminya, menanyainya, mengapa ia meminta pengakuan jika ia telah dijodohkan ?
Dia menjelaskan bahwa, perjodohan itu terjadi kemarin. Ia menemuiku untuk memabawaku sebagai sanggahan. Namun semua tak berjalan sesuai dengan rencana. Sebab aku tak meyakinkannya. Kini semua harus kutelan pahit sepahit-pahitnya. Inilah mengapa cinta kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta kepada Allah, sebab cinta pada manusia ada kecewa sementara cinta kepada Allah ada hikmah.
Kini aku menjauh tak menoleh lagi kepadanya, seandai mati tanpa menikah tidak berdosa, aku takkan menikah. Kini aku menikah hanya dengan niat beribadah. Karna itulah hakikat cinta kepada Allah, semua harus bernilai ibadah.
Biarkanlah kisah ini menjadi rahasia yang suatu saat akan kurindukan. wassalam

Sabtu, 02 April 2016

KARANGAN V



“YANG MAHA PERINDU”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN

Di pembaringan terasa melayang raga ini, terayung aku dalam kantukku.Kulihat ada wajah yang menatapku, mengajakku bercanda. Aku tak faham apa yang ia katakan, tapi aku tahu ia sedang bersenda gurau denganku. Ia tersenyum menenangkanku, membuatku semakin terkantuk. Kedua tanganku menggenggam dengan keras, sejajar dengan kepalaku.Aku menguap saat wajah itu menyentuh wajahku dengan lembut.Seperti ada yang basah di pipiku, nampaknya itu jatuh dari pelupuk mata lelaki yang menciumku ini.
Dia adalah ayahku, yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya.Aku merasa sangat bersalah telah membuatnya kehilangan cintanya, cinta yang kurenggut darinya. Aku tahu, tak dapat kugantikan posisi ibuku disisinya, tapi katanya, aku bisa menjadi pelipur lara ketika ia mengingat kembali kekasihnya yang kusebut ibu.
Aku terlahir sebagai yatim, aku bukan pembunuh ibuku jika itu yang kau hakimkan padaku.Kandungan ibuku belum cukup kuat kala ingin melahirkanku.hingga mereka, orang yang sangat kusayangi sepakat untuk memilih aku yang hidup, lebih tepatnya ibuku yang merengek untuk menyelamatkanku. Meski aku hanya pernah dilihat oleh ibu melalui mesin USG, tapi ia begitu mencintaiku dan mendambakanku. Andai ibu sedikit bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk merakitku, bukan disaat janin yang dimilikinya belum cukup kuat.
Ibuku sayang, kutitipkan do’a terbaik untukmu.Aku mencintaimu, terima kasih telah membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu terenggut pergi menjauh.Dan mencintaiku dari kejauhan. Ayah sangat mencintaiku, dia selalu menemaniku saat aku terbangun dan menjerit dipenghujung malam, entah karena pantatku basah. Atau karna aku melihat sesuatu yang belum kufahami.
Ayahku yang memegang cinta sucinya untuk ibuku, tak pernah ia memalingkan cintanya dari ibuku, sampai suatu ketika saat seorang perempuan cantik mendatangiku, aku seperti mengenalnya, mungkin aku pernah melihatnya. Ia, saat aku dalam kandungan dialah orang yang mencoba untuk merenggut ayah dari ibuku, dia istri ayahku. Mereka menemukan kami dalam persembunyian ini.Ia terharu menatapku, aku tidak membencinya, aku tahu dia yang telah berjasa mengangkat keluargaku dari keterpurukan. Aini nama tante itu, ayah memperkenalkan nya sebagai mamah aini, tapi aku tak ingin memanggilnya begitu, ibuku hanya tilka dan ayahku hanya hafiz.
Tante ainilah yang merawatku, memandikanku setiap hari.Mesnyusuiku meski hanya melalui dot.Ada cinta yang dalam kulihat dari mata itu, entah itu sebuah cinta palsu, tapi rasanya sangat tulus.Ia yang mengurusi ayah ketika ayah ingin bekerja.
            “kak hafiz, anakmu sangat tampan. Alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya”
            “apakah kau membenci anakku ?”
“tidak kak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jujur. Aku tahu tak dapat menggantikan Tilka sebagai ibunya, tapi aku akan berusaha”
“terima kasih aini, karna kau telah menjadi malaikat penyelamat dalam keluargaku. Tapi maafkan aku. Aku tak dapat memberimu anak, aku takut Tilka cemburu disana, aku telah berjanji, untuk memegang teguh cintanya> itu janjiku sebelum ia mengembuskan nafas terkahirnya”
“ia aku faham kak, yang penting jangan jauhkan aku darimu lagi dan dari anakmu yang sudah kusayangi ini”
Aku terharu mendengar percakapan kedua orang yang menyayangiku itu, aku semakin merindukan ibuku, ibuku yang tak pernah kusentuh sejak aku lahir, tak pernah kerasa bagaimana puting susuhnya seperti bayi yang lain. Aku merasa tersedak rindu, dan aku tahu aku dan ayahku telah terpasung pada rindu yang sama, aku berharap kepada yang maha perindu agar mempertemukan kami disurga kelak. Aamin.
Hari demi hari berlalu, rasa cinta tante aini semakin besar kepadaku, aku tahu ia tersiksa. Saat ayah sedang bekerja, ia datang mengahmpiriku dan bercerita tentang keluh kesahnya, ia juga ingn memiliki bayi yang sepertiku. Namun, ia berharap memiliki bayi yang cantik seperti dirinya. Berderai air mata ia memulai sajak tentang harapannya kepada Tuhan, agar ayahku menghianati janjinya kepada ibu.
Semenjak  ibu meninggal, tante aini dan ayah tak pernah tidur bersama.Meski mereka masih resmi sebagai sepasang suami istri, aku tidak mengerti bagaimana cinta itu bisa membuat ayahku melakukan semua ini.Aku ingin sekuat ayahku, memegang teguh janji yang telah kubuat.Masih dalam deraian air mata, tante aini coba menceritakan bagaimana pencariannya.
Tante aini bercerita padaku, saat aku menghisap jempolku dengan lugu.Ia mengatakan, dalam pencariannya ia menjadi kurus, tak ingin makan. Ia berharap agar Tuhan segera mempertemukannya dengan ayahku. Aku iba mendengar kisah itu.Bahkan tante aini telah dilamat beberapa laki-laki yang katanya mencintainya dan lebih mapan.Tapi seteguh cinta ayah pada ibu, cintanya pada ayahku juga tak tergoyahkan.
Dalam derita pencarian, tante aini mencoba menghubungi semua kenalan ayah, namun tak satu arahpun ia temukan. Hingga saat ia bertemu dengan sinta, mantan teman ayah yang pernah ayah temui disupermarket. Ia merasa senang dan mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk menemukan ayahku. Menemukan cintanya, ia membuat tidurnya nyenyak dan makannya enak. Aku ingin segera tumbuh besar dan menemukan wanita yang bisa mencintaiku seteguh dan sekuat tante aini.Aku kagum padanya.
“anakku dayu, aku tidak pernah membenci ibumu, emmang aku yang salah karna mencintai ayahmu yang telah menjadi milik Tilka ibumu, tapi aku tak dapat membunuh cinta, ia teruz tumbuh bak rumput liar yang tidak memerlukan pupuk, mungkin ini kuasa Tuhan dan jawaban atas do’a ku untuk bertemu dengan kak hafiz ayahmu yang sangat kucinta”
Aku hanya dapat menjawab kata-kata itu dengan gelagak tawa sambil terus menggigit jemariku dengan gusi yang masih memerah.
Malam ini aku terjaga, karna seharian aku hanya tertidur setelah mendengar cerita tante aini.Aku merasa bersalah membuat ayahku ikut terjaga. Aku tahu ia sangat lelah, seharian ia bekerja untuk menafkahiku, mencukupkan giziku, ia ingin melihatku cepat tumbuh besar.
Malam ini, ayah mencoba mengajakku bercanda, agar aku lelah dan segera tertidur. Sembari ia bercerita tentang kecintaanya pada yang maha perindu. Ayah mendidikku dengan ilmu agama, ia berharap agar aku tidak menduplikat nasibnya yang tragis ini. Ia berharap aku bisa lebih dekat pada yang maha perindu. Ayahku yang kini berbeda dengan ayahku saat aku masih didalam kandungan, cobaan yang bertubi-tubi membuat ia semakin dekat denga yang maha perindu.
Antara terjaga dan terbangun, kerap kudengar do’a harmonis diiringi isak tangis ayahku. Permohonan cinta dan kerinduannya akan ibuku. Berharap Tuhan menghidupkan ibuku kembali dan mempertemukan kami bertiga, yang kuaminkan dengan tangisan menjerit tak tertahankan.Aku menangis lagi malam itu, aku menyusahkan lagi ayahku.
Dalam gendongan ayah, rasanya ingin kuluapkan semua rindu ini.Kepada yang maha perindu, jangan berikan kisah ini pada orang lain, ingatkan mereka deritaku.Aku tak ingin ada lagi wanita yang pergi sebelum berpamitan pada benihnya.Ingatkan mereka dengan larangan dosa dan nistanya zina.Agar tak ada lagi derita yang sepertiku.
Selamat pagi kebahagiaan, kucoba untuk menerima tante aini sebagai ibu titipan yang maha perindu untukku.Rasanya ingin kusadarkan ayahku, untuk merelakan janjinya kepada ibu.Tapi biarlah mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kami.
Aku mulai belajar berbicara, belajar menyebutkan abjad demi abjad.Kata pertama yang berani kuucapkan adalah mamamaama, meski aku dalam gendongan tante aini atau kini aku menyebutnya mama aini, tapi kata itu sejujurnya untuk ibu kandungku Tilka.Seperti air yang tak dapat tersayat, seperti itupulah cintaku pada ibuku.
Ayahku yang kusayang, berdo’alah senantiasa kepada yang maha perindu, agar rindu ayah dapat sampai pada ibu.Dan beritahukan pada ibu dalam do’amu bahwa aku telah terlahir dengan cinta dan kasih sayang yang cukup darimu.
“selesai”