"
Makna yang lain"
Bangkit dari kemarin, keretaku sudah tiba, gerbong kosong yang isinya hanya aku. Dipesan khusus dengan tiket vip firstclass, tak ada yang menyangka. Aku duduk dipojok dengan do'a yang tak pernah putus. Berharap kakiku tak gemetar dihantar angin menujumu. Aku terkejut saat pintu terbuka, rupanya aku sudah tiba pada penantianmu, pada rindumu, hangat pelukmu meruntuhkan air mata kita. Mengapa kau dekap aku erat, mengapa kau rangkul aku mesrah, mengapa tanganmu mencengkram. Mengapa engkau senyum dan menangis bersamaan ? Kau dan bisikmu sama lembutnya, pada telinga yang telah mendengar sejuta warna suara. Benarkah aku telah mendekap dua raga, aku merasa sangat sempurnah, merasa dilengkapkan oleh Tuhan. Kau mengandung harapan besar, cita cita kita berdua akan segera diwujud nyata. Pada apa yang selalu kau harapkan, aku juga mengharapkan. Kembali kudekap ragamu, lebih erat dari pelukmu padaku, sampai kau susah bernafas, kembali mencengkramku dengan kuat, aku masih saja memelukmu dengan erat saat nafasmu tak bisa lagi kau atur, semakin keras kau berteriak semakin erat pula aku memeluk, tak ada sesiapa yang mendengar, pertemuan ini sangat intim dan privasi, sehingga tak ada sesiapa akan mendengarmu menjerit. Semakin ganas saja kau mencakar wajahku yang tak berkutik sedikitpun, dengan tatapan datar dan tanpa suara. Aku mengakhiri cinta kita disini dengan caraku. Yah, aku memanglah kejam jika kau menganggapku demikian, aku memanglah tak berperasa jika tuduhanmu seperti itu. Tapi jika kau menganggap aku tak mencintaimu, itu terlalu keliru untuk dibenarkan. Aku teramat dalam mencintaimu, bahkan mengalahkan cintaku pada diriku sendiri, kupaksa ragaku mengais rezeki untuk kita setiap hari. Kususun rencana agar masa depan kita bahagia. Tapi maaf aku mengakhiri cinta kita.
Sepuluh bulan lalu aku mendekapmu erat ditempat ini, tangismu sama derasnya seperti hari ini, seperti tak rela melepas pisah dua raga ini. Aku harus meninggalkanmu agar cita cita kita tercapai. Kini aku kembali untuk mewujudkannya, namun kau paksa aku kecewa, sangat dalam hingga air mataku menolak jatuh untukmu. Benih itubtak mungkin milikku dan cintaku pasti telah lama runtuh dihatimu. Dan otakku memaksa ragaku untuk mengakhiri cinta kita. Kemudian kulepas dekapanku perlahan, bersamaan dengan air mataku yang jatuh dengan tulus dari hatiku, kini engkau jatuh dan tak bisa mencintaiku lagi.
Sastra Pinggiran
SOENARDIN AL-IMAN UNHAS 013 Sastra Indonesia hobby music, menulis,nyanyi, dan jomblo sampai halal
Jumat, 08 November 2019
Selasa, 27 Desember 2016
Canda mata
“CANDA MATA”
PENULIS
: SOENARDIN AL-IMAN
Ada
yang merangkulku mesrah pagi ini, terasa hangat jemari lembut itu, menyentuh
badanku dengan lembut. Menjelajahi dadaku yang penuh resah, mengangkat daguku
memaksaku berpaling padanya dan meniti senyum sejengkal dari senyumnya. Aku
menatapnya dalam seolah aku mampu membaca fikirnya, bahwa ia tak bisa pergi, ia
ingin tinggal disini menutup hari disaat sore menjadi gelap dan temaram.
Tapi
aku tak bisa, ia akan mneyiksaku jika kubiarkan tinggal, ia akan mencabikku dengan
kejam, membuatku terluka dalam. Bukannya aku tega, tapi ia akan lebih tega dari
aku, dia lebih tak berperikemanusiaan daripada aku.
Dia
tak berwujud nyata memang, namun ia dapat menikamku dengan kejam tepat
dijantungku, “rindu” yah, dia memang hanya sekedar rindu yang menggelayutiku
sepanjang pagi, bahkan mungkin sepanjag nafasku semenjak aku mengenal perempuan
yang mengenalkan aku pada-nya (pada rindu).
Perempuan
yang entah datangnya dari mana, entah apa yang ia bawakan untukku sehingga aku
menantinya. Sebenarnya ini rumit, tapi akan kujelaskan sedikit lebih mudah.
Maryam adalah perempuan yang kukagumi selama ini, tapi waktu tak pernah
bersahabat denganku. Sebab aku tak pernah datang diwaktu yang tepat, mungkin
waktu tak merestui atau mungkin takdir ingi bercerita lain.
Mar,
aku tahu hatinya, aku kenal gelagaknya, ia memendam rindu yag sama terhadapku.
Tapi aku tak bisa memaksa diri, aku tak ingin merusak apa yang sudah indah, apa
yang memang sepatutnya tidak aku usik. Rumah cinta mar yang ia bangun dari
kesedihan masa lalunya, dari lelaki yang pernah menghianatinya kini perlahan
mengindah bersama lelaki yag kini mendampinginya. Sebab itulah tak sudi aku
merusakkan apa yang sudah kuanggap benar itu, meski aku harus tersiksa batin
menahan rindu yang memelukku setiap pagi.
Hari
ini, aku menatapnya tajam di perjalanan, hanya senyum sebatas diam yang
terpapar diantara kami. Tapi tahukah kalian, ada canda mata yang sedang kami
rangkai dalam dialog diam itu. Dimana seluruh tubuhku seolah ikut berkata bahwa
aku ingin merangkul senyummu, memasukkannya kedalam toples lalu kubawaa pulang.
Kemudian akan kubawa kelaboratorium agar aku tau apa kandungan yang membuat
senyummu menyamankan pandangan.
Oh
mar, biarkan cerita ini menjadi sebatas cerita. Apapun harapan mu, dan apapun
harapanku mari kita berharap agar Tuhan berharap sama dengan kita.
Selasa, 08 November 2016
Kehilangang sajak
Oleh :BangSunan
Aku ingin menulis puisi.
Beri aku sebatang pena dan fatis untuk menulis
Aku ragu ini akan merambat menggetarkan denyutmu
Aku bimbang menimbang fonemik yang mer-ubah-ubah mimik
Kukais sarkais luapan emosi diurat kening yang meluap
Sampai meretak ujung pena aku mengganas mengoyak kertas
Menggigit kuku aku menyudut disudut samping lemariku
Sirnah sudah kepekaan, keharmonian, keromantisan
Bak terdampar diruang hampa, aku tergenang tak lagi dikenang.
Minggu, 06 November 2016
Sebuah puisi, sebuah cerita
Sebuah puisi, sebuah cerita !
Oleh : Bang Sunan
Lekas membekas seberkas ingatan
Gelas meretas membias tangisan
Sudah, lupakan saja, konon itu hanya cerita
Sedihlah sesekali, asal jangan berkali-kali.
Pulas tergilas, sekilas lupakan
Segelas terperas, mengeras pujian.
Cukup sudah menjadi tabu, konon jika itu benar derita.
Akan mendapat hikmah tepat dari penjaga jagat.
Jumat, 04 November 2016
Tangkai Rangkaian Puisi
Irama sirkandia
Puisi inspirasi : calon Dokter Eva F.Syarif
Perangkai kata : #Bang Sunan
Mari menulis ritme irama sirkandia setiap harimu
Lalu lalang orang hilang dan datang menghadapmu
Berbelas gelas memelas diatas meja melingkarmu
Sepotong hatimu kosong tak terisi menjadi ruang hampa
Kau memanggil niat untuk menutup itu ruang hampa
Namun waktu belum mengizinkan kata menuai makna
sebelum aku yang memang engkau tunggu datang mengisinya.
Puisi inspirasi : calon Dokter Eva F.Syarif
Perangkai kata : #Bang Sunan
Mari menulis ritme irama sirkandia setiap harimu
Lalu lalang orang hilang dan datang menghadapmu
Berbelas gelas memelas diatas meja melingkarmu
Sepotong hatimu kosong tak terisi menjadi ruang hampa
Kau memanggil niat untuk menutup itu ruang hampa
Namun waktu belum mengizinkan kata menuai makna
sebelum aku yang memang engkau tunggu datang mengisinya.
Senin, 30 Mei 2016
karangan VI
RAHASIA
RINDU
Cepen
karangan : Sunan (Soenardin Al-iman)
Ini
adalah kisah nyata, dan senyata-nyatanya kisah, kisah tetaplah kisah. Aku
menceritakan tentang aku dalam kenyataan kisah yang siap kau simaki. Aku
berlari mengibaskan kain penutup
badanku, terbang dihempas angin semerbak subuh. Aku mencoba menahan hembusan
angin yang hendak manarik untaian benang pelindung wajahku.
Sembari terus berzikir dan mengingat Tuhan aku berlari sampai subuh berpamitan
padaku.
Kusimpul
nafasku agar menyatu dan tenang, mencoba memelangkan langkahku menuju tepi. Aku
memanggil dengan bisik, berbisik kemudian hening, kemudian berbisik lagi
mencoba mengusir hening sampai jauh. Kudekati tepi tempat berdirinya, lalu
berbisik lagi kemudian hening lagi. Lalu dia berteriak seolah ingin menerkamku,
bibirku memelatih Saat wajahnya memawar. Tak kuasa telingaku mendengar hingga
mataku melara menetaskan air lampiasan duka.
Bersyahadat
dan berzikir dalam hati, meski menangis aku merayu kepada Tuhan agar mengampuni
dosaku, aku takut ini sebab dosaku, ini hukumanku di dunia, lalu bagaimana
perihnya hukuman dunia kekal kelak. Tapi itu didalam hatiku, di lisan yang
terucap adalah memohon pengampunan dari dia yang berdiri ditepi yang wajahnya
memawar ingin menerkamku dengan makian sederhana namun perih.
Salahkah
aku, aku memilih untuk salah. Menerimanya dalam hati namun menolaknya dalam
nyata. Aku tak berani berkata jujur kepada manusia bahwa aku telah
menjadikannya kekasih. Aku takut buruk dimata mereka. Aku takut jubahku
dikaitkan dengan akhlakku. Tapi apa hubugan antara akhlak dan jubah ? jubah
adalah kewajiban diagamaku, sementara akhlak itu adalah kedirian manusia yang
dipilihnya. Jika akhlakku baik aku bertemu Ridwan namun jika akhlakku buruk aku
bertemu malik.
Aku
mencoba menjelaskan ini pada dia, namun ia menolak alasan. Ia ingin pengakuan,
tapi aku tak bisa. Aku takut, aku malu, aku sungkan pada manusia.
“sulitkah permintaanku padamu ?”
“(tak menjawab, aku tetap tertunduk
dan menangis sembari berzikir dalam hati)”
Lalu
ia mendekatiku, meraih tanganku namun kutepis dan menjauh, aku tak ingin
disentuh lelaki, aku takut dosa, dia faham itu. dia ingin menatapku, namun
kubuang pandanganku jauh dari tepi menuju ketengah tempat bergenang air yang
banyak.
Salahkah
aku, aku memilih untuk salah. Namun ini kehendak hatiku, semakin kutolak
semakin tak terbendung, aku menangis dalam do’a dan zikirku namun aku tak
berhenti salah. Akhirnya dia pergi dan meninggalkan salam yang pilu padaku. Aku
tersungkur ketanah menangis seperti wanita lemah yang jatuh tak betahta.
Kemana
aku harus mengadu lagi, mengadu pada Tuhan yang telah kukhianati ? aku malu.
Mengadu pada manusia ? aku juga malu. Aku bagai tebuang dan terasing dinegri
antahberantah. Lalu aku mengadili Tuhan dengan sejuta pertanyaa, mengapa ia
mempertemukan jika ingin memisahkan, mengapa ia menciptakan jika tidak
dibolehkan, aku memaksudkan cinta. Mengapa ada cinta lawan jenis jika itu
dilarang. Lalu datang padaku sosok bercahaya yang melayang, aku takut tapi
penasaran. Dia bersayap dan tersenyum padaku. Ia mengahapus air mataku,
mengangkat daguku menyentuh tanganku dan membangkitkanku dari terduduk.
Aku
berharap dia malaikat jibril, tapi aku bukan nabi. Dan aku perempuan. Ia
menjelaskan padaku perkara cinta kepada lawan jenis, bahwa itu boleh saja namun
Allah maha pencemburu. Maka tak boleh cintaku kepada manusia melebihi cinta
kepada Allah. Lalu ia melayang mengilang dalam terang meninggalakan tenang
dalam hatiku. Aku tak bersedih lagi dan aku mencoba mencerna arti kata
sederhana itu.
Esoknya,
aku menemui dia yang bediri ditepi sehari lalu. Dengan niat yang tekat dan
sudah bulat serta dengan sholat istikharah yang khusuk semalam berangkai dengan
tahajjud semalam suntuk. Kembali ketepi aku berbisik dan hening sepeti sehari
lalu, namun tak berapa lama ia menoleh dan tersentak. Ia seolah tak percaya
dengan apa yang ia lihat. Tak lagi ada jubah, hanya pakaian muslim sederhana
dengan jilbab sederhana.
Entah
ia terpana atau tertikam sampai tak dapat berkata. Aku melepas cadarku
menunjukkan wajah padanya. Dan berkata bahwa aku mencintainya, dan berjanji
akan memberitahukan rahasia ini kepada manusia ramai. Tapi dengan satu syarat,
dia harus menikahiku sekarang. Dihadapan orang tuaku dan orang tuanya. Lalu aku
memasang kembali cadarku meninggalkannya seperti yang ia lakukan kepadaku.
Namun ia tak tertunduk dan menangis sepertiku, namun ia mengikuti langkahku.
Ia
berbisik memanggil namaku, aku hanya tersenyum. Ia berbisik kembali lalu hening
saat ia berhenti melangkah dan berkata dengan ragu bahwa ia telah dijodohkan
dengan sepupu dua kali dari ayahnya. Aku tersentak dijantung, lalu bebalik, aku
diam dan tertunduk lalu menangis lagi. Menghakiminya, menanyainya, mengapa ia
meminta pengakuan jika ia telah dijodohkan ?
Dia
menjelaskan bahwa, perjodohan itu terjadi kemarin. Ia menemuiku untuk
memabawaku sebagai sanggahan. Namun semua tak berjalan sesuai dengan rencana.
Sebab aku tak meyakinkannya. Kini semua harus kutelan pahit sepahit-pahitnya.
Inilah mengapa cinta kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta kepada
Allah, sebab cinta pada manusia ada kecewa sementara cinta kepada Allah ada hikmah.
Kini
aku menjauh tak menoleh lagi kepadanya, seandai mati tanpa menikah tidak
berdosa, aku takkan menikah. Kini aku menikah hanya dengan niat beribadah.
Karna itulah hakikat cinta kepada Allah, semua harus bernilai ibadah.
Biarkanlah
kisah ini menjadi rahasia yang suatu saat akan kurindukan. wassalam
Sabtu, 02 April 2016
KARANGAN V
“YANG MAHA PERINDU”
CERPEN
KARANGAN : SOENARDIN AL-IMAN
Di
pembaringan terasa melayang raga ini, terayung aku dalam kantukku.Kulihat ada
wajah yang menatapku, mengajakku bercanda. Aku tak faham apa yang ia katakan,
tapi aku tahu ia sedang bersenda gurau denganku. Ia tersenyum menenangkanku,
membuatku semakin terkantuk. Kedua tanganku menggenggam dengan keras, sejajar
dengan kepalaku.Aku menguap saat wajah itu menyentuh wajahku dengan
lembut.Seperti ada yang basah di pipiku, nampaknya itu jatuh dari pelupuk mata
lelaki yang menciumku ini.
Dia
adalah ayahku, yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya.Aku merasa sangat
bersalah telah membuatnya kehilangan cintanya, cinta yang kurenggut darinya.
Aku tahu, tak dapat kugantikan posisi ibuku disisinya, tapi katanya, aku bisa
menjadi pelipur lara ketika ia mengingat kembali kekasihnya yang kusebut ibu.
Aku
terlahir sebagai yatim, aku bukan pembunuh ibuku jika itu yang kau hakimkan
padaku.Kandungan ibuku belum cukup kuat kala ingin melahirkanku.hingga mereka,
orang yang sangat kusayangi sepakat untuk memilih aku yang hidup, lebih
tepatnya ibuku yang merengek untuk menyelamatkanku. Meski aku hanya pernah
dilihat oleh ibu melalui mesin USG, tapi ia begitu mencintaiku dan
mendambakanku. Andai ibu sedikit bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk
merakitku, bukan disaat janin yang dimilikinya belum cukup kuat.
Ibuku
sayang, kutitipkan do’a terbaik untukmu.Aku mencintaimu, terima kasih telah
membiarkanku hidup dengan merelakan hidupmu terenggut pergi menjauh.Dan
mencintaiku dari kejauhan. Ayah sangat mencintaiku, dia selalu menemaniku saat
aku terbangun dan menjerit dipenghujung malam, entah karena pantatku basah.
Atau karna aku melihat sesuatu yang belum kufahami.
Ayahku
yang memegang cinta sucinya untuk ibuku, tak pernah ia memalingkan cintanya
dari ibuku, sampai suatu ketika saat seorang perempuan cantik mendatangiku, aku
seperti mengenalnya, mungkin aku pernah melihatnya. Ia, saat aku dalam
kandungan dialah orang yang mencoba untuk merenggut ayah dari ibuku, dia istri
ayahku. Mereka menemukan kami dalam persembunyian ini.Ia terharu menatapku, aku
tidak membencinya, aku tahu dia yang telah berjasa mengangkat keluargaku dari
keterpurukan. Aini nama tante itu, ayah memperkenalkan nya sebagai mamah aini,
tapi aku tak ingin memanggilnya begitu, ibuku hanya tilka dan ayahku hanya
hafiz.
Tante
ainilah yang merawatku, memandikanku setiap hari.Mesnyusuiku meski hanya
melalui dot.Ada cinta yang dalam kulihat dari mata itu, entah itu sebuah cinta
palsu, tapi rasanya sangat tulus.Ia yang mengurusi ayah ketika ayah ingin
bekerja.
“kak hafiz, anakmu sangat tampan.
Alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya”
“apakah kau membenci anakku ?”
“tidak
kak, aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jujur. Aku tahu tak dapat
menggantikan Tilka sebagai ibunya, tapi aku akan berusaha”
“terima
kasih aini, karna kau telah menjadi malaikat penyelamat dalam keluargaku. Tapi
maafkan aku. Aku tak dapat memberimu anak, aku takut Tilka cemburu disana, aku
telah berjanji, untuk memegang teguh cintanya> itu janjiku sebelum ia
mengembuskan nafas terkahirnya”
“ia
aku faham kak, yang penting jangan jauhkan aku darimu lagi dan dari anakmu yang
sudah kusayangi ini”
Aku
terharu mendengar percakapan kedua orang yang menyayangiku itu, aku semakin
merindukan ibuku, ibuku yang tak pernah kusentuh sejak aku lahir, tak pernah
kerasa bagaimana puting susuhnya seperti bayi yang lain. Aku merasa tersedak
rindu, dan aku tahu aku dan ayahku telah terpasung pada rindu yang sama, aku
berharap kepada yang maha perindu agar mempertemukan kami disurga kelak. Aamin.
Hari
demi hari berlalu, rasa cinta tante aini semakin besar kepadaku, aku tahu ia
tersiksa. Saat ayah sedang bekerja, ia datang mengahmpiriku dan bercerita tentang
keluh kesahnya, ia juga ingn memiliki bayi yang sepertiku. Namun, ia berharap
memiliki bayi yang cantik seperti dirinya. Berderai air mata ia memulai sajak
tentang harapannya kepada Tuhan, agar ayahku menghianati janjinya kepada ibu.
Semenjak ibu meninggal, tante aini dan ayah tak pernah tidur bersama.Meski
mereka masih resmi sebagai sepasang suami istri, aku tidak mengerti bagaimana
cinta itu bisa membuat ayahku melakukan semua ini.Aku ingin sekuat ayahku,
memegang teguh janji yang telah kubuat.Masih dalam deraian air mata, tante aini
coba menceritakan bagaimana pencariannya.
Tante
aini bercerita padaku, saat aku menghisap jempolku dengan lugu.Ia mengatakan,
dalam pencariannya ia menjadi kurus, tak ingin makan. Ia berharap agar Tuhan
segera mempertemukannya dengan ayahku. Aku iba mendengar kisah itu.Bahkan tante
aini telah dilamat beberapa laki-laki yang katanya mencintainya dan lebih
mapan.Tapi seteguh cinta ayah pada ibu, cintanya pada ayahku juga tak
tergoyahkan.
Dalam
derita pencarian, tante aini mencoba menghubungi semua kenalan ayah, namun tak
satu arahpun ia temukan. Hingga saat ia bertemu dengan sinta, mantan teman ayah
yang pernah ayah temui disupermarket. Ia merasa senang dan mencoba mengerahkan
seluruh tenaganya untuk menemukan ayahku. Menemukan cintanya, ia membuat
tidurnya nyenyak dan makannya enak. Aku ingin segera tumbuh besar dan menemukan
wanita yang bisa mencintaiku seteguh dan sekuat tante aini.Aku kagum padanya.
“anakku
dayu, aku tidak pernah membenci ibumu, emmang aku yang salah karna mencintai
ayahmu yang telah menjadi milik Tilka ibumu, tapi aku tak dapat membunuh cinta,
ia teruz tumbuh bak rumput liar yang tidak memerlukan pupuk, mungkin ini kuasa
Tuhan dan jawaban atas do’a ku untuk bertemu dengan kak hafiz ayahmu yang sangat
kucinta”
Aku
hanya dapat menjawab kata-kata itu dengan gelagak tawa sambil terus menggigit
jemariku dengan gusi yang masih memerah.
Malam
ini aku terjaga, karna seharian aku hanya tertidur setelah mendengar cerita
tante aini.Aku merasa bersalah membuat ayahku ikut terjaga. Aku tahu ia sangat
lelah, seharian ia bekerja untuk menafkahiku, mencukupkan giziku, ia ingin
melihatku cepat tumbuh besar.
Malam
ini, ayah mencoba mengajakku bercanda, agar aku lelah dan segera tertidur.
Sembari ia bercerita tentang kecintaanya pada yang maha perindu. Ayah
mendidikku dengan ilmu agama, ia berharap agar aku tidak menduplikat nasibnya
yang tragis ini. Ia berharap aku bisa lebih dekat pada yang maha perindu.
Ayahku yang kini berbeda dengan ayahku saat aku masih didalam kandungan, cobaan
yang bertubi-tubi membuat ia semakin dekat denga yang maha perindu.
Antara
terjaga dan terbangun, kerap kudengar do’a harmonis diiringi isak tangis
ayahku. Permohonan cinta dan kerinduannya akan ibuku. Berharap Tuhan
menghidupkan ibuku kembali dan mempertemukan kami bertiga, yang kuaminkan dengan
tangisan menjerit tak tertahankan.Aku menangis lagi malam itu, aku menyusahkan
lagi ayahku.
Dalam
gendongan ayah, rasanya ingin kuluapkan semua rindu ini.Kepada yang maha
perindu, jangan berikan kisah ini pada orang lain, ingatkan mereka deritaku.Aku
tak ingin ada lagi wanita yang pergi sebelum berpamitan pada benihnya.Ingatkan
mereka dengan larangan dosa dan nistanya zina.Agar tak ada lagi derita yang
sepertiku.
Selamat
pagi kebahagiaan, kucoba untuk menerima tante aini sebagai ibu titipan yang
maha perindu untukku.Rasanya ingin kusadarkan ayahku, untuk merelakan janjinya
kepada ibu.Tapi biarlah mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk
kami.
Aku
mulai belajar berbicara, belajar menyebutkan abjad demi abjad.Kata pertama yang
berani kuucapkan adalah mamamaama, meski aku dalam gendongan tante aini atau
kini aku menyebutnya mama aini, tapi kata itu sejujurnya untuk ibu kandungku
Tilka.Seperti air yang tak dapat tersayat, seperti itupulah cintaku pada ibuku.
Ayahku
yang kusayang, berdo’alah senantiasa kepada yang maha perindu, agar rindu ayah
dapat sampai pada ibu.Dan beritahukan pada ibu dalam do’amu bahwa aku telah
terlahir dengan cinta dan kasih sayang yang cukup darimu.
“selesai”
Langganan:
Komentar (Atom)




